Friday, 20 July 2018

Focus Group Discussion (FGD) Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram Tahun 2018

Written by  Published in Archive Tuesday, 03 July 2018 02:55
Rate this item
(0 votes)

 

M A T A R A M  -   Dr. Ni Luh Sustiawati, M.Pd merupakan Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang di undang oleh Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram sebagai Narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Prodi Pendidikan dan Budaya Keagamaan Hindu dengan Tema “Prospek Pengembangan Prodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram” Senin, 02 Juli 2018 di Gedung Rektorat Lantai II Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram Jalan Pancaka No. 7 B Mataram.

Inti Pokok Materi yang di sampaikan oleh Dr. Ni Luh Sustiawati, M.Pd adalah dimulai dari definisi apa itu seni dan pendidikan itu apa? Seni merupakan segala manifestasi batin dan pengalaman estetis dengan menggunakan media bidang, garis, warna, tekstur, volume dan gelap terang atau ungkapan perasaan pencipta yanng disampaikan kepada orang lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan pelukis. Sedangkan Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan menyiapkan peserta peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang (UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Pendidikan seni merupakan pemahaman estetika (keindahan) dan pengungkapan kembali estetika dalam sebuah karya seni. Memahami estetika merupakan peristiwa memasukkan estetika melalui pengindraan rasa dan pikir untuk mengobyektifikasikan.

            Beliau juga memaparkan tujuan dan fungsi dari pendidikan seni yaitu (1) Mengembangkan sensitivitas persepsi indriawi pada anak melalui pengalaman yang kreatif sesuai karakter dan jenjang perkembangan pada pendidikan, (2) Memberikan stimulus pada anak pada pertumbuhan ide-ide yang imajinatif dan dapat menemukan berbagai penemuan atau gagasan yang kreatif dalam memecahkan masalah artistik atau estetik melalui proses eksplorasi, kreasi, presentasi dan apresepsi sesuai minat dan potensi diri yang dimiliki anak di tiap jenjang pendidikan, (3) Mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan kesenian dengan disiplin ilmu lain yang serumpun atau tidak serumpun melalui berbagai pendekatan keterpaduan yang sesuai karakter keilmuannya, (4) Dapat mengembangkan kemampuan untuk berapresiasi seni dalam konteks sejarah dan dapat menghargai berbagai macam budaya lokal juga global, sebagai sarana pembentukan saling toleransi dan demokratis dalam masyarakat yang majemuk.

            Narasumber yang kedua Dr. Ni Made Ruastiti, SST., M.Si merupakan Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang di undang oleh Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram sebagai Narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Prodi Pendidikan dan Budaya Keagamaan Hindu dengan Tema “Prospek Pengembangan Prodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram” Senin, 02 Juli 2018 di Gedung Rektorat Lantai II Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram Jalan Pancaka No. 7 B Mataram.

Inti Pokok Materi yang di sampaikan oleh Dr. Ni Made Ruastiti, SST., M.Si adalah dimulai dari definisi apa itu seni dan pendidikan itu apa? Seni merupakan segala manifestasi batin dan pengalaman estetis dengan menggunakan media bidang, garis, warna, tekstur, volume dan gelap terang atau ungkapan perasaan pencipta yanng disampaikan kepada orang lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan pelukis. Seni Sakral kadang-kadang diberi istilah estetika. Yang mana kata seni sakral berasal dari dua kata yakni seni dan sakral, Kata “seni” artinya karya manusia yang mengandung unsur indah serta menarik perhatian orang lain yang melihatnya, sedangkan kata “sakral” didalam Bahasa Inggris yang disebut “sacred” yang artinya suci, tenget, angker, dan pasupati. Jadi berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa “Seni Sakral” merupakan suatu karya seni yang disucikan oleh pendukungnya, pemeluknya, maupun penyungsungnya untuk dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Yang biasanya hanya dipentaskan pada saat pelaksanaan suatu Yajna dan disesuaikan dengan keperluannya. Dimana seni sakral tersebut tidak dapat dipentaskan pada sembarang tempat, waktu atau media. Misalnya Tari Rejang di Bali memiliki kekayaan kesenian yang jelas berhubungan dengan kepercayaan. Kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang beragama Hindu seolah-olah tidak dapat dipisahkan dengan unsur-unsur kebudayaan dan kesenian. Persembahan tersebut dengan bentuk sesaji dengan penuh kecermatan dalam pemilihan bahan-bahan sesaji, nampak menyajikan simbol-simbol yang bersifat ekspresif dengan rasa estetik dan penataan artistik. Upacara keagamaan yang lebih besar yang banyak dilakukan setiap tahunnya di pura-pura yang sakral, suasana kehadiran seni, khususnya seni tari sangatlah menonjol. Sebagian besar seni pertunjukan tari atau drama ada hubungannya dengan upacara ritual. Misalnya tarian wali yang memiliki sifat suci, dipertunjukan dalam hubungannya untuk memperkuat kepercayaan dan memformulasikan konsepsi agama mengenai konsepsi kehidupan manusia.

 

 

 

 

Read 101 times