Sunday, 22 April 2018

Peradaban Lembah Sungai Sindhu

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Thursday, 06 March 2014 07:27
Rate this item
(0 votes)

India merupakan salah satu peradaban yang sangat tua dan memiliki hasil kebudayaan yang luar biasa. Mengenai unsur kebudayaan, dalam bukunya pengantar Ilmu Antropologi, Koenjtaraningrat, mengambil sari dari berbagai kerangka yang disusun para sarjana Antropologi, mengemukakan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia yang kemudian disebut unsur-unsur kebudayaan universal, antaralain : Bahasa, Sistem Pengetahuan, Organisasi Sosial, Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi, Sistem Mata Pencaharian, Sistem Religi, Kesenian (http://goyangkarawang.com/2010/03/definisi-wujud-dan-unsur-kebudayaan). Sehingga Salah satu dari tujuh unsur kebudayaan adalah sistem relegi atau agama. Dalam hal ke agamaan India telah menghasilkan beberapa agama besar di dunia diantaranya Hindu, Budha, Jaina, dan Sihk. Agama Hindu seolah-olah menjadi titik tolak diantara agama yang lain. Budha dan Jaina muncul akibat protes terhadap Agama Hindu sekitar abad ke 5 SM. Sihk muncul akibat akulturasi yang terjadi antara Hindu dan Islam pada sekitar abad 16.

Agama Hindu disebut juga Sanātana Dharma "Kebenaran Abadi" dan Vaidika-Dharma "Pengetahuan Kebenaran" adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul sebagai sebuah agama sehingga masih dikenal ajaran Weda saja (http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_hindu)

Atas dasar diatas india hanya dikenal sebagai produk agama tertua yaitu Hindu (Brahmanisme) dengan prasasti abadinya yaitu kitab  Weda yang perlahan namun pasti disebut sebagai Agama Hindu. Namun pada tahun 1920 menjadi sebuah peristiwa yang sangat penting saat di adakanya pengalian besar di Mahenjodarro dan Harappa yang ditemukan bukti baru bahwa terdapat kebudayaan yang cukup maju sebelum bangsa Arya mengembangkan kebudayaannya di India. Demikian India menjadi disamakan dan disederajatkan dengan kebbudayaan kuno lainya seperti Mesir dan Siriyah.

Untuk itu sangat menarik kiranya kita mempelajari lebih jauh tentang kebudayaan India pada masa Peradaban Lemah Sungai Sindu  dengan berbagai hasil kebudayaannya baik tentang arkeologinya maupun sistem sosialnya.

 

 

PEMBAHASAN

1.      ZAMAN PRA SEJARAH

a.      Zaman Batu

 Peradaban manusia umumnya terbagi dalam perioidesasi Pra Sejarah dan Sejarah. Pra Sejarah merupakan peradaban manusia yang dapat ditemukan sebelum dikenalnya tulisan, sedangkan masa Sejarah ditandai dengan ditemukanya tulisan. Masa pra sejarah di India dapat dilihat melalui penemuan-penemuan arkeologi oleh para sarjana yang menunjukan adanya aktivitas manusia. Bukti adanya aktivitas tersebut adalah ditemukanya sejumlah alat atau perkakas yang digunakan pada masa itu. Alat-alat tersebut mencerminkan proses tingkat kemajuan dari sebuah peradaan.

Alat atau perkakas yang digunakan pada masa ini adalah batu dan logam. Pada zaman batu terbagi menjadi dua yaitu zaman batu tua dan baru. Zaman batu tua atau Paleolitik terdapat pengunaan batu kasar sebagai alat untuk berburu maupun untuk memotong. Zaman batu muda atau Neolitik berjarak sekirat seribu tahun dari zaman batu tua perbedaannya adalah pada masa ini pengunaan batu sudah mulai di bentuk, diasah bahkan dipoles. Kemudian dilanjutkan dengan zaman logam yang didahului dengan pemanfaatan emas yang kemudian dilanjutkan dengan pengunaan logam keras seperti tembaga.

Zaman Paleolitik atau Batu Tua, pada zaman ini batu digunakan sebagai peralatan maupun senjata untuk berburu binatang liar atau untuk memotong dan mengali sesuatu. Batu yang biasa digunakan adlah batu keras atau dinamakan batu Kuarsit. Batu-batu tersebut telah ditemukan di daerah Madhya Prades. Inilah yang menjadi bukti utama bahwa di India terdapat manusia pertama yang menghuni India dengan mengunakan perkakas dari batu dan belum mengenal logam. Kehidupan manusia pada zaman ini masihlah nomaden atau belum mempunyai tempat tinggal tetap ataupun mengenal pertanian. Kehidupannya masih mengandalkan dari hasil yang di dapat alam seperti berburu binatang maupun makan sayur maupun buah yang ada di dalam hutan.

Zaman Neolitik atau Batu Baru, selang seribu tahun berangsur-angsur mengalami perkembangan walaupun tidak cepat, tapi inilah yang menandakan bedanya manusia dengan binatang. Walaupun belum mengenal logam namun peralatan yang dipakai berbeda dengan masa sebelunya. Pengunaan batu tidak hanya mengunakan batu kuarsit dan dari segi bentuknya sudah mengalami perkembangan disesuaikan dengan funsi alat tersebut serta pengerjaanya menjadi lebih halus karena terdapat beberapa alat yang dipoles. Kemajuan dalam hal kehidupanya juga mulai nampak dengan bukti mulai mengenal bercocok tanam atau pertanian. Selain itu juga sudah mulai mengembangkan budidaya ternak dengan memelihara hewan-hewan seperti sapi, anjing, lembu jantan, dan kambing. Mereka juga sudah mengenal seni membuat api, senjata panah, membuat tembikar, melukir, memintal dan menenun pakaian dan mengubur jenasah mengunakan Dolmen.

 

b.      Zaman Logam

Fase zaman neolitikum kemudian digantikan dengan zaman logam. Pada zaman ini yang menarik perhatian pertama adalah emas kemudian bergeser ke logam yang lebih keras seperti tembaga. Namun tidak ada keseragaman dalam pengunaan logam di seluruh dataran India. Benda-benda tembaga banyak ditemukan di India bagian utara seperti Uttara Prades. Sedangkan dibagian India bagian selatan zaman batu sepertinya langsung digantikan dengan zaman logam terutama besi. Ditengarai bahwa bangsa Arya yang memperkenalkan adanya seni mengunakan besi.

Pada zaman ini ditemukan berbagai jenis benda seperi kapak, pedang, tombak, pemahat senjata dan ornamen-ornamen. Terdapatnya alat-alat yang terbuat dari tembag dan besi mengindikasikan bahwa kemajuan kehidupan masyarakatnya sudah mulai berkembang dari masyarakat nomaden yang mengandalkan kehidupan berburu menjadi masyarakat yang mengandalkan pertanian.

 

2.      SUKU-SUKU BANGSA

Dataran dunia pada masa ribuan tahun yang lalu berbeda dengan masa sekarang. Banyak pulau maupun benua yang dulunya saling terhubung satu dengan yang lainya dan kini terpisah oleh lautan. Begitu juga dataran India ditengarai ribuan tahun yang lalu terhubung dengan Afrika bahkan dengan Australia.terbukti dengan ditemukanya beberapa sisa peningalan yang sama ditemukan diwilayah yang terpisah oleh lautan bahkan di tengah lautan.

Tidak dapat di tentukan secara pasti kapan india mulai dihuni oleh manusia namun menurut beberapa ahli India dihuni oleh ras yang berbeda sejak ribuan tahun yang lalu dengan mengacu pada ciri-ciri fisik yang masih bisa diamati dari peninggalan berupa sisa keragka manusia di daerah Harappa. Menurut Dr. B.S Guha terdapat sekitar enam macam bangsa yang memberi konstribusi dan mmbangun popolasi India.

1.      Negrito, imigran dari Afrika yang sekarang hampir punah keberadaannya, namun masih bisa dijumpai sekelompok kecil di daerah Andaman dan jejak ras ini juga dapat ditemukan di Kadars dan Palayans didaerah Cochin dan Travancore, Naga didaerah Assam, dan beberapa suku terasing di India. Mereka umumnya berkulit hitam.

2.      Proto-Austaloid, datang dari arah barat sebagai salah satu pembentuk unsur ras di India. Percampuran mereka dengan ras Negrito yang datang sebelunya dan ras Mongoloid yang datang sesudahnya memunculkan ras Kol atau Munda.

3.      Mongoloid, berkulit kuningterbagi dua kelompok yaitu Pertama, Paleo-Mongoloid diwakili oleh suku-suku yang tinggal di Assam, bukit Chitanggo dan perbatasan India dengan Burma. Kedua, Tibeto-Mongoloid yaitu suku bangsa yang jauh lebih maju yang kemungkinan bermigrasi dari Tibet yang kemudian pindah ke Sikkim dan Bhutan.

4.      Medeterania, datang dengan berbagai sub-suku mereka yang memiliki satu tipe fisik datang dari arah barat dengan bahasa yang sama yaitu bahasa Drawida. Umumnya mereka berkulit hitam. Sekarang keturunan mereka berada di Tamil Nadu, Telugu, Kannada dan Malayalam.

5.      Alpin, Dinarik dan Armenoid, merupakan kumpulan kelopok kecil yang memiliki tipe fisik yang sama, ditengarai datang dari Asia Tengah. Mereka merupakan unsur pokok yang membentuk bangsa Benggala, Orissa, Kalingga dan Gujarad. Suku ini tersebar di beberapa tempat di India termasuk di India selatan.

6.      Nordic, bahasanya termasuk kedalam bahasa orang-orang Arya. Merupakan bahasa yang tertua seperti ditulis dalam kitab suci Weda, mereka berkulit putih.

Demikian enam suku bangsa yang menyumbang pembangunan peradaban di India. Suku bangsa ini kemudian bercampur sehingga sulit menemukan yang masih asli. Orang-orang dari percampuran keenam suku bangsa ini mengadopsi dari empat bahasa yang ada yaitu Asttric, Tibet-China, Drawida dan Arya.

Diduga ras Negrito merupakan bagian dari masa Paleolitik, ras Proto-Australoid merupakan bagian dari masa Neolitik. Hal tersebut dibuktikan dengan kontribusi mereka terhadap beberapa hal dalam perkembangan peradaban di India.

 

3.      PERADABAN LEMBAH SUNGAI SINDHU

a.      Pengalian Harappa dan Mahenjodaro

Pada tahun 1922 dilakukan penggalian arkeologi di Mahenjodaro di distrik Larkana, Sind dan di Harappa di distrik Montgomery daerah Punjab sekarang Pakistan. Pengalian ini juga dibarengi dengan berbagai penalian di Sind dan Baluchintan. Pengalian ini akhirnya memberikan gambaran tentang peradaban sekitar 5000 tahun yang lalu dengan perkembangan peradaban yng cukup maju. Sehingga peradaban ini bisa disejajarkan dengan peradaban lainya didunia seperti Mesir, Assyria, dan Babylonia juga lembah peradaban lembah Nil, Trigis dan Eurhate. Sayangnya sejauh ini tidah ada informasi tulis yang dapat mengungkap lebih jauh informasi pada peradaban ini, seal-seal yang ditemukan belum mampu diuraikan secara jelah maksud dari benda-benda tersebut.

Mahenjodaro berarti tumpukan kematian, merupakan istilah lokal dari tumpukan tinggi. Didaerah ini bekas dibangun sebuah peradaban kota, yang pada masanya mengalami hingga tujuhkali pembangunan kembali. Kota ini cukup besar dan indah dengan rumah-rumah berukuran besar dan bervariasi. Bahkan diperkirakan terdapat bangunan berlantai dua dengan bahan batu bata. Sistem kota juga dilengkapi dengan jalan-jalan yang cukup lebar dengan drenase yang baik. Sehingga secara keseluruhan merupakan kehidupan kota yang cukup maju.

Hal yang sama juga dilakukan Pengalian Harappa di Distrik Motgomery yang sekarang di wilayah Pakistan. Pengalian ini memberikan hasil-hasil yang berharga tentang peradaban yang ada. Masyarakatnya ditengarai hidup di kota-kota, rumah mereka terbuat dari batu bata dilengkapi dengan kamar mandi dan saluran pembuangan.Bangunan yang besar dan sangat luar biasa  yang ditemukan di Harappa adalag the Great Granary atau bisa disebut sebagai lumbung agung berukuran 52 m x 42 m. Penemuan lainya adalah pondok tukang, terdiri dari rumah kecil-kecilyang masing-masing berbentuk persegi panjang dan memiliki halaman serta dua kamar.

 

b.      Periodeisasi Peradaban Lembah Sungai Sindu

Menurut pandangan yang diterima secara umum, peradaban ini kira-kira mengacu pada tahun 3000-2500 SM. Namun tentunya terdapat kecenderungan dikalangan cendikiawan moderen untuk menekan angka ini hingga 500 tahun.

Berikut adalah pendapat para sarjana tentang kapan kira-kira peradapan ini muncul, Dr. R.K. Mukerjee telah menetapkan peradaban ini sekitar tahun 3250 s/d 2750 SM. Dr. Fanfort menetapkan sekitar 2800 SM sedangkan Dr. Maclay menetapkan jaman ini berkisar tahun 2600 s/d 2000 SM. Dr. Gadd mengatakan peradaban ini berlangsung sekitar 2800 SM sebagai batas tertua dari zaman Harappa sedangkan Fahri mengatakan bahwa peradaban Mahenjodaro berkisar tahun 2800 s/d 2500 SM

Sehingga dari pandangan para sarjana diatas dapat disimpulkanbahwa Reg Weda tidak mungkin lebih tua dari 2000-1500 SM. Meskipun naskah ini tentunya disusun sesudahnya, mungkin lama setelah bangsa Arya bermigrasi ke India, namun tetap tidak dapat ditempatkan lebih awal dari 2500-2000 SM. Dari susdut pandang ini kemungkinan peradaban lembah sungai sindu telah berkembang sebelum bangsa Arya bermigrasi ke India.

 

c.       Sistem Sosial

Pengalian di Mahenjodaro keberadaan stuktur sosial yang berbeda dengan apa yang ada dalam peradaban bangsa Arya dan Weda walaupun tidak seperti sistem kasta pada zaman weda. Terdapat empat golongan utama yaitu 1. Golongan terpelajar seperti pendeta, tabib dan ahli-ahli perbintangan; 2. Golongan tentara; 3. Golongan pedagang, pembuat kerajinan dan seniman; dan 4. Golongan pekerja kasar seperti petani, penangkap ikan, tukang tenun dan lain-lain.

Makanan masyarakat pada waktu itu adalah vegetarian dan non vegetarian Terdiri dari daging sapi, domba, daging babi unggas., penyu, dan kura-kura. Namun gandum adalah bahan makanan pokok mereka. Biji-bijian dan kurma juga lazim. Ikan biasanya juga dikonsumsi. Susu dan sayuran serta buah-buahan juga telah dikenal.

Mengenai pakaian mereka dapat diketahui melalui ornamen dari bentuk ukiran batu pada waktu itu, dimana pakaian yang umum dipakai baik oleh laki-laki maupun perempuan. Kain katun umum dipakai juga wool. Pada umumnya pakainya masih sederhana bagi laki-laki selendang di pakai pada bahu kiri sebagaia pakai atasnya sedangngkan bagian bawahnya memakai seperti dhoti saat ini di India. Perhiasan yang dipakai berupa kalung cincin, gelang, anting. Bagi yang kaya membuat perhiasanya terbuat dari emas, perak gading, maupun tembikar. Para wanita juga menghiasi kepala mereka dengan hiasan berbentuk seperti kipas. Selendang atau selempot juga dipakai disekitar pinggang.

Batu tidak ditemukan disana sehingga di impor dari tempat lain. Terdapat beberapa hiburan pada saat itu seperti tarisn dengan diiringi drum, permainan kelereng, dadu dan juga berburu sangat digemari. Perabotan rumah tangga seperti bejana, pot-pot, mangkuk, piring, cangkir, cawan, pot bunga, kendi, panci, baskom, gelas dan lain-lain telah ditemukan baik yang terbuat dari tembikar maupun tembaga, perak dan porselen.

Masyarakatnya juga telah mengenal ukuran berat, hewan peliharaan, sistem pengobatan, senjata perang, Satampel atau Cap, Seni ukir dan pahat,  pengetahuan akan tulisan berupa pictograp, perdagangan, kesenian dan kerajinan, ritual pemakaman bahkan telah mengenal Agama.

 

4.      Agama

Agama masyarakat Harappa dapat diketahui melalui penelitian terhadap stempel-stempel, meja-meja tembaga yang ditulisi, patung-patung batu, dan patung-patung terakota.

 

Ibu Dewi

Pandangan Sir John Marshall yang paling terkemuka mengenai panteon Indus adalah Dewi Ibu. Sejumlah besar sosok perempuan dari terakota yang ditemukan dari berbagai situs dianggap sebagai perwujudan Ibu Dewi. Figur-figur serupa telah ditemukan dari situs-situs bersejarah dari budaya Kulli di Baluchistan Selatan dan Lembah Zhob di Utara. Figur yang ditemukan di Zhob mengenakan kerudung di atas kepala mereka dan figur-figur dari budaya Kulli memiliki serangkaian kalung pada masyarakat mereka. Sosok Ibu Dewi telah ditemukan di seluruh bagian barat Asia. Menurut para arkeolog, kisaran kultus Dewi Ibu pada saat itu meluas secara terus-menerus mulai dari daerah Indus hingga ke Sungai Nil. Mengutip dari Sir John Marshall, "Tetapi tidak di Negara lain, pemujaan terhadap Ibu Ilahi begitu dalam mengakar dan bersifat universal seperti di India dimana dia menjadi prototipe Energi Kosmik (Prakriti) dan pasangan dari Jiwa Kosmis (Purusha). Pemujaan yang berasal dari masyarakat matriarkal pada akhirnya membentuk dasar Saktism.”Sekali lagi, “Dalam mitologi Veda, para dewi hanya memainkan peranan kecil, para dewa yang utama berwujud laki-laki.

Para kritikus mengungkapkan bahwa Ibu Dewi atau Dewi Bumi dikenal oleh masyarakat Arya di zaman Veda. Mula-mula tampak dalam bentuk Prithvi, tetapi kemudian disebut Aditi, Prakriti, Durga, Gauri, Kali, dll. Memang benar bahwa para dewa utama dari bangsa Arya Veda adalah laki-laki dan para dewi memainkan peran yang lebih kecil, tetapi sama halnya dengan orang-orang Harappa dimana dewa utamanya kebanyakan laki-laki dan para dewi memainkan peran sekunder. Dewa pohon Pipal kemungkinan adalah prototipe dari Prajapati dalam Veda, yang merupakan dewa tertinggi dari dewa-dewa India dan tujuh utusannya juga dewa-dewa dengan berbagai wujud. Seperti di Sumeria, mereka berwujud manusia di bagian atas dan berwujud burung di bagian bawah. Dewa berkepala kerbau adalah gabungan yang aneh dari unsur yang heterogen. Kepalanya yang bertanduk adalah kepala kerbau, lengan-lengannya lipan, *thoraxis tigrine* dan bagian bawah pinggang adalah kombinasi dari dua kobra yang melingkar. Dewa-dewa lainnya yang direpresentasikan dalam stempel Indus hampir semuanya laki-laki. Roh-pohon yang sedang menghipnotis iblis-harimau, yang tergambar pada beberapa stempel, berwujud laki-laki. Hal yang sama juga digambarkan pada roh penghuni Akasia yang telah berusaha untuk mencekik dua iblis berkepala harimau yang hendak membawa pergi pohon kehidupan dengan senjata kelabangnya. Sejumlah stempel-jimat menunjukkan manusia kerbau dan manusia-super berwujud setengah sapi yang selalu diberkahi dengan sifat-sifat maskulin. Dengan ini rasanya tidak tepat bila tetap mempertahankan bahwa unsur feminin bersifat dominan dalam agama Indus.

Hal ini juga menunjukkan bahwa Ibu-Dewi tidak ditemukan dalam seni glyptik di Lembah Indus. Semua yang kita miliki hanyalah patung-patung dari terakota yang memiliki hiasan kepala, hiasan leher dan rok yang ditahan oleh sebuah korset di pinggang. Hiasana kepala mereka biasanya berbentuk kipas atau berstruktur melengkung yang terbuat dari bahan ringan. Lazimnya, patung-patung wanita di Lembah Indus berada dalam posisi berdiri dan lengan-lengan mereka tergantung paralel dengan posisi tubuh. Namun beberapa dari patung tersebut yang memiliki hiasan kepala melengkung, tampakmengangkat lengan mereka hingga ke kepala dan menyentuh dahi mereka dengan kedua tangan seolah-olah dalam pose member hormat. Dr. Mackay mengisyaratkan kemiripan antara hiasan kepala berbentuk kipas dari patung-patung ini dengan hiasan bulu dari wujud Shiva yang disebut Pasupati di Mohenjodaro. Menurut Dr. C.L. Fabri, hiasan kepala figur-figur di Indus berasal dari kepulauan Kreta. Namun, menurut Dr. K.N. Sastri, patung-patung perempuan ini mungkin merepresentasikan beberapa dewa kecil yang memiliki peranan di bawah peranan Dewa Pipal yang merupakan Dewa tertinggi dari zaman Indus. Perlu dicatat bahwa hanya patung-patung wanita yang memiliki hiasan kepala melengkung yang memiliki pose memberi hormat. Hal ini menunjukkan hubungan antara hiasan kepala dengan pose member hormat. Diperkirakan bahwa sosok yang member hormat ini sedang memuja simbol ilahi yang ada di kepalanya. Menurut Dr. K. N. Sastri, ini menunjukkan bahwa hiasan kepala serta pose memberi hormat dari sosok-sosok wanita ini mengindikasikan bahwa patung ini menunjukkan dewi kecil (rendah dalam status) dan bukanlah Ibu Dewi.

Menurut Sir John Marshall dan Dr Mackay, dewa Pipal, pelayan keagamaan dan tujuh utusan semuanya laki-laki. Dewa utama telanjang tetapi tujuh utusannya dikatakan berpakaian tunik (baju panjang hingga mencapai lutut). Juga ada anggapan bahwa ketujuh pelayan tidak berpakaian tunik atau sejenisnya. Mereka adalah makhluk yang mengagumkan dan diwujudkan dalam bentuk dewa laki-laki.

Kultus Ibu Dewi tidak mendominasi agama Indus. Para dewa laki-laki sangat mempengaruhi pemikiran masyarakat kala itu. Dewa Pipal adalah dewa tertinggi dan sejumlah besar dewa laki-laki yang di bawahnya mengatur nasib dari makhluk mortal (tak abadi) yang menghuni wilbapa Indus.

 

Pemujaan Terhadap Pohon

Stempel dan tembikar yang dicat di Lembah Indus menunjukkan gambar pohon Pipal dan Akasia. Mereka dianggap sebagai tanaman surgawi dan sepertinya dihuni oleh roh-roh suci. Pohon Pipal adalah tempat tinggal dewa tertinggi Lembah Indus. Oleh karena pohon tersebut dianggap sangat suci, representasi simboliknya berbentuk puncak dari hiasan kepala yang berisi tanduk milik para dewa dari tingkat yang lebih rendah. Pohon Pipal merupakan pohon ilmu pengetahuan dan pohon pencipta dan dipercaya akan memberikan pengetahuan tertinggi kepada mereka yang menaruh ranting-ranting pohon tersebut di atas kepala mereka. Hak istimewa ini hanya dinikmati oleh para dewa sendiri. Gambar-gambar pohon kehidupan ini sering ditemukan pada stempel-stempel di Lembah Indus. Di sekeliling tumbuhan ajaib ini, dilukiskan petualangan dan tindakan gagah berani dari para dewa dan pahlawan-pahlawan nasional Lembah Indus. Pohon Sami biasanya disamakan dengan Jand atau Jandi. Pohon Jandi masih diyakini sebagai tempat tinggal dewa dan berbagai upacara keagamaan dilakukan di bawah pohon ini.

Ada sebuah pertarungan di antara para dewa dan para iblis untuk memiliki pohon ini agar dapat mempergunakan rantingnya sebagai hiasan di atas kepala atau pada jalinan rambut di kepala mereka. Beberapa iblis tertentu selalu berusaha membawa kabur pohon ini atau ranting-rantingnya. Pohon ini dijaga ketat oleh roh penjaga. Selain roh penjaga, pohon ini juga dilindungi oleh prajurit penjaga lainnya. Yang perlu diketahui adalah bahwa para penjaga ini adalah seekor hewan berwajah manusia dimana tubuhnya memiliki ciri-ciri dari hewan yang berbeda-beda. Dia memiliki kecerdasan seorang manusia, ketangkasan dan kejantanan seekor domba jantan, keganasan dan keagresifan seekor macan, dan gigitan mematikan dari seekor kobra. Hewan tersebut dianggap sebagai hewan yang paling sesuai untuk menjaga pohon kehidupan. Ada juga hewan penjaga bertubuh tunggal namun berkepala tiga. Pada salah satu contoh, kepalanya merupakan kepala unicorn, kepala bison, dan kepala jenis hewan berkaki empat yang tak dapat dikenali dimana memiliki tanduk panjang dan membengkok ke depan.

 Pada sebuah stempel di Mohenjodaro, tampak seekor banteng yang dilindungi oleh seekor kobra tengah bertarung dengan seorang manusia, berusaha mencegahnya untuk mendekati pohon keramat tersebut. Stempel lainnya menunjukkan seekor banteng yang bertempur melawan seorang laki-laki. Tampak pula sang penjaga, yang berwujud hewan campuran, mengawasi monster besar atau seekor harimau yang akhirnya dibunuh dalam sebuah pertarungan. Di lain kasus, terpahat seorang pelayan keagamaan yang tengah menghaturkan sesuatu kepada pohon Akasia. Seekor kobra atau Naga juga tampak menjaga pohon itu. Pada stempel lainnya, sebuah pohon Akasia tampak sedang dijaga oleh seekor kambing berkepala kerbau.

Sebuah studi atas stempel-stempel itu menunjukkan bahwa meskipun iblis harimau selalu berusaha mencuri pohon tersebut atau ranting-rantingnya, dia selalu mengalami kegagalan. Namun, pada suatu kesempatan, dia berhasil mencuri dua ranting pohon kehidupan, namun kesuksesannya hanya berlangsung singkat dan segera si iblis dibunuh oleh sang penjaga. Banyak stempel yang memperlihatkan kemalangan dari si iblis harimau.

Dr. Mackay menggali sebuah stempel dari Chanhudaro yang menunjukkan pohon kehidupan dan tiga buah piktogram. Di bawahnya tampak seekor harimau dengan lidah terjulur dan hampir menyentuh mulut roh pohon yang sedang setengah berlutut. Menurut Dr. Mackay, si harimau sedang menjilati wajah roh pohon, mungkin ingin memakan makhluk itu dan makhluk itu sedang memohon belas kasihan. Penjelasan ini tidak diterima oleh para cendikiawan lainnya.

Sejumlah besar stempel dan cetakan stempel dari situs Indus hanya memperlihatkan pohon Akasia saja, dengan atau tanpa tulisan apapun. Namun, beberapa dari mereka menunjukkan pohon Acacia ditutupi oleh sebuah pagar. Gambar lainnya menunjukkan pohon itu dikelilingi oleh sebuah peron.

 Pemujaan terhadap pohon bersifat sangat kuno di India dan keberadaannya di zaman sejarah dengan jelas menunjukkan bahwa tradisi kuno yang terkait dengan kultus ini pada akhirnya disatukan oleh masyarakat Hindu dalam sistem keagamaan mereka dalam bentuk yang telah dimodifikasi.

 

Shiva

Pasangan dari Ibu Dewi mengarah pada Siva yang juga dikenal sebagai Pasupati. Pada stempel ditemukan dewa laki-laki, berhiaskan tanduk dan berwajah tiga, duduk dalam posisi seorang Yogi, kaki ditekuk dan dikelilingi oleh empat binatang, yaitu gajah, harimau, badak dan kerbau, serta sepasang rusa, yang menunjukkan bahwa dewa tersebut adalah dewa dari para binatang. Berdasarkan bukti tersebut, Sir John Marshall sampai pada kesimpulan bahwa Shivaisme adalah agama tertua di India dan dewa tersebut adalah "prototipe dari Siva yang bersejarah".

Tidak ada kuil untuk umum ditemukan, yang mungkin disebabkan oleh fakta bahwa bangunan-bangunan itu mungkin masih tersembunyi di bawah stupa di Mohenjodaro. Candi lainnya telah "dipindahkan oleh perampok batu bata di Harappa". Sebagian besar gambar suci ditemukan di sudut-sudut kamar yang menunjukkan bahwa agama merupakan hal yang bersifat pribadi dan tidak diatur oleh Negara. Namun, Dr. Mortimer Wheeler dan Dr. Piggot merasa bahwa orang-orang saat itu diperintah oleh raja imam (pendeta) yang mengadakan festival publik dan komunitas pendeta juga mengatur masalah politik. Dengan tidak ditemukannya kuil-kuil untuk umum, tidak layak untuk mengambil kesimpulan seperti di atas.

 Orang-orang juga melakukan pemujaan terhadap simbol Lingga dan Yoni. Beberapa batu yang dipoles telah teridentifikasi sebagai Lingga dan batu lainnya yang pecah telah teridentifikasi sebagai Yoni. Adanya kemungkinan bahwa baik Shiva maupun Lingga telah diwarisi oleh umat Hindu dari masyarakat Harappa, diperkuat oleh prevalensi banteng atau hewan sejenis banteng seperti di antara simbol-simbol pada stempel.

Dr. Mackay melihat sebuah stempel-jimat menarik yang menggambarkan subjek agama yang berbeda. Seorang dewi bertanduk ditampilkan di tengah-tengah pohon Pipal, dihadapannya berlutut dewa-dewa bertanduk lainnya sembari member hormat. Sang dewi dan para pemujanya memiliki kepangan rambut yang panjang dan lengan mereka dipenuhi gelang-gelang. Keduanya memiliki hiasan berupa tanaman kecil yang berdaun dan berbunga yang berasal dari bagian kepala yang ada di tengah-tengah kedua tanduk. Di belakang para pemuja tampak seekor kambing berwajah manusia sedang mengamati mereka. Sederetan roh suci berwujud wanita yang berada di arah berlawanan tampak memenuhi seluruh bagian bawah stempel-jimat, masing-masing mengenakan hiasan bunga di kepala, kepangan rambut di belakang, namun tidak mengenakan hiasan berupa tanduk. Menurut Dr. Mackay, kemistisan angka tujuh mengingatkan akan kisah Dewi Sitala dan enam saudarinya, sebuah kultus primitif yang dianggap asli berasal dari daerah tersebut.

Sebagian besar stempel berupa jimat. Mereka berisi inprasastisi yang kemungkinan merupakan jampi-jampi atau mantra. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang takut setan. Ada juga praktek Yoga. Pemujaan terhadap alat pembakar dupa yang dianggap suci juga lazim dilakukan.

Menurut Wheeler, air merupakan hal yang penting tapi tidak didewakan dalam kehidupan masyarakat Lembah Indus ditunjukkan oleh penemuan Pemandian Agung (the Great Bath) di Mohenjodaro dan oleh penyediaan tempat pemandian dan saluran pembuangan air yang berlebihan di pelosok kota. Penyucian dengan cara mandi atau upacara pembasuhan badan merupakan bagian dari agama masyarakat kala itu. Mengutip tulisan Wheeler, “Agama masyarakat Indus merupakan *melange* yang telah kita ketahui dari perayaan keagamaan Asiatik millennium ketiga, yang dibesarkan oleh intuisi tertentu dari aliran Hinduisme berikutnya.”

 

SIMPULAN

Dari Pembahasan materi diatas tentang Peradaban Lembah Sungai Sindu dapat disimpulkan bahwa kebudayaan India tidak hanya dibangun dari titik tolak bangsa Arya dengan Weda namun jauh sebelum masa bangsa Arya datang lembah sungai Sindu telah mengalami perkembangan peradaban yang sudah cukup maju dan memebrikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan India dan Agama Hindu saat ini.


 

DAFTAR BACAAN

Phalgunadi, I Gusti Putu, 2006. Sekilas Sejarah Evolusi Hindu. Denpasar : Widya Dharma.

Phalgunadi, I Gusti Putu, 2005. Diktat Sejarah Evolusi Hindu. Denpasar : Pasca Sarjana UNHI.

B.N Lunya, Indian Culture.

 

Read 34762 times Last modified on Friday, 28 November 2014 00:36
More in this category: Siva dan Siva Rudra »