Wednesday, 24 January 2018

Siva dan Siva Rudra

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Thursday, 06 March 2014 07:30
Rate this item
(0 votes)

SIVA DAN SIVA RUDRA

Susilo Edi Purwanto, S.Ag., M.Si

Pendahuluan

Siwa dan Rudra merupakan satu kesatuan dua nama dewa dalam Hindu yang dipuja sebagai dewa tertinggi. Siwa adalah manifestasi kebajikan dan menandakan segala sesuatu yang baik. Whenever mankind desires peace and harmony to prevail, it is a good idea to invoke his blessings, for he will usher in goodness and award off all evil. Setiap kali manusia menginginkan kedamaian dan kesejahteraan maka sangat baik memujaNya untuk mendapatkan karunianya supaya terhindar dari kemalangan dan kejahatan. Namun Siwa juga memiliki sifat yang lain yaitu sebagai pelebur sehingga Ia disebut Rudra. Peleburan kita perlukan untuk mensucikan diri kita dari keadaan yang kotor dan penuh dosa, maka kita bisa memohon karunia kepadaNya supaya melebur segala dosa manusia. Contoh yang paling mudah kita lihat adalah ketika kita melihat tumpukan sampah, apabila sampah-sampah yang dihasilkan dari produksi manusia tidak dapat hancur maka seluruh dunia akan dipenuhi dengan sampah.

DewaSiva in his peaceful manifestation will be found seated serenely with consort goddess Parvati in his abode on Mount Kailash. Siwa dalam manifestasi-Nya damai akan ditemukan duduk tenang dengan permaisuri Dewi Parwati tempat tinggalnya di Gunung Kailash. Rudra on the other hand will appear dancing angrily in a cremation ground setting. Siwa sebagai Rudra di sisi lain akan muncul menari marah dalam pengaturan tanah kremasi. Siva is the holder and nurturer of the universe till the time of the next cycle of creation, which is necessarily preceded by destruction brought about by Rudra. Siva adalah pemegang dan pemelihara alam semesta sampai saat siklus berikutnya penciptaan, yang selalu didahului oleh kehancuran yang dibawa oleh Rudra. Out of the 75 times that this deity is mentioned in the ancient Hindu treatise Rig Veda, the name Siva is mentioned 18 times.As Siva the deity is kinder and peaceful, and loves to help his devoteSebagai dewa Siwa yang ramah dan damai, dan suka membantu pengikutnya. Rudra on the other hand is a terrible manifestation and his devotees are in perpetual dread of his wrath. Rudra di sisi lain adalah manifestasi mengerikan dan pengikutnya yang dalam ketakutan terus-menerus murka. Rudra is really an early form of Siva. Rudra benar-benar sebuah bentuk  awal dari Dewa Siwa. He was the God of the storm and in the Sanskrit language, Rudra means the wild one. Dia disebut dewa badai dalam bahasa Sanskerta, Rudra juga berarti yang liar. Siva became the better known face of the deity, and he is often pictured in familial bliss sitting next to his wife and sons. Siva sebagai dewa tertinggi digambarkan dalam kebahagiaan keluarga duduk di samping istri dan anak-anak.

Dewa Siwa dan Rudra merupakan wujud tunggal dari dualitas keadaan yang ada didunia, dimana ada yang baik dan ada yang jahat, ada gelap dan ada terang,  ada yang kehidupan dan ada kematian, ada kematian pasti ada kehidupan. Dualitas Siwa dan Rudra digambarkan dari masa ke masa yang berbeda, sehingga prototipenya sudah diketemukan dalam kebudayaan India kuna peradaban Mahenjodaro dan Harrapah sampai saat ini kita masih bisa menyaksikan pemujaan terhadap Siwa. Sekilas evolusi Siwa dan Rudra akan dibahas dalam peper ini untuk mengambarkan eksistensi Siwa dan Rudra sebagai eksistensi dewa tertinggi yang memiliki dualitas yang saling bertentangan namun hakekatnya adalah satu kesatuan.

 

Siwa dalam Peradaban Lembah Sungai Sindu

Peradaban Mahenjodaro dan Harappah merupakan peradaban kuno setara dengan Peradaban Mesir dan Siriah, dalam peradaban ini sudah dikenal berbagai macam hal diantaranya kehidupan pemukiman perkotaan terbukti dengan ditemukannya reruntuhan bekas kota yang dibangun ulang kurang lebih sebanyak tujuh kali. Peradaban kota ini menghasilkan sistem kemasyarakatan yang cukup maju dengan ditandai bahwa masyarakatnya telah mengenal ukuran berat, hewan peliharaan, sistem pengobatan, senjata perang, Satampel atau Cap, Seni ukir dan pahat,  pengetahuan akan tulisan berupa pictograp, perdagangan, kesenian dan kerajinan, ritual pemakaman bahkan telah mengenal Agama.

Sistem keagamaan pada masa ini telah dikenal adannya pemujaan terhadap Mother God, Dewa Pohon dan Prajapati atau prototipe dari siwa. Pemujaan terhadap Dewi merupakan sesuatu yang tidak lazim bangsa Arya, pemujaan terhadap ibu dewi inilah ditengarai sebagai cikal bakal pemujaan kepada sakti atau sisi feminim Tuhan.

Pengalian Mahenjodaro dan Harappa yag dilakukan oleh Sir John Marshall telah menemukan bukti tentang adanya pemujaan terhadap Siwa. Seals atau materai dari tanah liat mengambarkan prototipe Siwa dalam bentuk figur-figur bermuka tigga, duduk dalam posisi padmasana, lengan terbuka dan jari-jari tangan menyentuh lutut dengan arah mata menuju hidung, kepala bertanduk dua, kemudian disekitarnya ada binatang-binatang seperti gajah dan harimau disebelah kanan, badak dan kerbau di sebelah kiri dan dua kijang berada dibawah tahta. (Suamba, 10 : 2004).secara khusus seal ini melukiskan prototof Siwamemperlihatkan inskripsis tujuh huruf pada bagian atas. Ia tidak mengenakan busana dengan penis dalam posisis ereksi.dalam hal ini disebut sebagai Trimuka Yogiswara Pasupati Urvalinga. Sehingga oleh para sarjana disimpulkan bahwa peradaban lembah sungai sindu sebelum datangnya bangsa arya telah mengenal pemujaan terhadap Siwa, karena ditemukan pula adanya Siwa Lingam, berbentuk objek terakota lancip dengan bundaran diatasnya yang menurut DR. R.E.M Wheeler mencerminkan sebuah Palus dan cincin tebal besar diperkirakan sebagai Yoni “prinsip feminim”.

 

Siwa dalam Peradaban Weda

Siwa pasupati yang ditemukan dalam peradaban lembah sungai Sindu yang ditengarai sebagai peradaban pra Arya merupakan sebuah bukti bahwa pemujaan terhadap Siwa adalah pemujaan kuno yang dimulai sebelum zaman Weda. Menurut Cakrawati (Suamba, 2004 :11) konsep Siwa Rudra mengalami perkembangan gradual didalam pemikiran rsi-rsi Weda mulai dari Samhita, Brahmana, Aranyaka dan Upanisad.

Bangsa Arya nampaknya mengambil dewa Siwa yang disembah oleh penduduk pribumi kedalam Weda, sehingga dapat dilihat adanya peujaan kepada siwa dalam wujud Rudra. Didalam Reg Weda terdapat pemujaan terhadap Palus Siwasebagai Sisnadevah. Berbagai nama siwa seperti Rudra dan Pasupati muncul dalam Catur Weda yaitu  Reg Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda. Menurut Pandey (Suamba, 2004 :17) didalam Reg Weda terdapat ayat-ayat yang mengacu kepada Rudra dan Tyambaka, misalnya Ima Rudraya Tapase, Ima Rudraya Satadhanvine, Tryambakam Yajamahe. Di dalam Sama Weda terdapat juga kumpulan doa pujian yang ditujukan kepada Rudra misalnya Avarajanam tadvargadeva pravjyato hani. Di dalam Sukla Yajur Weda bagian XVI pada Wajasaneya Samhita dan di dalam Taittiriya Samhita pada Kresna Yajur Weda IV, 5 seratus nama Siwa dijelaskan. Di dalam Atharwa Weda terdapat cukup banyak mantra yang di alamatkan kepada Rudra dan juga bertalian dengan cara memujanya.

Disinilah ditunjukan rekonsiliasi antara Siwa sebagai hasil perdaban lembah sungai sindu pra Arya di adopsi kedalam Agama Brahmana peradaban Weda. Bukti ditunjukan dengan seratus nama Siwa dalam Yajur Weda yang menempatkan Pasupati dan Rudra kedalam satu kesatuan Siwa. Kemudian juga mengubah konsep dari Rudra sebagai bentuk yang menyeramkan menjadi Pasupati sebagai pelindung ternak.

Mengenai konsepsi Rudra sendiri, dalam kitab-kitab Weda dapat dipahami sebagai Satu Tanpa Yang Kedua (eko rudro na dvitiyaya tas thau), namun juga banyak pengertian tentang hakekat Rudra. Terdapat sebelas, seratus atau bahkan seribu Rudra. Dalam wujudnya yang mutlak, Rudra adalah Realitas yang tertinggi dan tak dapat dibedakan dan iulah sebabnya Ia disebut sebagai Yang Satu.tetapi dalam wujudnya yang tetap ada sebagaimana dimanisfestasikan di dunia, dia dihitung sebanyak sebelas atau lebih, bukan sebagai subjek perhitungan. Banyaknya Rudra adalah merupakan ungkapan kecermelangan pada hakekat Rudra yang tunggal. Pada dasarnya sifar Rudra adalah dua sisi yaitu menakutkan (ghora) dan tenang (santa). Wujud dalam menakutkan sebagai esensi peleburan sering diidentikan sebagai Rudra itu sendiri sedangkan dalam sikap yang tenang dan bersahaja di identikan dengan wujud sebagai Siwa penguasa alam semesta. 

Didalam wiracarita Mahabharata dan Ramayana kita juga bisa menemukan referensi tentang Siwa yang mana Arjuna dan Krisna memuja Siwa dan mendapatkan anugrahnya. Demikian juga Rahwana dan saudara-saudaranya adalah pemuja Siwa yang sangat setia.

Bahkan dalam Swetasvatara Upanisad Siwa atau Rudra disamakan sebagai Brahman. Menurut Renade (Suamba 2004 : 19) Tuhan Isa adalah yang menopang baik yang dapat hancur maupun tidak, yang berwujud maupun tidak berwujud. Lebih lanjut dikatakan bahwa Rudra satu-satunya Tuhan penguasa. Ia tidak mempertahankan Tuhan lain. Ia adalah penguasa dunia ini melalui kekuatan-kekuatan-Nya, ada didepan setiap manusia dan penghancur dunia yang Ia ciptakan pada saat pralaya (penghancuran dunia). Ia adalah Siwa yang bersemayam di setiap mahkluk, Ia adalah penguasa alam semesta. Dalam konsepsi ini Tuhan Rudra yang identik dengan Siwa atau Isa digambarkan sebagai satu-satunya Tuhan yang merupakan jiwa tertinggi dan sebagai penguasa alam semesta melalui pengetahuannya jiwa-jiwa yan terikat bisa mencapai keabsolutan.

 

Siwa dan Rudra Simbol Penyatuan dua Peradaban

Konsep tentang adanya pemujaan Siwa telah muncul sebelum adanya peradaban bangsa Arya, ditemukanya peradaban Mahenjodaro dan Harappa merupakan bukti bahwa sebelum bangsa Arya datang di Lembh sungai Sindu teah terdapat peradaban yang cukup maju. Temuan Sheal atau materai dari tanah liat yang mengambarkan sososk Siwa Pasupati adalah cikal bakal pemujaan Siwa yang disetai adanya Linga dan Yoni.

Hancurnya peradaban lembah sungai sindu dan datangnya bangsa arya ke dataran India membawa serta peradaban tentang sebuah tatanan Agama Brahmana dengan kitab-kitab wedanya. Kitab Samhita, Brahmana, Aranyaka dan Upanisad menampakan adanya konsepsi tentang adanya Siwa dan Rudra. Siwa Pasupati merupakan konsep yang berkembang dalam kebudayaan asli lembah sungai sindu, dalam kitab-kitab weda memunculkan adanya konsepsi Rudra sebagai gamabaran dewa yang mengerikan. Rudra adalah kekuatan Tuhan sebagai pelebur yang merupkan manifestasi dari Siwa itu sendiri.

Siwa dan Rudra adalah dua sisi yang bertolak belakang namun merupakan satu kesatuan, sebagai Siwa adalah Tuhan pencipta dan pemelihara sedangkan Rudra adalah Tuhan sebagai pelebur alam semesta pada saat pralaya bahkan pada saat Maha Pralaya semuanya terlebur, namun hanya Ia yang ada, sehingga Rudra merupakan eksistensi yang tertinggi.

Kenyataan bahwa Siwa sebagai Produk masa pra Arya mendapar rekonsiliasi dan diterima pada masa Arya sehingga munculah konsep tentang Siwa Rudra sebagai satu kesatuan konsep. Siwa Rudra sebagai eksistensi yang absolud realitas yang tertinggi sebagai penyebab dan sebagai akhir dunia. Kenyataan inilah yang menyatukan dua peradaban besar antara masa Pra Arya dengan masa Arya.

 

Simpulan

Siwa dan Rudra merupakan dua sisi sebagai satu kesatuan tertinggi. Siwa adalah wujud tenang Tuhan sebaga penguasa tertinggi dan Rudra adalah wujud mengerikan sebagai pelebur. Siwa dan Rudra adalah tunggal yang lahir dari rekonsiliasi peradaban lembah sungai sindu masa Pra Arya dengan Peradaban Weda masa Arya. Dalam Catur Weda terdapat sebelas Rudra sebagai bentuk manifestasi sifat-sifat Siwa yang tunggal, konsep inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Siwaisme.

 

DAFTAR BACAAN

Agastya, Ida Bagus, 2003. Siwa Smerti. Denpasar : Yayasan Dharma Sastra.

Agastya, Ida Bagus, Eka Dasa Rudra Sumber Sansekerta dan Pelaksaanaannya di Bali. Makalah Pasca Sarjana UNHI

Anandamurti, Shrii Shrii, 2008. Namah Shivaya Shantaya Sujud Kepada Shiwa perwujudan Kedamaian. Denpasar : Anandha Marga Indonesia.

B.N Lunya, Indian Culture.

Phalgunadi, I Gusti Putu, 2005. Diktat Sejarah Evolusi Hindu. Denpasar : Pasca Sarjana UNHI.

Phalgunadi, I Gusti Putu, 2006. Sekilas Sejarah Evolusi Hindu. Denpasar : Widya Dharma.

Suamba, Ida Bagus Putu, 2004. Pengantar Filsafat Siwa Siddhanta. Bahan Kuliah Siwa-Budha Tatwa Pasca Sarjana UNHI

Tim Penyusun, 2002.Siwa Tattwa. Denpasar : Pemerintah Propinsi Bali.

Read 39792 times Last modified on Thursday, 03 April 2014 08:28