Wednesday, 24 January 2018

Manusia Yadnya Dalam Janma Prawerti

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Thursday, 06 March 2014 07:43
Rate this item
(0 votes)

 

 

 

MANUSIA YADNYA DALAM JANMA PRAWERTI

Susilo Edi Purwanto, S.Ag.,M.Si

 

Absrak

Yadnya menjadi bagian yang lebih menonjol dalam keberagamaan umat Hindu padahal sesungguhnya agama Hindu terdiri atas tattwa, susila dan acara. Yadnya pada dasarnya menjadi satu aspek penting, bahkan inti dari acara yang terdiri atas upacara dan upakara. Acara tanpa yadnya bukanlah acara lagi karena acara mesti dilaksanakan menurut landasan kurban khusus untuk setiap setiap jenis yadnya. Terdapat lima macam yadnya yang disebut Panca Yadnya, Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya dan Manusa Yadnya. bertujuan untuk keselamatan kehidupan manusiasehingga inti dari Panca Yadnya adalah Manusa Yadnya.

Lontar Janma Prawerti menjabarkan tentang upacara yang mesti dilakukan oleh umat Hindu untuk mencapai kesempurnaan dalam hidupnya melalui rangkaian upacara dari lahir sampai dengan pernikahan. Kelahiran bayi kedunia sebagai karunia dari Tuhan harus dijaga dengan memperahatikan hal sekala maupun niskala. Secara sekala dilakukan perawatan yang ekstra mengingat bayi membutuhkan waktu untuk menyesuaikan fisiknya dengan keadaan alam sekitarnya sedangkan secara Niskala dibuatkan upacara dan upakara. Untuk mengungkap bagaimana rangkaian upacara dalam Janma Prawerti maka lontar tersebut dijadikan objek material dengan mengunakan Manusa Yadnya sebagai objek formal untuk mendeskripsikan dan menjelaskan upacara tersebut.

 

PENDAHULUAN

Yadnya itu agama Hindu. fakta bahwa yadnya lebih menonjol dalam keberagamaan umat hindu padahal sesungguhnya agama Hindu terdiri atas tattwa, susila dan acara. Yadnya pada dasarnya menjadi satu aspek penting, bahkan inti dari acara yang terdiri atas upacara dan upakara. Acara tanpa yadnya bukanlah acara lagi karena acara mesti dilaksanakan menurut landasan kurban khusus untuk setiap setiap jenis yadnya. Yadnya tanpa mendasarkan pada tattwa dan susila menjadikannya kering makna yang seolah-olah hanya menjadi serimonial belaka, padahal tattwa, susila dan acara merupakan satu rangkaian sebagai aktifitas religius manusia dengan Tuhan, sehingga yadnya menjadi hal yang tampak jelas dapat dilihat sebagai wujud dari agama.

Tattwa sebagai dasar acara agama semestinya dipahami bukan hanya menjadi pengetahuan hakekat tentang Tuhan tetapi lebih dari itu tattwa dipahami sebagai aplikasi pemahaman tentang Tuhan dalam kaitanya dengan pikiran (manacika), kata (wacika), dan perbuatan (kayika). Demikian dikatakan oleh Hardjana (2005:71) bahwa ibadat merupakan cara manusia menyatakan hubungannya dengan Tuhan, Tuhan disapa, dipuja dan dipuji, dihormati, diluhurkan dan dimuliakan. Untuk itu yadnya berarti memperteguh hubungan manusia dengan Tuhan dan memperherat hubungan manusia satu dengan yang lainya. sehingga dalam hal ini acara agama adalah sarana dalam membangun hubungan manusia dengan Tuhan untuk mencapai tujuan kehidupannya.

Susila sebagai dasar acara agama bukan hanya dipahami sebagai hakekat menjalankan dan menjauhi larangannya, sehingga melaksanakan upacara agama tanpa melihat sisi lain dalam kehidupan dengan hanya serimonia memenuhi tanggung jawab melaksanakan upacara tanpa didasari kutulusan dan keiklasan. Hal ini mengakibatkan upacara terlihat semacam perayaan saja tanpa menyentuh esensi terdalam dari hubungan manusia dengan Tuhan, untuk itu hidup selaras dengan sifat manusia sebagai mahluk rohani menjadi penting dalam hidup berdasarkan moral (Harjana, 2005:85).

Acara agama Hindu tertuang dalam Panca Yadnya merupakan wujud dari agama. Yadnya yang dilakukan dapat berupa upacara yang ditujukan kepada Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta dari yang terkecil sampai yang terbesar yaitu nista, madya dan utama. Dewa Yadnya yaitu korban suci kepada Tuhan atau Dewa dalam berbagai manisfestasinya hal ini bertujuan supaya manusia mendapatkan kerahayuan dalam menjalanin kehidupan atas karuniaNya, Rsi Yadnya yaitu korban suci kepada para rsi atas tuntunan dan bimbingannya dengan menyebarkan ajaran sucinya, Pitra Yadnya yaitu korban suci kepada para leluhur atas jasanya memelihara dan mendidik dari dalam kandungan sampai mampu mandiri, Manusa Yadnya yaitu korban suci kepada sang diri dan sesama, dan Bhuta Yadnya yaitu korban suci kepada para mahluk dibawah supaya somya tidak menggangu manusia (Tim, 2003:10-13). Hal tersebut terlihat berbada tujuan namun sesungguhnya kesemua yadnya bersember dan bermuara pada manusia itu sendiri untuk memohon kerahayuan dalam kehidupan.

Manusa Yadnya menjadi inti dari Panca Yadnya. Hal tersebut ditunjukan dengan seluruh upacara Panca Yadnya diperuntukan untuk kerahayuan manusia. Dewa Yadnya sebagai korban suci kepada para dewa atau Tuhan Yang Maha esa bertujuan untuk manusia mendapatkan karunia dariNya. Rsi Yandnya sebagai korban suci kepada para rsi bertujuan untuk berterimakasih kepada karena jasanya dalam memberikan ajaran suci kepada manusia. Pitra Yadnya sebagai korban suci yang ditujukan kepada para pitra berterimakasih kepadanya karena jasa dalam menghantarkan manusia dalam mengarungi kehidupan ini. Bhuta Yadnya sebagai korban suci kepada para bhuta yang bertujuan untuk memberikan korban suci untuk tidak mengangu dalam manusia menjalankan aktifitasnya.

Kerahayuan dalam kehidupan manusia merupakan salah satu tujuan manusia hidup didunia demikian tertuang dalam sebuah sloka moksartam jagadhita ya ca iti dharma. Selain tattwa dan susila, acara merupakan salah satu aspek agama Hindu yang harus dipraktekkan dan dipahami secara baik dan benar. Secara praktek keagamaan di Bali telah melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan acara keagamaan secara luar bisa bahkan hal tersebut telah mampu menjadikan Bali sebagai icon pariwisata budaya yang bersember dari kemeriahan dan kemegahan acara agama Hindu. Akan tetapi hal tersebut belum didasarkan pada pemahaman akan hakekat yang baik dan benar terbukti dengan masyarakat hanya mampu melaksanakan tanpa mempu memberi penjelasan sehingga apabila mendapat pertanyaan lebih jauh tentang hakekat pelaksanaannya cenderung menjawab “mulo keto”. Munculnya wacana tentang mulo keto menunjukan akan lemahnya pemahaman masyarakat tentang hakekat apa yang dilaksanakan tanpa bisa menggungkapkan landasan dasar dari pelaksanaan ritual yang dijalankan. Untuk itu perlu melihat lebih jauh tentang apa yang dituangkan dalam lontar-lontar sebagai rujukan pelaksanaan aktifitas kegiatan khususnya mengenai yadnya.

Janma Prawerti merupakan salah satu lontar yang tergolong kedalam jenis yadnya (dalam Sura, 2006), Secaradetail membicarakan upacara dan upakara dari kelahiran sampai pernikahan. Hal tersebut sudah menjadi aktifitas rutin dilaksanakan umat Hindu di Bali namun keseriusan dalam melihat rangkaian makna dari upacara tersebut belum dilakukan secara maksimal, untuk itu dalam kajian ini hendak memahami dan mendeskripsikan konsep manusa yadnya dalam agama Hindu dan hubungannya dengan lontar Janma Prawerti.

 

MANUSA YADNYA

Agama dalam prakteknya tidak terlepas adanya ritual. Sebagaimana dikatakan oleh Hardjana (2005) bahwa ibadat dan kultus merupakan salah satu bagiannya. Dalam sistem ritual di Hindu dikenal istilah yadnya yang berasal dari bahasa sansekerta dari urat kata Yad yang berarti memuja dan mengadakan kurban, jadi yadnya adalah korban suci yang dilakukan dengan perasaan tulus dan iklas, dan dilakukan pada hari atau dewasa tertentu. Agama Hindu mengenal lima jenis yadnya yang disebut sebagai Panca Yadnya terdiri dari : 1) Dewa Yadnya adalah yadnya yang ditujukan kehadapan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi beserta manisfestasinya; 2) Pitra Yadnya adalah yadnya kepada para leluhur; 3) Rsi Yadnya adalah yadnya yang ditujukan kepada orang-orang suci; 4) Bhuta Yadnya adalah yadnya yang ditujukan kepada para Bhuta dan segala ciptaan Tuhan yang lebih rendah dari manusia dan 5) Manusa Yadnya adalah yadnya yang ditujukan untuk memelihara keadaan manusia dari dalam kandungan sampai akhir hidup manusia (Surayin, 2005:3).

Panca Yadnya dalam praktek kehidupan beragama Hindu merupakan satu kesatuan yang harus dilakukan. Namun sebagai sarana meningkatkan kualitas manusia dan memanusiakan manusia maka Manusa Yadnya adalah yang utama untuk dilakukan. Dalam rumusan kitab suci Weda dan kitab sastra Hindu, Manusa Yadnya atau Nara Yadnya itu adalah memberi makan kepada masyarakat (maweh apangan ring krama) dan melayani tamu dalam upacara. Namun dalam penerapanya di Bali , upacara Manusa Yadnya tergolong Sarira Samskara yang intinya adalah meningkatkan kualitas manusia. Upacara ini dilakukan sejak bayi dalam kandungan sampai perkawinan (Tim, 2003:53).

Upacara Manusia Yadnya meliputi : 1) Pangedong-gedongan (Bali) yaitu upacara yang dilakukan sebelum bayi itu lahir yang dalam masyarakat Jawa dikenal sebagai upacara mitu bulanin atau Garbhadhana (India). Inilah Prenatal Education dalam ajaran agama Hindu, jadi pendidikan dilakukan sejak bayi dalam kandungan (Sudharta, 2006:2); 2) Mapag Rare yaitu upacara yang dilakukan pada saat bayi baru lahir; 3) Kepus Puser yaitu upacara yang dilakukan pada saat bayi mengalami pelepasan sisa palasenta yang berada di pusar; 4) Ngelepas Aon yaitu yaitu upacara yang dilakukan setelah bayi berumur 12 hari; 5) Macolongan, Tutug Kambuhan, atau Bulan Pitung Dina yaitu upacara yang dilakukan setelah bayi berumur 42 hari; 6) Nyambutin yaitu upacara yang dilakukan setelah bayi berumur tiga bulan atau 105 hari; 7) Ngotonin yaitu upacara yang dilakukan setelah bayi berumur enam bulan atau 210 hari; 8) Ngempugin yaitu upacara yang dilakukan pada saat anak mulai tumbuh gigi; 9) Maketus yaitu upacara yang dilakukan pada saat gigi anak tanggal pertama kalinya. 10) Munggah Deha yaitu upacara yang menandai kedewasaan seorang anak baik laki-laki maupun perempuan; 11) Mapandes atau potong gigiyaitu upacara dalam rangka menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri (sadripu); 12) Pawiwahan atau Perkawinan yaitu upacara yang mengikat laki-laki dan perempuan kedalam satu ikatan suami-istri.(Arwati, 2003; Tim, 2003; Surayin, 2004, Sudhartha 2006).

Rangkaian upacara Manusa Yadnya diatas menandai tahapan perubahan dalam kehidupan manusia. Tahapan tersebut merupakan petanda terjadinya masa kritis manusia sehingga memohonkan supaya dibersihkan lahir-batin demi kesempurnaan dan keselamatan hidupnya.

 

IKTISAR LONTAR JANMA PRAWERTI

Lontar Janma Prawerti merupakan lontar berbentuk karangan bebas atau prosa dengan bahasa jawa kuno. Terdapat banyak lontar yang bernama sama namun tak jarang isinya antara yang satu dengan yang lain mengandung perbedaan-perbedaan, termasuk Janma Prawerti. Lontar Janma Prawerti yang dijadikan objek material dalam tulisan ini adalah lontar hasil salinan dan terjemahan oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi Bali yang merupakan koleksi dari Gedong Kertya nomor 1c.653. Salinan lontar kedalam huruf latin dengan terjemahan ini terdiri dari 25 halaman salinan dan 32 halaman terjemahan. Lontar ini diawali dengan puja mangala Om Awigenamastu yang berarti memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi wasa supaya tidak ada rintangan. Isinya adalah nasehat dari Sang Hyang Jagatnatha kepada Sang Hyang Aditia yang isinya agar bayi yang baru lahir untuk diberikan upacara dan upakara (pali-pali) untuk menghilangkan sifat kebinatanganya dan menjadikan manusia seutuhnya.

Adapun tahapan proses upacara yang dilakukan semenjak bayi lahir sampai pernikahan sebagai berikut. Pada saat bayi baru lahir upacara dan upakara dapat dilakukan secara sederhana (nista), menengah (madya) dan besar (utama), yang pada intinya upacara yang dilakukan mengunakan sajen pamapag rare dengan sajen pokok dapetan. Bila pusar bayi lepas patut kiranya membuat sajen panglabaan, pada upacara ini yang menjadi pokok adalah penyeneng dan jarimpen. Kemudian pusar bayi ditaruh dalam ketupat kukur, digantung dibawah tempat tidur bayi itu. Bayi itu mulai memakai gelang benang dan memakai ayunan. Pada hari yang keduabelas bayi dibuatkan upakara dengan sesajennya yang penting ialah penyeneng dan jerimpen. Sesudah berumur satu bulan tujuh hari atau 42 hari, bayi dibuatkan upacara bajang colongan, upacara ini juga disebut upcara akakakmbuh. Sesudah bayi berumur tiga bulan atau 105 hari dibuatkan upacara nelu bulanin. Umur enam bulan atau 210 hari bayi mulai menginjak tanah, upacara ini disebut sebagai upacara ngotonin, terdapat pula upakara caru ring bumi yaitu caru untuk tanah karena pada saat ini mengawali bayi turun ke tanah dengan pengasuh pengasuh laki-laki apabila bayinya juga laki-laki dan pengasuhnya perempuan apabila bayinya juga perempuan. Bila gigi bayi mulai tumbuh, dibikinkan upakara dan upacara yang dilaksanakan pada waktu matahari terbit demikian juga pada saat gigi bayi mulai tanggal dibuatkan upacara dengan sesajen yang terpenting adalah sesayut pambersihan dan panyeneng. Jajanganan tidak lagi dibuatkan pada upacara weton (hari lahir) namun yang dibuatkan biakaonan, penebasan dan sesayut. Upacara ngangkid dilaksanakan di tepi laut, mamakai sanggar tutuhan dengan sarana sesajen beserta salaran dan jukung-jukungan.

Wanita yang mulai menginjak dewasa (menek dehe) karena mulai haid melaksanakan babali puja kalib. Upacara ini dimulai dengan upacara penyucian yaitu mandi dengan air bersih yang disertai dengan beberapa jenis daun seperti alang-alang, ancak dan beringin. Sesudah berhias melakukan sembahyang di dapur dilanjutkan dengan sembahyang ke sanggah dan disusul dengan upacara pangekeban. Anak yang sudah menginjak dewasa wajib melakukan upacara potong gigi. Tikar tempat upacara potong gigi mengunakan tikar palasa yang disurat dengan smara ratih, tempat ludahnya kelapa gading yang dikasturi, dirajah berupa adhanareswari. Singgang (penyela) gigi adalah 3 ruas tebu malem, dan cabang dadap. Ludah da kikiran giginya ditanam di belakang sanggar agung.

Upacara selanjutnya adalah pewiwahan atau perkawinan yang mana terdapat petunjuk tentang sarana dan upacara yang harus dilaksanakan. Orang kawin yang belum akrab kambe, tidak boleh keluar rumah, tidak boleh menginjakkan jalan. Pada saat itu pengantin harus melaksanakan brata silih asih (bercinta-cintaan), tidak boleh berpisah.

Demikian isi pokok lontar Janma Prawerti yang tentunya sedikit berbeda dengan konsepsi Manusa Yadnya  Hindu pada umumnya karena didalamnya terdapat perbedaan khusunya pada bagian awal tidak menyertakan upacara sebelum bayi lahir atau masa dimana ibu mengandung. Kemudian terdapat banyak bagian yang secara langsung tidak terhubung dengan upacara Manusa Yadnya karena setelah upacara perkawinan lontar ini menceritakan perihal matatagon atau bertunangan. Proses ini diceritakan panjang lebar khususnya barang bawaan pihak laki-laki kepada pihak perempuan, kebanyakan berupa jajan, nasi dan lauk pauknya. Upacara yang tidak berhubungan dengan manusa yadnya ialah sasapaning ajijiwan, yang umumnya dilaksanakan pada upacara mapeselang. Bagian selanjutnya menceritakan upacara manebusan wawatekan weton dengan disertai mantra-mantra seperti Siwageni, Siwa Baruna, Marga Gamana, Tirthagamana, Siwalingga, Lindugamana, Wanagamana, Budagamana, Suryagamana, Durgagamana, Triloka, Naragnia, Ganggagamana, Kalikagamana, Wisnupanjara, Girigamana, yang memakai bahasa sansekerta kepulauan. Bagian terakhir lontar ini terdapa  lagi uraian sajen bajang colongan yang lebih tererinci bila dibandngkan dengan bagian depan lontar ini serta uraian sajen sasakapan akalan-kalan yang sebelumnya tidak diuraikan secara rinci.

 

MANUSA YADNYA DALAM JANMA PRAWERTI

Yadnya dalam kehidupan manusia sangatlah penting seperti nasehat yang disampaikan oleh Sang Hyang Jagadnatha kepada Sang Hyang Aditya pada bait ke 1 sebagai berikut “Ri kalaning rare metu hana ring rat, yogya sira aweh pali-pali ring manusa pada, yan tan sira aweh pali-palining rare samangkana, lwir sarpa sato kramanya; nanging ri kala nira aweh pali-pali, wenang sumaksyakena ring Sang hyang Siwaditya”. Artinya, pada saat bayi lahir kedunia, patutlah mereka diberi upacara di alam manusia ini. Kalau tidak diberi perlengkapan upacara bayi yang demikian, maka prilakunya akan seperti binatang, tetapi pada saat dibuatkan upacara patut diupasaksi dihadapan Sang Hyang Siwaditya. Hal tersebut senada dengan yang disampaikan oleh Tim (2003:53) bahwa upacara Manusa Yadnya tergolong kedalam Sarira Samskara yaitu peningkatan kualitas yang juga dapat diartikan manusiakan manusia, menjadikan manusia seutuhnya dan terlepas dari sifat kebinatangannya. Selain itu menurut Dr. Gandner dan Jewans (dalam Sudharta, 2006:12-13) kelahiran bayi kedunia merupakan kejadian yang sangat mengesankan bagi orang jaman dulu dan dipercayai bahwa kejadian itu banyak mengandung bahaya sehingga untuk menghindari hal tersebut maka banyak macam am hal ditabukan dan dilarang. Selain itu keadaaan yang lemah dari badan Ibu dan bayi yang baru lahir membuat penjagaan dan perawatan yang khusus sangat diperlukan. Sehubungan dengan menjaga keselamatannya maka diadakan upacara yang berhubungan dengan kedua insan tersebut. Hal ini juga sebagai bukti tanggung jawab sang bapak dalam melindungi istri dan anaknya dari segala bahaya baik natural maupun supra natural.

Manusa Yadnya dalam lontar Janma Prawerti ini memperlihatkan perbedaan dengan dengan naskah yang lain dan konsepsi hindu secara umum teretak pada tidak disertakanya upacara sebelum bayi lahir atau masa dimana ibu mengandung. Menurut Oka (2009:149) upacara bayi dalam kandungan yang disebut magedong-gedongan dilakukan ketika janin berumur 5 bulan. Secara rohaniah upacara ini bertujuan sebagai embersih dan pemelihara kesehatan ibu dan anak dengan harapan agar anak yang akan lahir nanti menemukan kebahagiaan dan menjadi anggota masyarakat yang berguna (suputra). Kepada si ibu dan bapak diharapkan selalu menghindari perbuatan dan tingkah laku yang kurang baik untuk senantiasa melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat karena apa yang dilakukan orang tua akan berpengaruh kepada si bayi, inilah yang dinamakan pendidikan pranatal semasih bayi dalam kandungan. Demikian juga gambaran pendidikan pranatal ini tertuang kedalam kisah Mahabharata antara Arjuna dengan Saubadra yang mengandung Abimanyu. Pada saat masih dalam kandungan diceritakannya formasi perang cakravyuha namun sebelum selesai semuanya diceritakan Saubadra tertidur lebih dahulu mengakibatkan formasi itu hanya bisa didengan oleh Abimanyu sebagian saja. Akhirnya pada saat Bharata Yudha terjadi Abimanyu gugur karena hanya mampu menembus formasi tersebut tanpa bisa keluar akibat cerita yang sebagian saja.

Upacara magedong-gedongan di Bali sebagai salah satu rangkaian Manusa Yadnya dilakukan juga di Jawa dengan nama dan tahapan yang berbeda, upacara ini disebut dengan Garba Dhana Samskara. Bertujuan mengungkapkan rasa syukur atas karunia Sang Hyang Widhi telah dianugerahi janin dalam kandungan ibu, maka dilakukan upacara untuk memohon kesehatan dan keselamatan bayi dan ibunya untuk nanti menjadi anak yang suputra. Tahapan upacara yang harus dilalui dimulai dengan Mandeg yaitu usia 1 bulan dalam kandungan, Nelonin yaitu usia 3 bulan dalam kandungan, Mitonin yaitu usia 7 bulan dalam kandungan dan Procotan yaitu usia 9 bulan dalam kandungan (Tim, 2009:11).

Upacara Baligia Rare mengawali keseimbangan jasmani dan rohani sebagai kesempurnaan kehidupan dalam Lontar Janma Prawerti. Upakara dalam kaitanya Manusa Yadnya dapat dilakukan dalam beberapa tingkatan yang berbeda antara Nista, Madya dan Utama, bahkan dalam beberapa hal tingkatan tersebut dapat terbagi lagi menjadi sembilan baigian yaitu Nistaning Nista, Nistaning Madya, Nistaning Utama, Madyaning Nista, Madyaning Madya, Madyaning Utama, Utamaning Nista, Utamaning Madya, Utamaning Utama. Hal ini menunjukan fleksibelitas dalam keberagamaan umat Hindu untuk tidak menyama-ratakan kemampuan manusia dalam melaksanakan upacara. Faktanya kemampuan baik materi yang diwakili dengan kemampuan finansial dan kemampuan rohani dalam hal keiklasan melaksankan upacara menjadi dasar perbedaan kemampuan setiap individu yang dimungkinkan tidak menjadi beban bagi pelaksanaan upacara tersebut menginggat tujuan upacara ini adalah untuk memanusiakan manusia. Perbedaan tingkatan upacara bukan berarti membedakan kualitas, tingkatan tersebut didasarkan jumlah materi upakara dalam upacara, bukan berarti yang besar dan utama itu yang baik, dan sebaliknya upakara yang nista adalah jelek. Akan tetepi upacara yang utama memerlukan materi yang lebih banyak sedangkan yang nista memerlukan bahan yang lebih sedikit (Surayin, 2005:7-8). Hal tesebut tercantum kedalam Bait ke-2 seperti berikut.

 Kramaning pali-pali baligya rare, wenang manista madya utama. utamannya : madudus agung, masanggar rong tiga. Madyanya masanggar rong besik. Nistanya tan pa sanggar. Mangkana ta kramanya.

 

Artinya :

Uraian upacara upakara kelahiran seorang bayi dapat dilakukan secara sederhana, menengah dan utama. Upacara yang utama adalah dengan madudus agung memakai sanggar rong tiga, yang menengah memakai sangar rong satu dan yang terkecil tanpa mengunakan sanggar. Demikian pelaksanaanya.

Upacara Magpag Rare. Secara sederhana upacara ini dapat diartikan sebagai upacara penyambutan atas kelahiran sang bayi. Tahapan ini merupakan salah satu tahapan kritis mengingat bayi baru saja lahir kedunia yang membutuhkan penyesuaian dengan lingkungan yang baru, maka dibutuhkan perhatian dan perawatan khusus begitu juga dengan sang ibu. Inilah bentuk korban suci yang dilakukan supaya bayi dan ibunya dalam keadaan baik dan sehat. Hal tersebut nampak jelas terlihat melalui rangkaian upacara yang dilakukan dalam kaitanya dengan perlindungan terhadap bayi secara skala maupun niskala melalui pembuatan pelangkiran Kumara, dimaksudkan supaya Sang Hyang Kumara menjadi pengasuh dan pelindung bagi sang bayi (Sudharta, 2006:16). Selain itu dibuatkanlah upacara dengan hal terpenting yaitu dapetan. Dapetan pada tingkat yang utama mamakai sanggar rong tiga pemagpag yaitu panjeneng, jerimpen di wakul, sajen kurenan, jerimpen tegeh, maguling bebek, guling celeng dan sarana lain yang mendukung sebagai upacara yang utama, disertai dengan dibunyikanya meriam, narantaka, bunyi-bunyian seperti kentongan, kendang dan gambelan. Dapetan pada tingkat madya yaitu panjeneng, jerimpen di wakul, sajen kurenan serta dapetan pada tingkat yang sederhana hanya mengunakan sega jit kukusan. Adapun hal tersebut diatas tercantum dalam bait-3 seperti berikut.

Nihang kramaning rare wawu mijil, manista madya mottama, wawu mijil wenang makarya dapetan, makadi pamapag, lwirnya : panyeneng, jarimpen diwakul mwang kurenan, mwah jerimpen tegeh, makadi pamapag maguling bebek, guling celeng, mwang sapatutane uttama, muni tang lela, narantaka mwang kulkul,pada asahuran, tinut padahi muhara saha unyan-uayan.

 

Artinya :

Beginilah perihal bagi bayi baru lahir tingkatan sederhana, menengah, dan besar. Patut membuat sajen dapetan, sebagai pemagpag uraianya: panyeneng, jerimpen di wakul, sajen kurenan, jerimpen tegeh, sebagai pemagpag maguling bebek, guling celeng, dan segala perlengkapan yang tergolong utama, dibunyikan meriam, narantaka dan kentongan bunyi-bunyian yang gemuruh, disertai dengan kendang dan gambelan. Dapetan yang menengah : penyeneng, jerimpen di wakul dan sajen kurenan. Dapetan yang sederhana : sega jit kukusan tapi kecil.

Upacara Kepus Puser. Pada saat tali pusar bayi baru lepas maka akan dilakukan upacara dengan dibuatkan banten penglabaan yang terdiri dari panyeneng, jerimpen di wakul dan sajen kurenan, jerimpen tegeh, pujung lengkap dengan lauk pauknya, ayam sajen jotan yang ditabtab, ketupat pesor, entil, jenis-jenis jajan dan bantal, maloloh, bergelang benang, memakai ayunan dan kemudian tali pusat tersebut di gantung dibawah tempat tidur bayi. Upacara ini juga dinamai dengan Ngelapas Aon mengingat jaman dulu pemetongan tali pusat dilakukan dengan cara sederhana yaitu menaburkan abu dapur dan memotong mengunakan sembilu untuk menjaga higienis supaya tidak infeksi (Sudharta, 2006:21-22)

Mwah ri tekaning kesah udeling rare, wenang manggawe panglabaan, lwirnya : panjeneng, jerimpen diwakul mwah kurenan, jarimen tegeh, mwah punjung benya genep, isineng sawah isining tuad, isin las, isin pasih, bawi, bebek, sata, jotan pacang ayab, mwah katipat pesor, entil, sasanganan, bantal, sapatuting panglabaan. Mwang maloloh, magelang benang, mayunan. Mwah puser ikang rare wadahakena katipat kukur, gantung rng sor rarene aturu, mwang sangsangan wastra, gelang, bungkung wmang sekar.

 

Artinya:

Apabila tali pusarnya telah lepas patutlah dibuatkan sesajen penglabaan seperti : penyeneng, jerimpen di wakul dan sajen kurenan, jerimpen tgeh, serta punjung lengkap dengan lauk-pauknya ikan sunga, ikan sawah, daging isi hutan, ikan laut, babi, itik, ayam sajen jotan yang ditatap dan ketupat pesor, entil, jenis jajan dan bantal, dan segala perlengkapan sajen panglabaan, maloloh, bergelang benang, memakai ayunan. Tali pusar bayi itu dimasukan pada ketupat kukur, kemudian digantung dibawah tempat tidur bayi dengan sangsangan kain, gelang, cincin dan bunga.

Upacara Ngerorasin. Pada saat bayi berumur 12 hari maka dilakukan upacara Ngerorasin yaitu upacara yang dimaksudkan untuk memperkuat kedudukan atman sang bayi dengan sekaligus membersihkan badan halus bayi dari kotoran yang dibawa dari dalam rahim ibu yang dipengaruhi oleh empat saudara atau catur sanak. Dengan upacara ini dimaksudkan pula untuk membersihkan catur sanak tersebut mengingat pada waktu lahir masih bernama Bhuta Nyom, Bhuta Rah, Bhuta Ari-ari, dan Bhuta Tabunan maka setelah dibutkan upacara ini maka namanya diganti menjadi Angapati, Rajaspati, Baraspati, dan Baraspati Raja (Sudharta, 2006:22). Lebih lanjut Sudharta mengatakan (2006:23) pada saat ini zaman dulu di Bali adalah saat yang tepat untuk memberikan nama si bayi, begitu juga di India disebut Namakara. Namun dewasa ini tak jarang nama sudah dipersiapkan sebelum bayi itu lahir. Pemberian nama kepada sang bayi memperkokoh keberadaannya sebagai bagian dari keluarga untuk mendapat perhatian yang lebih. Upacara ini dilakuakan dengan membuat sajen  seperti panyeneng, jerimpen di wakul dan sajen kurenan, jerimpen tegeh, penebusan dan disertai dengan adanya pertunjukan seperti tari wali, joged atau wayang seperti tercantum dalam bait ke-5.

Upacara Kambuhan. Pada saat bayi berumur 42 hari atau satu bulan tujuh hari maka diadakan upacara-upakara bajang colong, akakambuh. Setelah usia bayi genap satu bulan tujuh hari batu upacara ini dilakukan yang ditujukan kepada sang bayi dan ibunya untuk pembersihan diri terhadap linkungan sekitar karena sebelum upacara ini dilakukan keberadaan orang tua terutama sang ibu dianggap kotor atau cuntaka sehingga belum diperbolehkan memasuki tempat suci. Hal ini seperti halnya upacara pelepasan sang ibu dari karantina akibat harus memfokuskan perhatiannya kepada sang bayi, dan masa 42 hari telah mulai mengembalikan kestabilan sang ibu. Upacara pembersihan ini dinamakan byakawon prayascita setelah itu bayi dan orang tuanya diperbolehkan memasuki tempat suci (Sudharta, 2006:26-27). Arwati (2003:14-20) mempertegas bahwa pembersihan bayi dimohonkan kehadapan Dewa Brahma melalui dapur, Dewa Wisnu melalui pemandian dan Dewa Siwa di Sanggah Kemulan untuk mendapatkan pembersihan jasmani dan rohani agar memperoleh kehidupan yang baik. Demikian upacara ini dijabarkan dalam pada bait ke-6.

Mwang ri tekaning sawulan pitung dina, nihan pali-pali bajang colong, akakambuhan, nga, bantenya ring kayehan, lwirnya daksina 1, punjung 1, peras pengambean, sorohan, pengulapan pada 1, mwah buki1, makalung tapis, mwah papah nyuh bolong macolek pamor maobeng-obeng. Bantenya : guling kodok, balang, capung, siap samalulung majabung ring magine pada 1, mwah tegen-tegenan, mwah papah jaka madaging lidi tusukin sekar magenah ring bukine, bantenya : tumpeng atanding, pusuh byu 1, makamben masubeng.

 

Artinya :

Ketika bayi berumur satu bulan tujuh hari patut dibuatkan upacara-upakara bajang colong, akakambuhan nama sajennya. Dipermandian: daksina 1, peras pengambean, sorohan, pengulapan masing-masing satu soroh, sebuah periuk makalung tapis, pelepah kelapa yang berlubang diisi tepak dara, gambar rare bajang dengan kapur, sajennya : tumpeng, jantung pisang sebuah pakai kain dan mesubeng, sajen didapur : daksina 1, canang genten atanding tumpeng merah, daging ayam berbulu merah yang dipanggang. Dipara-para dapur dan dibawah soda  sebuah,  peras pengambean, sorohan dan pangulapan, tegen-tegenan dan segehan.

Upacara Tigang Sasih. Upacara ini dilakukan pada saat bayi berumur tiga bulan atau 105 hari mengingat satu bulan menurut perhitungan sasih adalah 35 hari. Menurut Sudahta (2006:28-29) hal yang sama juga dilakukan di India dengan nama Niskarmana yang menandai bahwa bayi dapat diajak keluar untuk melihat matahari unruk yang pertama kalinya kemudian baru sebulan berikutnya diperbolehkan untuk melihat bulan. Seakan hal ini memperlihatkan adanya penyesuaian diri sang bayi untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Perbedaan siang dan malam juga memperlihatkan adanya perbedaan cuaca antara keduanya. Sedangkan di Bali upacara ini bermakna sebagai perpisahan antara sang bayi dengan saudara empatnya yang membatu lahir kedunia namun hanya secara skala namun secara niskala hubunga itu dipererat dengan membersihkan kembali keempat unsur tersebut dengan upacara seperti pada bait 7 berikut ini.

Mwah ri tiga leking rare, lwirnya: penyeneng, penyambutan, jajanganan, penebusan, jerimpen diwakul mwah kurenan, mwah jarimpen tegeh, penyembutan, jaja bagina putih. Nasi labaan anake cenik, bene masambel bawang, mwah peras peyeneng, telung sesayut, ibu sugih, pakekeh mapabangkit, pengiring tutuhan, sesayut agung, pulagembal, sekar sataman, suci asoroh, bajang colong.

 

Artinya :

Pada saat bayi berumur tiga bulan upakaranya : panyeneng, penyembutan, jajanganan, panebusan, jerimpen di wakul dan kurenan, jerimpen tegak, peyambutan, jajan bagina putih. Nasi labaan si bayi ikanya memakai sambal bawang dan peras penyeneng, tulung sesayut agung, bunga setaman, suci asoroh, sorohan, bajang colong, kalau menancapkan sanggah, munggah suci asoroh, ring sor caru disertai gelar sanga. Setelah orng tua si bayi sembahyang maka si bayi meeteh-eteh, diperciki tirta matebusan, masasarik, majaya-jaya, natap asep semua penyeneng diayah.

 

Upacara Otonan.  Upacara ini desebut juga ngotonin atau wetonan, weton berasal  dari kata wetu yang berarti keluar atau lahir (sudharta, 2006:34) sehingga upacara ini dilakukan  untuk memperingati hari kelahiran sang bayi untuk pertama kalinya. Untuk itu rangkaian upacaranya dilakukan pada saat bayi berumur 210 hari atau enam bulan dalam perhitungan pawukon, tepat pada  panca wara, sapta wara dan wukunya sama dengan ketika bayi itu lahir. Peringatan hari kelahiran ini menandai fase perubahan dengan hal yang utama bahwa bayi sudah boleh menapaki tanah. Pada saat turun ke tanah pada bait ke-9 dijelaskan bahwa hal yang penting adalah “yan lanang kang rare, wong lanang pangembannya”, yen wadon kang rare wong wadon kang pangembang (apabila bayinya laki-laki maka yang menurunkanya adalah laki-laki, jika perempuan maka yang menurunkanya juga perempuan), secara lebih lengkap disampaikan pada bait ke-8.

Rawuh nem leking rare, irika turun ring tanah. Nihang tangkahing anuraken rare, acaru ring bumi, banten suci adanan, mwang peras lis, tulung sesayut katututan, tehenan, sang urip, pakeh, sami pada masiki. Mwah canang tubungan, nyanyah gula kelapa, byu mas. Malih gogo-gogoan, salwiring daging lwah, daging sawah sami urip, batu bulitan, telung sawah, mwah udang mas, nyalyan salaka, yuyu tembaga, kakul salaka. Malih kancana rajata sami pada asiki, mwang nawaratna pinakadi, sasari gung artha 225, kurungan anyar 1, malih pitik sumagor atangkep mapenjor papahing lirang, tekaning ronya mesi kembang, tungked bumbungan, carang dapdap. Malih sampat anyar 1, talini suntagi tridatu, kakrincingan, jinah 11. Malih banten : canang tubungan 1, raka nyayah gula kelapa, pisang mas. Mangkana tembening rare alit, tumedun saha tabehan, onya-onya mwah raramyan.

 

Artinya:

Pada saat bayi berumur enam bulan, saat itu mulai turun tanah. Beginilah tata cara menurunkan bayi di tanah, carunya pada bumi sajen suci adanan, peras dan lis, tulung sasayut diikuti dibelakangnya sangga urip, pakekekeh masing-masing asoroh. Disertai canang tubungan, nyanyah gula kelapa, pisang mas. Dilengkapi dengan gagogoan, segala jenis isi sungai, isi sawah semua hidup, batu bulitan, telor sawung, dan udang mas, nyalian salaka,  kepiting tembaga, keong salaka. Serta mas perak masing-masing satu buah, serta permata mulia yang paling utama. Sesari besanya 225, sangkar ayam yang baru 1, anak ayam sumangor sepasang, mapenjor pelapah enau sampai daunya berisi bunga, tongkat bungbungan, cabang dadap, lagi sapu baru talinya benang tridatu, kekrancingan uang kepeng 11. Adapun sajen penjor, canang tubungan sebuah, raka nyanyah gula kelapa, pisang mas. Demikian permulaan bayi satu oton baru turun ke tanah disertai dengan bunyi-bunyian atau hiburan.

 

Pada saat gigi anak mulai tumbuh sekiranya juga melakukan upacara pada saat matahari baru terbit dengan sarana tumpeng andandanan, ayam pangang, raka, peras, patinjo kukus, tumpeng agung apuncak manik guling itik dan peras lis (bait ke-9). Kemudian pada saat gigi mulai tanggal untuk yang pertama kalinya wenang makarya sesayut pabresih saha panyeneng (bait ke-10).

Upacara Menek Dehe. Setiap anak tumbuh menjadi dewasa, yang akan mengalami perubahan dalam hidupnya. Perubahan tersebut tentunya tidaklah sama pada setiap anak, perbedaan kelamin juga menjadi hal yang penting untuk membedakan antara satu dengan yang lainya disamping perbedaan hal-hal yang lainya. Hal yang nampak dapat menjadi tanda perubahan tersebut adalah perubahan dalam fisik. Pada laki-laki akan terjadi perubahan pada suara dan tumbuhnya rambut pada daerah tertentu. Begitu juga dengan perempuan, datang bulan pertama menjadi tanda akan hal tersebut disamping tumbuhnya rambut di dearah tertentu yang disertai dengan mulai membesarnya payudara (Sudharta, 2006:42). Pada saat inilah dilakukan upacara Menek Dehe atau juga disebut dengan Ngerja Swala. Upacara ini diawali dari pembersihan baik secara skala maupun diskala dengan mandi mengunakan sarana bunga sataman, yang dilanjutkan dengan sembahyangdi dapur kemudian dilanjutkan ke sanggar agung. Pada bait ke-13 hal tersebut dijabarkan seperti berikut.

Nihang kramaning wong wadon yan ababali, wahu puja kalib, pahayukena, asisiraha rumuhun, awida, ajemu, akakerik, akajamas, asrebuk, mwah kase lawan candu.

 

Artinya :

Ini tata cara mengupacarakan orang perempuan yang sedang meningkat dewasa. Patut dibuatkan selamatan yang didahului dengan sisig (mencuci mulut), memakai lulur, membersihkan kuku, mandi, berkeramas, memakai bedak, berkaca, membersihkan gigi, memakai pemerah bibir.

Upacara Potong Gigi dalam beberapa lontar di Bali seperti Dharma Kahuripan, Ekapratama, Puja Kalapati dan juga Janma Prawerti disebut sebagai upacara Atatah. Maka istilah yang umum dipakai adalah Metatah, Mapandes atau Masangih. Menurut Purwita (1989:12) upacara ini mengandung pengertian sebagai pergantian prilaku untuk menjadi manusia sejati yang telah dapat mengendalikan diri dari Sad Ripu yaitu keinginan, (kama), kemarahan (kroda), ketamakan (loba), kebingungan (moha), kemabukan (mada), iri hati (matsarya).  Sebagai pemenuhan kwajiban orang tua terhadap anak, yaitu menghantarkan anak pada tingkatan kehidupan yang lebih tinggi  dari yang sebelumnya supaya nanti siap dalam menjalani kehidupan mandiri (grahasta). Sebagai jalan mematuhi ajaran agama bahwa setelah kehidupan ini supaya dapat berkumpul dan bertemu antara anak dengan orang tua di surga.

Upacara Perkawinan. Tahapan kehidupan dalam Hindu dinamakan Catur Warga, terdiri dari Brahmacari (masa menuntut ilmu), Grhastha (masa berumah tangga), Wanaprasta (masa mengasingkan diri), dan Biksuka (masa meningalkan ikatan keduniawian). Perkawinan merupakan tahapan kedua dalam kehidupan ini. Perkawinan bersifat religius karena berhubungan dengan kwajiban seseorang memiliki keturunan (Sudharta, 2006:71) sehingga hal tersebut merupakan suatu ritual yang memberikan kedudukan yang sah menurut Hindu. Dalam Rgveda X. 85. 23 dikatakan Sam jaaspatyam suyamam astu devah (Hyang Widhi, semoga kehidupan pernikahan ini tenteram dan bahagia), Rgveda VI. 15. 19 mengatakan Asthuuri no gaarhapatyaani santu (Semoga hubungan suami-istri ini tidak pernah putus dan berlangsung selamanya) dan Rgveda X. 85. 42 mengatakan Ihaiva stam maa vi yaustam, Visvaam aayur vyasnutam, kriidantau putrair naptrbhih, modamaanau sve grhe (Semoga pasangan suami-istri ini tetap erat dan tak pernah terpisahkan, mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan, tinggal di rumah dengan hati gembira, dan bersama bermain dengan anak-anak dan cucu-cucu).

Pernikahan atau wiwaha dalam Agama Hindu adalah yadnya dan perbuatan dharma. Wiwaha (pernikahan) merupakan momentum awal dari Grahasta Ashram yaitu tahapan kehidupan berumah tangga. dalam adat Hindu di Bali merupakan upaya untuk mewujudkan hidup Grhasta Asmara, tugas pokoknya menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut „Yatha sakti Kayika Dharma“ yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma secara profesional haruslah dipersiapkan oleh seorang Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan.

Lontar Janma Prawerti menjabarkan secara terperinci proses menuju perkawinan diawali dengan berpacaran sebagai cara awal mengenal calon pasangan dan calon keluarga secara lebih dekat. Nihan kengetaken tingkahing matatagon. Ping rahin pamargine, mangrarawat, nga. Yan wantah ngenakin raris makta aled pangada, nga. (ini yang patut diingat prilaku berpacaran. Terlebih dahulu jalanya mangrarawat namanya. Jika memang cocok, lalu aled penganda namanya.) setelah ada penerimaan yang baik dari keluarga si gadis barulah proses selanjutnya melamar atau lamaran dilakukan. Setelah mencapai kesepakatan maka dilakukan prosesi pernikahan yang dinamakan dengan Krida Krama. Secara singkat dijabarkan pula kwajiban sebagai pengantin pada bait ke-38 yaitu mwah papangantyan, yan durung akrab kambe, haywa sira umetwing umah, angideki lebu agung, bwat ilanya. Nihang dharmanya sang papangantyan, yan wus atemu smara, haywa ipal-ipal sari sarya angken ratrya ring jroning paturuan, abrata silih asih, kang putra lawan putrika, yan durung subha diwasa, bwat agawe ila-ila phalanya ( untuk kedua pegantin jika belum diupacarai jangalah ke luar rumah, menginjak jalan umum, amat berbahaya. Ini adalah kwajiban sang pengantin, setelah melakukan senggama, jangan tergesa-gesa meninggalkan tempat tidur, jangan pula setiap malam di tempat tidur. Hendaknya menjalankan janji diri silih asih yaitu saling mengasihi antara pria dan wanita, jika belum hari baik, kalau dilanggar amat berbahaya akibatnya). Dipertegas kembali bahwa sebagai suami hendaknya tidak terpisahkan dengan istrinya apalagi sampai bermain dengan wanita lain, hal ini sangat berbahaya bila dilanggar. Brata silih asih ini harus dilaksanakan dalam empat puluh dua hari.

Kewajiban Suami dan Istri juga disampaikan dalam kitab-kitab yang lain, Mameyam astu posyaa, mahyam tvaadaad brhaspatih, mayaa patyaa prajaavati, sam jiiva saradah satam, “Engkau istriku, yang dianugrahkan Hyang Widhi kepadaku, aku akan mendukung dan melindungimu. Semoga engkau hidup berbahagia bersamaku dan anak keturunan kita sepanjang masa”.(Atharvaveda XIV.1.52). Suami hendaknya berusaha tanpa henti untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi keluarganya, menafkahi istri secara lahir dan batin, merencanakan jumlah keluarga, menjadi pelindung keluarga dan figur yang dihormati dan ditauladani oleh istri dan anak-anaknya. Samraajni svasure bhava, samraajni svasrvam bhava, nanandari samraajni bhava, samraajni adhi devrsu “Wahai mempelai wanita, jadilah nyonya rumah tangga yang sesungguhnya, dampingilah (dengan baik) ayah ibu mertuamu, dampingilah (dengan baik) saudara saudari iparmu” (Rgveda X.85.46). Yantri raad yantri asi yamani, dhruvaa asi dharitrii “Wahai wanita jadilah pengawas keluarga yang cemerlang, tegakkanlah aturan keluarga, dan jadilah penopang keluarga” (Yajurveda XIV.22). Viirasuup devakaamaa syonaa, sam no bhava dvipade, sam catuspade “Wahai wanita, lahirkanlah keturunan yang cerdas, gagah, dan berani, pujalah selalu Hyang Widhi, jadilah insan yang ramah dan menyenangkan kepada semua orang, dan peliharalah dengan baik hewan peliharaan keluarga” (Regveda X.85.43). Seorang istri hendaknya selalu setia kepada suami, rajin dan taat dalam menjalankan puja bhakti kepada Hyang Widhi, melahirkan dan memelihara anak-anak agar cerdas gagah dan berani, selalu menopang keluarga dan menjalankan aturan dengan baik, berbicara dengan lemah lembut kepada semua orang, menghormati keluarga mertua, menjaga dan mengatur harta keluarga, tanaman, dan hewan peliharaan milik keluarga dengan baik. Bila demikian, niscaya keluarganya akan bahagia dan sejahtera selalu.

Dalam Manawa Dharmasastra ada delapan cara perkawinan, yaitu: Brahma Wiwaha: perkawinan terhormat di mana keluarga wanita mengawinkan anaknya kepada pria yang berbudi luhur dan berpendidikan yang dipilih oleh orang tua gadis. (Manawa Dharmasastra Bab III.27), Dewa Wiwaha: orang tua mengawinkan anak gadisnya kepada pria yang telah berjasa (non material) kepadanya. (Manawa Dharmasastra Bab III.28), Arsa Wiwaha: orang tua mengawinkan anak gadisnya kepada pria yang memberikan sesuatu (material) kepadanya. (Manawa Dharmasastra Bab III.29), Prajapatya Wiwaha: perkawinan yang direstui kedua pihak baik dari keluarga laki maupun keluarga wanita. (Manawa Dharmasastra Bab III.30) dan Gandharwa wiwaha: perkawinan atas dasar saling mencinta di mana salah satu atau kedua pihak orang tua tidak turut campur, walaupun mungkin tahu. (Manawa Dharmasastra Bab III.32)

Upacara dan upakara dalam manusa yadnya ini menjadi hakekat dari semua yadnya yang dilakukan oleh  umat Hindu. hal tesebut didasarkan pada hampir semua upacara Panca Yadnya awal dan akhirnya adalah untuk kesejahteraan manusia. Dewa Yadnya dilakukan untuk mendapat kerahayuan hidup didunia dari Ida Sang Hyang Widhi untuk manusia. Rsi Yadnya dilakukan karena hutang terhadap para maha rsi atas ajaran tentang pengetahuannya untuk manusia. Pitra Yadnya dilakukan sebagai wujud bakti kepada para leluhurnya sepaya selalu dilimpahkan kerahayuan, Butha Yadnya yang ditujukan kepada para Bhuta supaya mereka somya yang akhirnya tidak mengangu aktifitas manusia demikian pula rangkaian upacara Manusa Yadnya yang didalamnya terkandung rangkaian Panca Yadnya juga bermuara pada manusia agar dapat mencapai tujuannya yaitu moksartam jagadhita yaca iti dharma.

 

PENUTUP

Manusa Yadnya adalah korban suci yang bertujuan untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir bathin manusia mulai dari sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai pada akhir hidup manusia itu. Pembersihan lahir bathin manusia sangat perlu di lakukan selama hidupnya, karena kebersihan itu dapat menimbulka adanya kesucian. Kebersihan ( kesucian ) secara lahir bathin ini dapat menghindarkan manusia itu sendiri dari jalan yang sesat. Dengan kebersihan tersebut, manusia akan dapat berpikir, berkata dan berbuat yang benar sehingga dapat meningkatkan dirinya ke taraf hidup yang lebih sempurna.

Panca Yadnya yang teriri dari Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya dan Manusa Yadnya semuanya diperuntukan agar manusia bisa mencapai tingkatan kehidupan lebih baik, bahagia didunia dan diakhirat moksartam jagadhita yaca iti dharma, Sehingga dalam hal ini Manusa Yadnya menjadi inti dari Panca Yadnya.

Janma Prawerti menjabarkan hal tersebut melalui beberapa tahapan dari Mapag Rare yaitu upacara yang dilakukan pada saat bayi baru lahir; Kepus Puser yaitu upacara yang dilakukan pada saat bayi mengalami pelepasan tali pusar;  Ngrorasin yaitu yaitu upacara yang dilakukan setelah bayi berumur 12 hari; Tutug Kambuhan, atau Bulan Pitung Dina yaitu upacara yang dilakukan setelah bayi berumur 42 hari; Nyambutin yaitu upacara yang dilakukan setelah bayi berumur tiga bulan atau 105 hari; Ngotonin yaitu upacara yang dilakukan setelah bayi berumur enam bulan atau 210 hari; Ngempugin yaitu upacara yang dilakukan pada saat anak mulai tumbuh gigi; Maketus yaitu upacara yang dilakukan pada saat gigi anak tanggal pertama kalinya; Munggah Deha yaitu upacara yang menandai kedewasaan seorang anak baik laki-laki maupun perempuan; Mapandes atau potong gigiyaitu upacara dalam rangka menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri (sadripu); Krida Karma atau Perkawinan yaitu upacara yang mengikat laki-laki dan perempuan kedalam satu ikatan suami-istri.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arwati, Ni Made Sri, 2003. Manusa Yadnya (Upacara Bayi Lahir Sampai Ngotonin). Denpasar : Pemerintah Propinsi Bali.

Griffith, R.T.H, 2005. Yajurveda Samhita. Penterjemah : Dewanto, S.S. Surabaya : Paramita.

Hardjana, AM, 2005. Religiusitas, Agama dan Spiritual. Yogyakarta : Kanisius.

Maswinara, I Wayan, 1999. Veda Sruti, Rg Veda Samhita, Sakala Sakha Mandala I, II, III. Surabaya : Paramita.

Maswinara, I Wayan, 2004. Veda Sruti, Rg Veda Samhita, Sakala Sakha Mandala IV, V, VI. Surabaya : Paramita.

Pudja, G, dan Sudharta, Tjokorda Rai, 2002. Manawadharmasastra (Manu Dharma Sastra) atau Weda Smerti Compendium Hukum Hindu. Jakarta : Felita Nursatama Lestari.

Sayanacarya, Of Bhasya, 2005. Atharvaveda Samhita I. Penterjemah : I Wayan Sudiastawan, Ida Ayu Wijayanti, Dewanto. Surabaya : Paramita.

Sayanacarya, Of Bhasya, 2005. Atharvaveda Samhita II. Penterjemah : Ivan Taniputra. Surabaya : Paramita.

Sudharta, Cok Rai, 2006. Manusia Hindu dari Kandungan Sampai Perkawinan. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha.

Sura, I Gede dan Musna I Wayan. 1993. Materi Pokok Weda. Jakarta : Direktoral Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha dan Universitas Terbuka.

Surayin, Ida Ayu Putu, 2004. Seri IV Upakara Yajna, Manusa Yajna. Surabaya : Paramita.

Surayin, Ida Ayu Putu, 2005. Seri I Upakara Yajna, Melangkah Ke Arah Persiapan Upakara-Upacara Yajna. Surabaya : Paramita.

Tim Penterjemah, 1998. Janma Prawerti. Denpasar : Kantor Dokumentasi Budaya Bali.

Tim Penyusun, 2003. Panca Yadnya : Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Resi Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya. Denpasar : Pemerintah Propinsi Bali.

 

 

 

Read 68135 times Last modified on Wednesday, 31 December 2014 05:30