Wednesday, 24 January 2018

Transformasi Ajaran Weda Dalam Agama Hindu Di Bali

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Thursday, 03 April 2014 07:24
Rate this item
(1 Vote)

 

TRANSFORMASI AJARAN WEDA DALAM AGAMA HINDU DI BALI : UPACARA NGABEN

 

(HISTORICAL APPROACH)

Susilo Edi Purwanto, S.Ag., M.Si

 

PENDAHULUAN

 

Hinduisme di Indonesia mengalami perjalanan yang panjang. Dimulai awal abad masehi pada sampai saat ini. Zaman Brahmana di India khususnya disaat Agama Hindu mengalami kebangkitan kembali sekitar 200 SM-300 M (revivalis of Hinduiisme ) dari keterpurukan yang disebabkan oleh berkembangnya agama Buddha maka berkembanglah Agama Hindu Brahmanisme atau disebut Agama Brahmana-Ortodoks. Menurut Luniya (dalam Palgunadhi, 2011:38) ajaran agama Brahmana-ortodoks inilah yang datang ke Indonesia dan menyebar dari Kutai-Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan akhirnya sampai ke Bali. Hal ini dibuktikan oleh berbagai peningalan arkeologis dan kesusastraan Hindu di Indonesia.

 

Kedatangan Agama Hindu ke Indonesia tidak serta merta menjadikan apa yang ada di Indonesia disamakan dengan apa yang ada di India. Nilai kearifan lokal bangsa Indonesia tetap dipertahankan sehingga memiliki kekhasan dan keunikan. Bahkan masing-masing daerah di Indonesia memiliki ciri dan indentitasnya sendiri-sendiri walaupun esensinya adalah tunggal. Kearifan lokal inilah yang menjadikan wajah Hindu di Indonesia berbeda dengan yang ada di India.

 

Hal yang esensial dalam Hindu adalah tiga kerangka dasar yaitu tattwa, susila dan acara. Tattwa merupakan landasan filosofis ajaran agama dan sekaligus digunakan sebagai pandangan hidup. Susila merupakan landasan dan pedoman moral meliputu ajaran tentang tingkah laku. Acara merupakan kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan beragama meliputi tradisi aktivitas keagamaan yaitu upacara dan upakara. Ketigahal tersebut dalam prakteknya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainya (Sukarma dan Utama (ed), 2010:199). Pada aspek Acara, agama menampak wujudnya yang tak jarang menimbulkan kesulitan untuk membedakan Hindu sebagai agama dan Hindu sebagai kebudayaan.

 

Untuk itu agama Hindu di Indonesia pada khususnya di Bali nampak begitu berbeda dengan apa yang ada di India saat ini, tidak terkecuali dalam hal upacara kematian. Kremasi yang dilakukan di Bali begitu meriahnya dengan mengunakan Bade yang diberengi dengan gemuruh gamelan sehingga menjadi daya tarik wisatawan manca negara namun nampak berbeda dengan  kremasi yang dilakukan di India. Hal tersebut kadang tak jarang menimbulkan keraguan tentang hakekat ajaran agama Hindu itu sendiri. Sehingga berbagai macam pertanyaan apakah Hindu di Indonesia khususnya di Bali berdasarkan dan sesuai dengan Weda? Mengingat ajaran agama hindu juga berasal dari India. Hal inilah yang mencoba diangkat dalam tulisan ini dalam menelusuri esensi ajaran agama Hindu khususnya tentang dasar pelaksanaan upacara Pitra Yadnya atau di Bali lebih terkenal dengan istilah Ngaben.

 

 

 

UPACARA NGABEN DI BALI

 

Ajaran Agama Hindu pada dasarnya melihat kelahiran manusia kedunia membawa tiga hutang yang disebut dengan Tri Rna, tiga hutang tersebut antara lain 1) Dewa Rna yaitu hutang hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi ; 2) Rsi Rna yaitu hutang suci keada Rsi ; 3) Pitra Rna yaitu hutang ke jasa kapada para leluhur (Surayin, 2005:4). Ketiga hutang tersebut haruslah dibayar melalui Yadnya, pengorbanan yang tulus dan iklas.

 

Adapun yadnya terbagi dalam lima bagian penting yang disebut Panca Yadnya. Yang pertama, Dewa Yadnya yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi beserta manisfestasinya sebagai rasa terima kasih telah diberi kesempatan untuk meningkatkan/menyempurnakan diri; kedua, Rsi Yadnya yang ditujukan kepada para orang-orang suci atas bimbinganya tentang ajaran kesusilaan dalam kehidupan ; ketiga, Pitra Yadnya yang ditujukan kepada para leluhur ; keempat, Manusa Yadnya yang ditujukan kepada manusia itu sendiri agar selamat dalam menjalani kehidupan di dunia ; dan kelima Bhuta Yadnya yang ditujukan kepada mahluk yang lebih rendah (Oka, 2009:44-51)

 

Pitra Yadnya berasal dari dua kata pitra dan yadnya. Pitra berasal dari bahasa Sansekerta Pitr yang artinya ayah, nenek moyang, khusus leluhur almarhum, ataupun nenek moyang pada umumnya (Oka, 2009:114 dan Surada, 2007:212).  Yadnya berasal dari bahasa Sansekerta Yaj yang berarti korban atau pemujaan (Adiputra, Sudipta, Erawati, 2004:97 dan Surada 2007:256). Jadi Pitra Yadnya merupakan korban suci kepada para leluhur untuk memohonkan keselamatan dan kerahayuan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi semoga mendapatkan ganjaran sesuai dengan karmanya. Atas dasar hal tersebut di atas maka di Bali dilakukan upacara kematian yang disebut dengan pitra yadnya namun secara umum upacara ini lebih dikenal dengan istilah ngaben, padahal ngaben hanya merupakan salah satu prosesi dalam upacara pitra yadnya. Pelaksanaaan upacara pitra yadnya di Bali didasarkan atas sumber-sumber berupa lontar, keputusan dari PHDI dan mengacu pada adat istiadat setempat. Maka Ngaben di Bali tidak sama persis antara satu daerah dengan daerah yang lain. Menurut Sudarsana (2009:2) upacara pitra yadnya terdapat dalam lontar-lontar seperti : Lontar Purwana Yama Tattwa, Yama Purana Tattwa, Mplutuk Aben, Swamandhala, Surating Walungkpala, Purwa Gama, Kramaning Atetiwa, Puja Pitra, Aji Krakah Modre, Surat Kepatian, Putru Saji.

 

Banyak sumber yang bisa dijadikan referensi dalam pelaksanaan upacara pitra yadnya namun secara umum menurut Oka (2009:116) rangkaiannya diawali dengan Sawa Prateka, Ngaben, Atma Wedana/Nyekah, Mamukur dan Maligya. Sawa Prateka merupakan upacara yang berhubungan dengan persiapan jenasah untuk dibersihkan baik secara sekala dengan dimandikan maupun secara niskala dengan cara dibersihkan dengan upakara dan upacara. Setelah itu dilanjutkan dengan ngaben, palebon, atau atiwa-tiwa. Ngaben dimungkinkan berasal dari kata Ngaba + in yang berarti membekali, mungkin juga berasal dari kata abu yang kemudian menjadi ngabuin yang kemudian menjadi ngaben yang mempunyai maksud pembakaran jenasah (Oka, 2009:129), sedangkan Sudharsana (2009:69) mengatakan Upacara Ngaben merupakan prosesi pengembalian unsur Panca Maha Bhuta kembali kepada asalnya melalui api, karena kata Ngaben berasal dari kata “Api” yang mendapat perfix anuswara “Ang” sehingga menjadi “Ngapi”. Kata Ngapi mendapat sufix an yang kemudian menjadi Ngapian karena mengalami sandi menjadi Ngapen yang kemudian terjadi perubahan fonem P menjadi B sehinga menjadi Ngaben. Jadi inti dari ngaben adalahsebuah salah satu rangkaian upacara Pitra Yadnya pada prosesi pembakaran jenasah yang bertujuan mengembalikan unsur pembentuk badan kembali ke Panca Maha Bhuta. Atma Wedana yang juga sering disebut sebagai upacara Ngrorasin merupakan tahap selanjutnya yang bertujuan menyempurnakan Atman dengan melenyapkan Suksma-Sarira (badan halus) yang terdiri dari teja, bayu, akasa yang membungkus atman sehingga menjadi bersih kembali kepada asalnya. Upacara ini biasanya langsung dilanjutkan dengan Malagya.

 

Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara pembakaran mayat, kendatipun tidak semua tradisi ngaben melalui pembakaran mayat. Dalam bahasa lain di Bali, yang berkonotasi halus, ngaben itu disebut Palebon yang berasal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Dengan demikian Palebon berarti menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan menanamkan kedalam tanah. Namun cara membakar adalah yang paling cepat.

 

Adapun yang dimaksud api di sini adalah Brahma (Pencipta). Itu berarti atma sang mati melalui upacara ritual Ngaben akan menuju Brahma-loka yaitu linggih Dewa Brahma sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam Mencipta (utpeti). Sesungguhnya ada dua jenis api yang dipergunakan dalam upacara Ngaben yaitu Api Sekala (kongkret) yaitu api yang dipergunakan untuk membakar jasad atau pengawak sang mati dan Api Niskala (abstrak) yang berasal dari Weda Sang Sulinggih selaku sang pemuput karya yang membakar kekotoran yang melekati sang roh. Proses ini disebut “mralina”.

 

Di antara dua jenis api dalam upacara Ngaben itu, ternyata yang lebih tinggi nilainya dan mutlak penting adalah api niskala atau api praline yang muncul dari sang Sulinggih. Sang Sulinggih (sang muput) akan memohon kepada Dewa Siwa agar turun memasuki badannya (Siwiarcana) untuk melakukan “pralina”. Mungkin karena api praline dipandang lebih mutlak/penting, dibeberapa daerah pegunungan di Bali ada pelaksanaan upacara Ngaben yang tanpa harus membakar mayat dengan api, melainkan cukup dengan menguburkannya. Upacara Ngaben jenis ini disebut “bila tanem atau mratiwi”.

 

Baik secara sekala maupun niskala Api memiliki dedudukan yang sangat penting dalam upacara ngaben seperti yang tercantum dalam kita Catur Weda tentang keutamaan Agni sebagai berikut : dalam Reg Weda (I. I:1) dikatakan Agnim ile purohitam yadnasya dewam rtvijam, hotaram ratna dhatamam, Kami memuja Tuhan (Agni), pendeta utama alam semesta, yang melalui kegiatan hukum abadi, yang memelihara dan menghidupi segala yang bersifat ilahi dan cemerlang. “Api adalah pengantar upacara, penghubung manusia dengan Brahman.” (Regweda X, 80 : 4), “Api (Agni) adalah Dewa pengusir Raksasa dan membakar habis semua mala dan dijadikannya suci.” (Regweda VII 15 : 10), “Hanya Agni (api) pimpinan upacara Yajna yang sejati menurut weda.” (Regweda VIII 15 : 2), Kratyadamagnim pra hinomi duram yamarajno gacchatu ripravahah, Ihayamitaro jataveda devo devebhyo havyam vahatu prajanan. Aku telah mengirim Agni “pembakar daging”; semoga ia pergi sambil membawa serta apa yang jahat ke alam yang dikuasai Yama; semoga disini para Jataveda lainya menjalankan upacara selamatan, dari deva ke para deva lainya yang memiliki kemaha-tahuan. (Atharwa Weda XII. 11).

 

Hal tersebut di atas berhubungang kedudukan manusia menurut agama Hindu terdiri dari tiga lapis yaitu: Raga Sarira, Suksma Sarira , dan Antahkarana Sarira . Raga Sarira adalah badan kasar. Badan yang dilahirkan karena nafsu ( ragha ) antara ibu dan bapak. Suksma Sarira adalah badan astral, atau badan halus yang terdiri dari alam pikiran, perasaan, keinginan, dan nafsu (Citta, Manah, Indriya dan Ahamkar a). Antahkarana Sarira adalah yang menyebabkan hidup atau Sanghyang Atma .

 

Ragha Sarira atau badan kasar manusia terdiri dari unsur Panca Maha Bhuta , yaitu : prthiwi, apah, teja, bayu dan akasa . Prthiwi adalah unsur tanah, yakni bagian-bagian badan yang padat, apah adalah zat cair, yakni bagian-bagian badan yang cair;seperti darah, kelenjar. Teja adalah api yakni panas badan (suhu). Bayu adalah angin, yaitu nafas dan akasa adalah ether, yakni unsur badan yang terhalus yang menjadikan rambut, kuku.  Proses terjadinya Ragha Sarira adalah sebagai berikut. Sari-sari Panca Maha Bhuta yang terdapat pada berbagai jenis makanan terdiri dari enam rasa, yang disebut sad rasa yaitu : Madhura (manis), Amla (asam), Tikta (pahit), Kothuka (pedas), Ksaya (sepet) dan Lawana (asin). Sad rasa tersebut dimakan diminum oleh manusia laki laupun perempuan. Dalam tubuh diproses disampingkan menjadi tenaga, ia menjadi kama . Kama bang (sperma wanita) dan kama putih (sperma laki-laki). Dalam pasanggamaan kedua kama ini bertemu dan bercampur melalui pangentalan menjadilah dia janin, badan bayi. Sisanya menjadi air nyom, darah , lamas (kakere) dan ari-ari.

 

Pencampuran kedua kama ini dapat menjadi janin, bilamana atma masuk atau turun kedalamnya. Konon atma ini masuk kedalam unsur kama yang bercampur ini, ketika ibu dan bapak dalam keadaan lupa, dalam asyiknya menikmati rasa. Disamping Panca Maha Bhuta yang kemudian berubah menjadi janin ikut juga Panca Tan Matra yakni benih halus dari Panca Maha Bhuta itu. Panca Tan Matra ini dalam janin bayi juga memproses dirinya menjadi Suksma Sarira Yakni , Citta, Manah, Indriya dan Ahamkara . Citta terdiri dari tiga unsur yang disebut Tri Guna , yaitu : Sattwam, Rajas , Tamas . Ketiga unsur ini membentuk akhlak manusia. Manah adalah alam pikiran dan perasaan. Indriya alam keinginan dan Ahamkara adalah alam keakuan. Unsur-unsur tersebut disebut Suksma Sarira . Alam transparan ini dapat merekam dan menampung hasil-hasil yang dikerjakan oleh badan atas pengendali Citta tadi. Bekas-bekas ini nantinya merupakan muatan bagi si Atma yang akan pergi ke alam pitra.

 

Ketika manusia itu meninggal, Suksma Sarira dengan Atma akan pergi meninggalkan badan. Atma yang sudah begitu lama menyatu dengan Sarira, atas kungkungan Suksma Sarira, sulit sekali meninggalkan badan itu. Padahal badan sudah tidak dapat difungsikan, lantaran beberapa bagiannya sudah rusak. Hal ini merupakan penderitaan bagi Atma. Untuk tidak terlalu lama Atma terhalang perginya, perlu badan kasarnya diupacarakan untuk mempercepat proses kembalinya, kepada sumbernya di alam, yakni Panca Mahabhuta. Demikian juga bagi Sang Atma perlu dibuatkan upacara untuk pergi ke alam pitra dan memutuskan keterikatannya dengan badan kasarnya. Proses inilah yang disebut Ngaben. Kalau upacara Ngaben tidak dilaksanakan dalam kurun waktu yang cukup lama, badan kasarnya akan menjadi bibit penyakit, yang disebut bhuta cuwil, dan atmanya akan mendapatkan neraka. Untuk itulah rangkaian upacara ini dilakukan.

 

 

 

UPACARA NGABEN MENURUT WEDA

 

Upacara merupakan bagian dari wujud agama. Hindu mengenalkan adanya kerangka keagamaan yang menerangkan mengenai tiga aspek penting yaitu Tattwa, Etika dan Upacara (Oka, 2009:10-11). Tattwa adalah aspek yang berhubungan dengan dogma dan ajaran, Etika adalah aturan yang menjadi hukum dengan sangsi dan ganjaran, Upacara adalah ibadat yang merupakan suatu kwajiban dengan sangsi dan ganjaran (Hardjana, 2005:74).

 

 Dalam hal upacara jauh sebelum Weda sudah dikenal oleh masyarakat. Pengalian di Mahenjodaro dan Harrapa telah membuka misteri keagamaan sebelum zaman Weda. Menurut Marshall dan Mackay (Palgunadhi, 2011:11) terdapat penemuan sejarah berupa materai (seal) yang didalamnya melukiskan adanya upacara kurban yang berupa : a)seorang pemuja dengan sikap menyembah, b) di sebelah pemujaan tersebut ada seekor binatang, c) seorang aki-laki memegang sabit, d) di bawah gambar tersebut terdapat tujuh perempuan berderet. Penemuan diatas membuktikan adanya upacara kurban di dalam keagamaan peradaban lembah sungai Sindhu. Selain penemuan seal juga ditemukan bekas-bekas sarana upacara seperti Dipa, bunga, daun, buah dan air.

 

Luniya mengatakan (dalam Palgunadhi, 2011:11) salah satu bagian dari ritual yang dilaksanakan di lembah sungai Sindhu adalah upacara kematian. Ada tiga sistem upacara yang dikenal yaitu penguburan, penjemuran dan pembakaran mayat yang abu sisa pembakaranya dibuang ke sungai. Kelihatanya ketiga sistem kematian inilah yang nantinya mempengaruhi keberadaan upacara kematian di Hindu khusunya Upacara Ngaben.

 

Pada dasarnya upacara kematian telah berkembang sampai pada zaman Weda. Bukti adanya hal tersebut dituangkan kedalam Catur Weda sebagai ensiklopedi peradaban yang berkembang di lembah sungai Sindhu atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama India. Pada dasarnya Catur Weda Samhita memuat mantar-mantra yang merupakan wahyu yang diterima oleh para maha rsi, baik secara individu maupun kelompok (Titib,1998:107).

 

Terdapat banyak dewa-dewa yang dipuja salah satunya adalah Dewa Agni yaitu dewa api menurut Titib (1998:90) Dewa Agni berfungsi sebagai pendeta, duta, pemberi berkah, ahli Weda, penjaga rumah, sebagai saksi, pengusir roh jahat, penghantar yadnya, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan Agni merupakan dewa penting pada zaman weda dan menjadi dewa yang mendapat porsi lebih banyak ketimbang dewa yang lain dalam Weda seperti disebutkan dalam Atharwa Weda XII.1-3 :

 

Nadama roha na te atra loka idam sisam bhagadheyam ta ehi,

 

Yo gosu yaksmah purusesu yaksmastena Tvam Sakamadharad parehi.

 

 

Menjalar menaiki gelagah (nada); tiada tempat bagimu disini; logam berup timah ini adalah jatahmu; datanglah! Segala jenis yaksma penyebab penyakit dalam ternah, segala jenis yaksma penyebab penyakit pada manusia, semua penyebab kemalangan itu berhasil dijatuhkan.

 

 

 

Agasamsaduh samsabhyam karenanukarena ca,

 

Yaksam ca sarvam teneto mrtyum ca nirajamasi.

 

 

 

Orang yang merencanakan sesuatu yang jahat dan tidak baik, entah ia pelaku utama atau orang yang membantunya, yaksma penyebab penyakit, dan kematian, semuanya kamu halau dari sini.

 

 

 

Nirito mrtyum nirrtim niraratimajamasi,

 

yo na dvesti tamaddhyagne akravyad yamu dvismastamu te pra suvamasi.

 

 

 

Jauh dari tempat ini kami halau kematian, kemusnahan, serta orang-orang kikir, yang membenci kami, mereka semua, wahai Agni sebagai api suci, engkau bakar hingga musnah; orang-orang jahat yang kami benci, mereka kami serahkan dalam tanganmu.

 

Agni menjadi dewa utama yang sering di puja, sebagai pendeta penghantar yadnya

 

 

 

Selain sebagai pemberi karunia dalam upacara rumah tangga (agnihotra) Agni juga menjadi sarana dalam berlangsungnya upacara kematian yaitu pembakaran mayat. Demikian dikatakan dalam Atharwa Weda XII.34 :

 

Apavrtya garhapatyat kravyada preta daksina,

 

Priyam pitrbhya atmane brahmabhyah krnuta priyam

 

 

 

Setelah beralih dari api rumah tangga , pergilah engkau kesebelah kanan, yakni pada api pembakaran daging; engkau sungguh-sungguh merupakan kesayangan para leluhur diri kami, dan juga para pendeta.

 

 

 

Dalam upacara kematian api sangatlah penting menghantarkan jasmani kembali kepada Panca Maha Bhuta, karena Agni mampu menghancurkan semua kejahatan dan membawanya ke hadapan Dewa Yama (Atharwa Weda XII. 8) dan Agni melakukanya dengan suka cita karena segala apa yang dibakar menghasilkan kebaikan sehingga Ia merupakan kekuatan penyuci dari segala kejahatan (Atharwa Weda XII. 11).

 

 

 

Kratyadamagnim pra hinomi duram yamarajno gacchatu ripravahah,

 

Ihayamitaro jataveda devo devebhyo havyam vahatu prajanan.

 

 

 

Aku telah mengirim Agni “pembakar daging”; semoga ia pergi sambil membawa serta apa yang jahat ke alam yang dikuasai Yama; semoga disini para Jataveda lainya menjalankan upacara selamatan, dari deva ke para deva lainya yang memiliki kemaha-tahuan.

 

 

 

Samindhate samkasukam svastaye suddha bhavantah sucayah pavakah,

 

Jahati ripramatyena eti samiddho agnih supuna punati.

 

 

 

Ia dengan suka cita membakar (samkasuka) segalanya demi menghasilkan kebajikan, ia telah dimurnikan, terang, serta sanggup menyucikan segalanya; kejahatan (ripra) tidak terdapat dalam dirinya, telah melampaui segenap kesalahan; Agni yang ramah, merupakan kekuatan penyuci yang baik (bagi segalanya).

 

 

 

Dengan demikian aspek api sebagai Agni sangatlah vital. Agni dipuja sebagai penghantar setiap upacara dan diyakini mampu memberikan keselamatan dan kesejahteran yang dilimpahkan oleh para dewa. Selain itu api dalam upacara kematian dipergunakan sebagai sarana untuk mengembalikan segala unsur jasmani kedalam asalnya dan menyucikan atman dari segala dosa sehingga atman menjadi suci sehingga dapat memasuki Sorga bersama para dewa dan leluhur yang terdahulu.

 

 

 

PENUTUP

 

Upacara Ngaben merupakan upacara Pitra Yadnya yang diidentikan dengan upacara pembakaran jenasah walaupun sesungguhnya tidak semua ngaben dilakukan dengan membakar mayat karena prinsip dasarnya adalah mengembalikan unsur pembentuk dari manusia yang telah meninggal ke asalnya yaitu Setula Sarira, Sukma Sarira dan Antakarana Sarira. Adapun tahapan yang dilalui yaitu Sawa Prateka, Ngaben, Ngroras, dan Malagya. Dalam pelaksanaanya di Bali upacara ini mengacu pda Desa Kala Patra sehingga setiap daerah memiliki perbedaan dengan daerah lainya.

 

Upacara Ngaben di Bali secara langsung bersumber pada lontar-lontar yang diwariskan oleh leluhur sebagai rujukan utama yang secara garis besar merupakan ajaran turunan dari Weda yang mana hal tersebut bisa dibuktikan dengan melihat kembali sloka-sloka dalam kitab catur weda yang mencantumkan adanya pembakaran jenasah melalui Agni atau api yang berfungsi mengembalukan dan mensucikan kembali Atman kepada asalnya.

 

Dengan demikian apa yang ada di Bali tidak serta merta mengingkari akan adanya Weda. Perbedaan yang terlihat antara Indonesia khususnya Bali dan India bukan merupakan hal yang menjadikan salah satu berbuat yang melenceng dari Weda namun merupakan bentuk ekspresi luar dari sebuah tatanan lokal genius masing-masing tempat.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adiputra,  I Gede Rudia. Sudipta, I Nengah. dan Erawati, Ni Komang Sri, 2004. Dasar-Dasar Agama Hindu. Jakarta : Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha.

 

Hardjana, AM, 2005. Religiusitas, Agama dan Spiritual. Yogyakarta : Kanisius.

 

Maswinara, I Wayan, 1999. Veda Sruti, Rg Veda Samhita, Sakala Sakha Mandala I, II, III. Surabaya : Paramita.

 

Maswinara, I Wayan, 2004. Veda Sruti, Rg Veda Samhita, Sakala Sakha Mandala IV, V, VI. Surabaya : Paramita.

 

Oka, Ida Pedanda Gde Nyoman Jelantik, 2009. Sanatana Hindu Dharma. Denpasar : Widya Dharma.

 

Phalgunadi, I Gusti Putu, 2011. Sekilas Sejarah Evolusi Hindu. Denpasar : UNHI dan Widya Dharma.

 

Sayanacarya, Of Bhasya, 2005. Atharvaveda Samhita I. Penterjemah : I Wayan Sudiastawan, Ida Ayu Wijayanti, Dewanto. Surabaya : Paramita.

 

Sayanacarya, Of Bhasya, 2005. Atharvaveda Samhita II. Penterjemah : Ivan Taniputra. Surabaya : Paramita.

 

Sudarsana, I.B. Putu, 2009. Ajaran Agama Hindu : Upacara Pitra Yadnya. Denpasar : Yayasan Dharma Acarya.

 

Sukarma, I Wayan dan Utama, I Wayan Budi (ed), 2010. Canang Sari, Mengenang Bhakti Prof. Nala. Denpasar : Widya Dharma.

 

Surada, I Made, 2007. Kamus Sansekerta Indonesia. Denpasar : Widya Dharma.

 

Surayin, Ida Ayu Putu, 2004. Seri V Upakara Yajna, Pitra Yajna. Surabaya : Paramita.

 

Surayin, Ida Ayu Putu, 2005. Seri I Upakara Yajna, Melangkah Ke Arah Persiapan Upakara-Upacara Yajna. Surabaya : Paramita.

 

Titib, I Made. 1998. Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya : Paramita.

 

Read 34486 times Last modified on Wednesday, 31 December 2014 05:28