Sunday, 22 April 2018

Memahami Hyang Widhi Melalui Dialog Dalam Lontar Siwagama

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Friday, 28 November 2014 00:36
Rate this item
(0 votes)

SEKELUMIT TENTANG:

MEMAHAMI HYANG WIDHI MELALUI DIALOG

DALAM LOTAR ÚIWAGAMA

Ida Bgs. Subali P.

Jurusan: Dharma Sastra

 

 

Prawacana

Pendakaian mencari Hyang Widhi, memang sangat sejalan dengan berbagai latar belakang dan dengan berbekal tingkat kecerdasan, meupun pengalaman masyarkat yang dirasakan. Ini seirama dengan kehadiran Śiwāgama, oleh pengawinya Ida Pedanda Made Sidemen, sangat memahami,  yang sebagian besar masyarakat waktu itu (awal abad 20) adalah agraris, masih terbatas pemahamannya tentang keberadaan dan keesaan Hyang Widhi. Sehingga Śiwāgama, dapat menjadi benteng spiritual pada jamannya maupun masa mendatang.

 

Asta Dewata

Zoetmulder dalam Kamus Jawa Kuna Indonesia (2004; 1106) menyatakan bahwa Śiwāgama adalah doktrin dan praktik Śiwaisme; yan sampun sira riÿ Śiwāgama rumaksa hayu nira riÿ arya pandita (bila sudah ada hubungan baik antara raja dengan pendeta). Ini dapat kita baca dalam lontar Śiwāgama, yang tiap sārgahnya senantiasa diawali dengan dialog antara pendeta/guru spiritual dengan raja/murid.

 

Muwah rakwa liÿ sri maharaja ri saÿ catur asrama. Asta dewa bhavat bhutva natpatih asta deviñca dharma raja yamasceva ksipram dadati vaksyami. Muwah patina ranaka mpu, ikaÿ asta dewata ya ta wistarakna de mpu daÿhyaÿ, tekeÿ bharyanira sowaÿ-sowaÿ, lawan purwaka Saÿhyaÿ Yamadhipa, yaÿde wruha ranak mahamuni ri kaliÿan ika.

 

Terjemahan:

Ada lagi pertanyaan sang raja kepada sang catur asrama, yakni tentang delapan dewata beserta dewinya masing-masing dan asal-usul Sanghyang Yamadhipa. Itulah yang harus hamba ketahui.

Sang pendeta agung menjawab: Marilah cerita kita balik lagi! Dahulu ketika Sanghyang Adisuksma marah kepada Sang Catur Dewata, yaitu Sang Kusika, Sang Garga, Sang Maitri, dan Sang Kurusya. Sanghyang Catur Cadusakti itu merupakan badannya Sanghyang Widhi, yang mempunyai kesaktian  maha sempurna mengutuk jatuh menjadi Catur Dewata, sehingga dalam sekejap lenyap berubah menjadi Catur Bhuta. Entah berselang berapa lama, Sanghyang Widhi lagi menciptakan munculah Sang Catur Dewata. Beliau disebut Siwareka. Maka itu lahirlah Sang Catur Dewata, lalu disirami dengan tatwamreta, kemudian disambut oleh Sang Pretanjala dan berubah kembali menjadi Pancasiwa. Sanghyang Widhi menampakkan diri di dalam batin Siwareka, melengkapi Sanghyang Astadewata beserta dewinya masing-masing (Tim, 2002; 182-183).

 

Kutipan lontar  Śiwāgama di atas salah satu bentuk dialog antara catur asrama (pendeta agung) dengan raja/murid. Dialog yang diawali dengan pertanyaan raja, yang diakhiri dengan jawaban catur asrama. Dialog ini mengenai salah satu tentang konsep ketuhanan, yang sejatinya lekat dengan perilaku keagamaan karmasannyasa. Hubungan dialog ini akan dapat diketahui, mengenai asta dewata beserta dewinya. Jawaban catur asrama, tidak langsung kepada  pokok  permasalahan, namun  memulai  jawabannya  diawali  dengan  catur dewata, yang sejatinya merupakan jenjang konsep  ketuhanan di atasnya.

Pengalaman spiritual Ida Pedanda Made Sidemen, sejatinya perjalanan nyastra, yang mengantarkan pada pengukuhan Sradha. Sradha keberagamaan, yang menurani   dengan   pengabdian   yang   tulus-ihklas  tanpa  pamrih,  adalah  penguatan mendarah daging untuk terus berkaraya sastra. Pewujudan lontar Śiwāgama, adalah bagian krucut-puncak pengalaman spiritual Ida Pedanda Made Sidemen, sejatinya tuangan pemikiran jñana tattwa, melalui kreatifitas trampil jemari sang Wiku yang suci.

Pengalaman spiritual, salah satu pengukuhan integritas jati diri adalah modal dasar guna mewujudkan sebuah karya sastra yang berbentuk tutur serta bertutur (bercerita), mengenai pengalaman yang hakiki tentang ketuhanan. Pemaparan ketuhanan yang humanis, menjadikan lontar Śiwāgama demikian nampak, menuntun kecerdasan, karena tuhan digambarankan dengan cara sangat mempribadi dan membumi, sehingga sangat membantu untuk mempermudah pemahaman. Sehingga hanya butuh ketekunan dalam melakoninya, guna mendapatkan pengalaman, untuk merasakan esensi Tuhan yang telah menyatu di dalam diri. Dengan demikian dapat dipastikan, Ida Pedanda Made Sidemen, memaparkan pengalaman spiritual yang demikian melalui tutur yang bertutur sebagaimana dalam Lontar Śiwāgama.

Hal ini sangat tampak sebagai wujud pengalaman, sehingga dapat menggambarkan penggambaran atau nama-nama Tuhan yang demikian humanis dan demikian akrab dengan hati dan rasa, seperti: Sanghyang Titah, Sabghyang Tuduh. Sehingga nampak demikian    bermasyarakat.    Sehingga     Ida   Pedanda   Made   Sedemen,   demikian bermasyarakat dan dicintai masyarakat melalui berbagai nyastra dalam bentuk upacara, tatasusila serta tattwa.

Media pembabaran Teologi ini digunakan media berupa tutur yang bertutur antara seorang guru dengan muridnya (Dhang Acarya dengan sisyanya). Hal ini dilakukan, guna memudahkan pemahaman, serta meringankan cara kerja otak untuk memahami filsafat yang terkandung di dalamnya. Bilamana, murni  dengan  bahasa  tattwa,  tentu  akan  terasa berat, apalagi dengan manusia kebanyakan. Sehingga dalam bentuk tutur dalam lontar Śiwāgama merupakan langkah tepat strategis, guna mempermudah penyampaian serta pemahaman isi Śiwāgama. Dalam tradisi masyarakat Hindu Bali, sering kali para orang tua menyampaikan pendidikan dengan cara masattwa yang kata dasarnya adalah satwa, yang mengandung arti cerita. Kata satwa mendapat awalan “ma” menjadi masatwa yang mengandung arti bercerita. Dengan masatwa, tentunya yang mendengarkannya dapat lebih mudah  menerimanya,  lebih-lebih  yang disampaikan masalah agama, yang memang sarat dengan nilai agama, hukum etika maupun norma lainnya

Kehadiram lontar Śiwāgama pada tahun 1938, merupakan peristiwa yang tepat, setrategis serta sentral, mengingat kondisi, situasi ketika itu adalah masa-masa penjajahan, yang sejatinya tidak menutup kemungkinan untuk melindungi Hinduisme dari pengaruh asing dalam hal ini Belanda dengan Nasraninya. Sejatinya, pemaparan teologis ketuhanan lontar Śiwāgama dalam wujud pendakian serta berjenjang mengenai pemahaman esensi Tuhan dalam konteks keberagamaan Hindu di Bali, dalam Śiwāgama disebut karmasannyasa. Guna pendalaman keagamaan yang bersifat imanen, sangat membutuhkan pembelajaran keagamaan secara yogasannyasa, hal ini tentunya sangat tergantung tingkat intlektualitas manusia itu sendiri.  Teologis ini, memberikan penyadaran bahwa Tuhan tidak hanya berada dalam diri manusia, namun berada  di sekitar, pula berada  jauh  di sana.  Artinya  Śiwāgama  tidak  memaparkan  Tuhan  dalam  konteks dogmatis, yang sejatinya dapat melahirkan pemahaman yang kaku serta dengan perilaku yang mau menang sendiri tentang kebenaran Tuhan. Dengan demikian pemaparan teologis dalam Śiwāgama, sejatinya pula merupakan benteng dari gempuran teologis yang semata-mata menekankan aspek dogmatis semata-semata. Di samping itu, teologis dalam Śiwāgama sangat lentur dan tidak kaku, serta memberikan nama pada Tuhan sesuai dengan pengalaman dan laku pemujanya.

Inti isi dari pada naskah lontar Śiwāgama adalah tentang penciptaan.   Adanya penciptaan merupakan langkah awal adanya kehidupan. Penciptaan ini diawali dengan terciptanya alam, yang berupa galaksi-galaksi serta dunia fana ini. Setelah terciptanya dunia, baru kemudian berturut-turut; tumbuh-tumbuhan, segala jenis hewan dan binatang, baru kemudian terakhir manusia.

Dengan terbentuknya alam semesta beserta isinya, maka terjadi suatu proses hidup dan kehidupan. Kehidupan ini demikian penting, karena ia memiliki makna, bahawa dengan berlansungnya hidup dan kehidupan, maka alam ini beserta isinya terus berproses guna menjaga keseimbangan alam. Satu sisi yang demikian penting serta strategis, untuk menjaga keseimbangan ini, dengan melakukan pendalaman, pemahaman serta pengalaman dan pelaksanaan ajaran karmasannyasa-yogasannyasa yakni Śiwa-Buddha. Ajaran Śiwa-Buddha, demikian memberikan arti dan makna bagi hidup dan kehidupan.

Brahma Vaivartha Purana, menganalogikakan, kesempurnaan yadnya akan terletak pada kesetiaan pasangan suami-istri. Diwujud-nyatakan dalam bentuk, yang mana bilamana keluarga/rumah tangga itu menyelenggarakan upacara yadnya, maka suami dengan istri harus berdampingan, suami berada sebelah kanan, sedangkan sang istri berada disebelah kiri suami, sama-sama menghadapi upakara, tatkala upacara berlangsung. Pula dapat dilakukan dengan cara yang lebih romantis, sang istri dengan berbusana anggun, menarik tangan suami, untuk bersama-sama menuju pelataran upacara, alangkah sempurnanya upacara yadnya itu.

 

Karmasanyasa

Karmasasnnyasa yang berarti; tapabratha melalui pelaksanaan tindakan-tindakan. Sehingga karmasannyasa; umat manusia dalam melakukan  hubungan  dengan  Tuhan,  menitik beratkan pada perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan, dengan menggunkan media konsentrasi, seperti; pura, banten sebagai symbol kosentrasi. Ini sangat sejalan dengan umat Hindu di Bali, yang sebagaimana pelaksanaan acuannya berdasarkan berbagai lontar yang berupa tutur, salah satunya naskah Sundarigama.

Wruh ta yen dharmayukti, menget ring sinangguh tutur (Zoetmulder, 2004: 1307); bila mengetahui dharma kebenaran, senantiasa ingat dengan yang disebut sadar. Selanjutnya Zoetmulder (2004: 1307); atutur, berarti; mengingat, mengenang kembali; menjadi sadar, siuman kembali; mengnang-ngenangkan, menyadari sepenuhnya, terus-menerus mengingat. Swastha ta bhuwana de nira, kapwatutur I dharmanya sowan-sowan; tumingal ta Dewi Kunti ri Sang Karna, matutur ta sira ry anak nira ri san hyan Āditya (kebahagiaan hidup di dunia, kemudian Dewi Kunti meninggalkan anaknya, Karna setelah mengingatkan tentang kebenaran, wejangan itu dilakukan ketika Sang Karna memuja Dewa Sūrya).

Pemujaan kepada dewa Sūrya sejatinya demikian akrab dengan laku suci Wiku  Śiwa  di  Bali/Lombok  yang  dikenal  dengan  Sūrya  Sewana. Dewa Sūrya yang dikenal dengan Eka-Cakra; Sūrya Stava salah satunya:

Om Āditya garbha-pavana, Āditya deva-raja tvam

Āditya tvam gatir asi, Āditya caksur eva ca

 

Terjemahan:

 

Ya putra Āditi yang men-suci-kan benih-benih kehidupan, Putra Āditi,   Dikau

adalah Raja dari para Dewata, Putra Āditi, Dikau adalah tempat berlindung dan juga matahari.

 

Pemujaan kepada Dewa Sūrya adalah salah satu sisi ajaran karmasannyasa yang dilakukan Wiku Śiwa di Bali dan Lombok untuk memohon perlindungan agar alam semesta senantiasa dalam keadaan harmoni. Ini satu etik kesiwaan dengan ajaran karmasannyasa. Dewa Sūrya salah satu Dewa yang sangat istimewa, karena Dewa Sūrya pula dikenal dengan sebutan Śiwa Aditya.

Anutur,   tinutur  yang  berarti;  mengingat,  mengenang  kembali,  menyadari. Tuturen reh in laku pacidra; mengingatkan agar tidak bertingkah laku tercela. Dengan demikian memperhatikan pemaparan di atas, tutur berarti mengingatkan kembali tentang kebenaran agar dilaksanakan, sehingga tidak menyimpang dari dharma, dalam hal ini tentang kebenaran Tuhan.

Dalam   tutur, tidak  hanya  berbicara  tentang  kebenaran  yang   berhubungan dengan bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan secara kasat mata, sebagaiman yang dilakukan oleh Sang Karna kehadapan Bhatāra Surya dengan media matahari yang dalam Śiwāgama, tergolong menghubungkan Tuhan dengan penyembahnya disebut  Karmasannyasa.   Karmasannyasa,   dalam   melakukan   hubungan   dengan Tuhan, mengutamakan media dengan menggunakan simbol-simbol seperti Padmãsana, Mrajan, Sanggah, Banten dan sejenisnya.

Sehingga dalam masyarakat Hindu di Bali, guna melakukan pendidikan atau meneruskan ajaran-ajaran, sangat memanfaat tradisi mapitutur yang berarti memberikan nasehat, menegur (Zoetmulder, 2004: 1308). Majar i san bapa mapitutur (berkata sang ayah menasehati). Nasehat seorang ayah dalam tradisi umat Hindu khususnya Bali dan Lombok, menjadi pilihnai turunnyan yang strategis. Strategis, karena hubungan ayah dengan anak menjadi demikian lekat harmonis, diibaratkan hubungan antara murid dengan guru, antara tuhan dengan pengabdinya.

Pandita menjelaskan pada Raja Pranaraga mengenai turunya para dewa kedunia untuk mengajar umat manusia. Bhatāra  Śiwa  dengan  Dewi  Uma  mengajarkan  menanam  padi  kepada umat manusia. Sama yang dilakukan Dewa Mahadewa dengan saktinya mengajarkan membuat ukir-ukiran dari mas. Dewa Wisnu dengan Dewi Sri mengajarkan manajemen kehidupan. Bhatãra Brahma dengan Dewi Saraswati mengajarkan tentang kecerdasan maupun ketrampilan, sehingga bisa melanjutkan hidup dan kehidupan, demikian pula Dewi Uma mengajarkan menanam padi di sawah.

 

Kunang waneh pawarahira Bhatāra Śiwa ring Puserbhwana, ri kanang wwang kabeh, kinon ta gawya paniwyan ri panghulu ning sawah, palungguhira Bhatāri Umadewi, sinembah ing wwang magaga sawah, mangasrama ri kahaywan ing tahun, tekeng pala bungkah mwang phala gantung, apan sira nimitta ning gaga sawah, pinaka caraki ng tahun, samangkana tantune nguni.

 

Terjemahan:

Ada lagi saran Bhatāra Śiwa kepada para petani, disuruh membuat perwujudan Bhatāri Sri Rupini, pada saat musim panen, yakni membuat tempat persembahyangan dari padi, menurut astawara, dengan nama Bhatāri Nini, sebagai tempat memohon kesuburan alam, menghidupi segala mahluk, demi kesuburan padinyamasing-masing. Sebab beliau merupakan sumber padi. Beliau disebut Dewi Padi, sejak dulu hingga sekarang (Tim Pengkajian, 2002; 30 – 194).

 

Dari segi aspek pemujaan, sebagaimana kutipan di atas, memberikan gambaran yang jelas, bahwa bentuk pemujaan yang dipaparkan Śiwāgama dalam satu sisinya merupakan perilaku pemujaan sesuai dengan ajaran Karmasannyasa. Ciri karmasannyasa yang dimaksud sebagaimana kutipan di atas, yaitu dengan adanya pembuatan tempat memuja yang terbuat dari padi sebagai media memuja Bhatāri Sri Rupini atau Dewi Padi.

Ida Pedanda Made Sidemen sejatinya tidak sekadar contoh, namun beliau adalah guru loka, tidak hanya melalui karmasannyasa, namun pula mendalami serta mengalami yogasannyasa.

Sang Dasaratha sangat berwibawa, beliau sangat paham dengan isi Veda dan berbakti kepada Tuhan, demikian halnya beliau pula sangat hormat pada leluhur, sangat kasih pada saudara (Tim, 1986: 20).

 

Sarana upacara  merupakan simbul/nyasa Tuhan, pula dalam konteks pemujaan ia melambangkan mantra untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, dalam hubungan ini upacara pitra puja, menjadi esensi pemujaan menuju Tuhan. Dalam keyakinan umat Hindu pitra sejatinya merupakan esensi Tuhan yang paling dekat setelah orang tua yang melahirkan kita. Dengan demikian dalam ajaran karmasannyasa, pemujaan pitra sebagaimana yang dolakukan oleh Dasaratha, sejatinya mutlak untuk dilakukan.

 

Pemahaman ajaran Veda, sebagai dasar perilaku karmasannyasa, sehingga memberi ruang yang jelas mengenai makna teologis dalam hidup dan berkehidupan berupacara-agama.   Melakukan   bhakti   kepada  pitra,  sebagai  wujud  bayar  utang kepada orang tua beserta leluhur, sedangkan bhakti kepada dewa, sebagai wujud bayar utang kepada Tuhan. Dalam konteks Sûrya Sewana merupakan keseharian bagi Wiku Suci, bagian ini tidak hanya memberikan ruang implikasi hormat pada Tuhan, namun hormat kepada leluhur, merupakan tidak hanya keterpanggilan, namun sejatinya  adalah  kewajiban  sebagai  balas  utang  yang  wajib  dibayar  selaku  putra kepada ayah, pula kepada Tuhan.

Dengan demikian perilaku  keagamaan  Hindu  dalam  konteks  Śiwa-Buddha, tentu sangat bertalian erat dengan Tri Kerangka agama Hindu: Tattwa, Susila dan Upacara. Patut disadari, bahwa sejatinya ketiga kerangka ini, membentuk secara bersama-sama karakter keberagamaan Hindu di Bali, Lombok tidak terkecuali persebarannya ke wilayah Indonesia (Suamba, 2007: 273).

Doa Sang Arjuna belum selesai, pada saat itu  langsung  dijawab  oleh  Dewa Siwa. Anaku, sudah sangat jelas apa yang menjadi tujuan semua. Ini ada pemberianku, tiada lain cadusakti yang berupa senjata. Panah pasupati sangat terkenal namanya, ini lihatlah (Dikdas Prov. Bali, 1990: 40).

 

Sebagaimana pengalaman teologis Arjuna, menempatkan bahwa Tuhan dapat dicapai tidak hanya melalui bhakti dan karma, namun penguasaan ilmu pengetahuan (cadusakti) menempatkan seseorang mampu melakukan hubungan dengan Tuhan. Tentu dalam pengalaman sebagaimana Arjuna, tidak dapat dilakukan oleh kebanyakan manusia, sehingga Tuhan dalam posisi ini adalah transenden. Artinya Tuhan berada di sana, sehingga dapat diajak bercakap-cakap antara penyembah dengan yang disembah yaitu Tuhan yang mengambil wujud sebagai Siwa.       

Konteks keberagamaan dalam tatanan masyarakat Hindu, sangat akrab dengan upacara, yang sejatinya demikian lekat dengan perilaku karmasannyasa, penekanannya pada karma dan bhakti.  Prosesi upacara dalam tatanan upakara yang tersusun rapi dan apik, merupakan cirri khas agama kumunal. Upakara dengan prosesi upacaranya memberikan bungkus yang demikian tebal, serta menjadi sarana utama dalam pemujaan.

Jenis upakara serta kualitas upacara, menjadi tonjolan-tonjolan tersendiri untuk terarahnya mengenai objek pemujaan. Dalam tatanan susilanya, Pañca Yadnya, menjadi demikian penting terpahami sebagai penjelas objek pemujaan. Tempat pemujaan   menjadi   demikian   penting,  untuk  memudagkan  arah  pemujaan,  tentu dengan control pikiran yang memegang peranan yang demikian strategis, guna menentukan kualitas pemujaan, apakah pemujaan itu tulus ikhlas atau tidak.

Selain jenis upakara serta prosesi upacaranya dalam hal ini Pañca Yadnya, tempat pemujaan menjadi satu sisi objek pemujaan, sangat menentukan siapa yang dipuja. Pura keluarga atau disebut Marajan/Sanggah dan yang berifat geniologis, adalah tempat pemujaan leluhur atau Bhatara Hyang Kamimitan. Pura Swagina seperti Melanting, Pura Subak dan sejenisnya adalah tempat memuja bhatãra-bhatãri. Pura Kahyangan Tiga, sebagai tempat memuja para Dewa. Sedangkan Padmāsana adalah tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Walaupun adanya jenis upakara dan proses upacara serta tempat pemujaan, namun di masing-masing dilangsungkan maupun tempat pemujaan, dalam kontekstualnya tiga dan atau empat objek pemujaan sebagaimana tampak dalam gambar di atas tetap dilakukan dalam pelaksanaan Kramaning Sembah.

Secara umum Kramaning Sembah urutan pelaksanaannya: 1) sembah puyung (tanpa sarana bunga dan sejenisnya), sembah pertama ini ditujukan kepada yang kosong yaitu Tuhan dalam wujud nirguna. 2) sembah dengan sarana bunga, pada sembah   kedua  ini  ditujukan  kepada  Sang Hyang Siwa Aditya/Dewa Surya,  beliau dimohonkan, agar beliau berkenan menjadi saksi. 3) sembah dengan sarana kwangen, pada sembah yang ketiga ditujukan kepada bhatãra, artinya wujud Tuhan yang memberikan anugrah sesuai dengan permohonan dan tempat pemujaan, seperti di Pura  Desa  maka  yang  dipuja  adalah  Dewa Brahma,  di  Pura Puseh  yang  dipuja adalah Dewa Wisnu, di Pura Subak, maka yang dipuja Dewi Sri dan lain sebagainya, juga objek pemujaan ditentukan oleh jenis upacara dari Pañca Yadnya. 4) sembah dengan sarana kwangen, dalam sembah ini beliau lagi diposisikan sebagai dewa (diniskalakan), selaku saksi pemberi anugrah. 5) sembah puyung, pada sembah ini beliau mengambil posisi selaku Brahman yang dalam wujud nirguna.

Beragama secara komunal, dalam masyarakat Bali terhimpun dalam wadah Pakraman, seperti dalam Banjar Pakraman dan Desa Pakraman, maka upacara menjadi inspirasi, untuk mereka bergerak secara bersama guna mencapai tujuan.  Sehingga harmoni dalam hubungan pakraman sebagai miniatur surgawi dapat terwujud. Bhakti dan persembahan sangat penting hubungannya dengan hidup dan kehidupan, dalam Bhagavadgita bab III sloka 15 menguraikan:

Karma brāhmodbhavam viddhi

Brāhmā ’kshara samudbhavam

Tasmāt sarvagatam brāhmā

Nityam yajne pratishthitam

 

Terjemahan:

 

(ketahuilah, kegiatan kerja lahir dari Brahman dan Brahman datang dari Yang Maha Esa, Brahman yang melingkupi semua selalu ada di sekitar persembahan) (Pendit, 1994: 92).

 

Menjadi tidak ada skat antara wacana Krsna  di atas dengan perilaku  komunal keberagamaan pakraman (masyarakat) dalam Desa Pakraman. Sehingga sangat padu perilaku bhakti dan karma secara komunal yang dilakukan masyarakat  Hindu. Disadari, walaupun upacara teratur dalam tata susila, namun masih sangat bias terutama   yang  berhubungan  dengan  tattwa.  Karena  masyarakat  secara  komunal, hanya mengandalkan karma dan bhakti. Pemahaman tata susila dalam hubungannya dengan upacara, sejatinya demikian penting, guna terarahnya sasaran dan tujuan upacara dilakukan, karena hal ini tidak sedikit terkontaminasi dengan egoisme pelaku upacara, yang turut serta mengaburkan tattwa upacara. Ini pun ditinjau dalam konteks ilmu pengetahuan. Dengan demikian dalam hubungan ini hanya membutuhkan ketulus-ikhlasan dalam melakukan upacara.

Sehingga dalam laku karmasannyasa, upakara dengan upacara menjadi obyek pemahaman tentang tata susila dan upacara agama. Prosesi upacara agama merupakan bagian tata susila, yang memberikan ruang untuk melatih kesabaran, ketekunan serta mengenal diri lebih jauh. Upakara bagian yang tak terpisahkan, sebagai objek untuk mengetahui tattwa, serta sebagai sarana objek pemujaan, karena dalam upakara banyak mengandung simbol salah satunya simbol Om. Demikian halnya Padmāsana adalah sebagai singgasana Tuhanyangdilambangkan dengan aksara suci Om. Objek pemujaan Tuhan bagi karmasannyasa berada di luar pemujanya yaitu upakara dan upacara. Dengan demikian ilmu pengetahuan tidak merupakan dasar dalam pemujaan ini. Walaupun dalam kontekstualnya, dari kalangan karmasannyasa, memahami tattwa, maupun tata susila tentang  upakara  dan  upacara, namun sifatnya terbatas pada kalangan tertentu. Walaupun mereka mengetahui secara filsafat, namun ajaran karmasannyasa tetap dilakukan, karena dengan karmasannyasa mereka bisa mendapatkan moksa.

 

Yogasannyasa

Yogasannyasa terdiri dari dua kata yaitu yoga dan sannyasa. Zoetmulder (2004: 1484) menyatakan yoga berarti; pengerahan tenaga, usaha keras, metode atau praktek pemusatan pikiran atau tapa (mengontrol indera, menahan naik turunnya/ ketidaktetapan (wrtti), pikiran (citta), memperoleh kekuatan supernatural, mencapai kesatuan dengan Dewa atau kelepasan). Sedangkan sannyasa berarti tapabratha. Kemudian, kata yoga dengan sannyasa dipadukan membentuk kata majemuk menjadi Yogasannyasa, yang berarti dalam melakukan tapabratha dengan tindakan-tindakan tanpa menggunakan simbul-simbul, namun menekankan pada tindakan-tindakan pengendalian panca indera.

Yan timban wrêtan ika kalih, lewih ikan yogasannyasa sanken karmasannyasa, yang artinya; bila ditimbang-timbang antara yogasannyasa dengan karmasannyasa, maka masih lebih baik yogasannyasa. Secara individualistik, tentuk yogasannyasa, merupakan hal yang sangat utama, guna melakukan hubungan dengan maha pencipta, ia bukan diperuntukan bagi orang kebanyakan, dengan demikian yogasannyasa, hanya berlaku begi kalangan tertentu, sebagaimana kisah dalam Śiwāgama di mana di antara Pandawa (Yudhisthira) dengan Nilacandra mengadu kadiatmikan.

Yogasannyasa, sebagaimana yang dijalankan oleh  Candrabhairawa,  Nilacandra,  Bubuksah  dan  lain  sebagainya,  sangat  parallel   dengan  ajaran  Buddha,  dengan  dewa  tertinggi  Wairocana.  Sebagaimana diuraikan Sang Hyang Kamahayanikan (dalam Suamba, 2007: 170):

“Mijil tang dewata sarrwakāryya kartta sake kasarwwjñānan bhatāra Wairocana, lwirnya Īswara, Brahmā, wisnu, sira ta kinon mamaripûrnakna ng Tribhuwana mwang insyanya de bhatara Wairocana, donanya pagawayana kaparārthan mwang sthana Bhatāra pinūja irikang kāla, dadi tang sthawara janggamādi. Swargga hibêkan dewati marrtyapada hibekan manusādi, pātāla hibêkan nāgādi de bhatāreswara Brahmā Wisnu, nora tan kahanan ira, ndan dinadyakên de ni kasarwwajñãnan Bhatāra Wairocana”

 

Terjemahan:

 

Dewa-dewa tertinggi itu berasal dari kemahatahuan dewa Wairocana, mereka itu adalah Iswara, Brahma dan Wisnu yang diperintahkan oleh dewa Wairocana untuk mengembangkan ketiga dunia bersama-sama dengan keinginan yang sempurna, sehingga mereka bias berguna bagi manusia dan bertindak sebagai sebuah tempat di mana Tuhan harus disembah sepanjang jaman (oleh umat manusia dan sebagainya). Jadi, binatang-binatang dan tumbuhan dan sebagainya terlahirkan. Surga dipenuhi dewa-dewa, dunia fana dipenuhi oleh manusia dan sebagainya, dunia bawah dipenuhi dengan naga dan sebagainya, semuanya sebagai akibat dari kerja dewa Iswara, Brahma dan Wisnu. Oleh karena itumereka tertinggi tetapi bukan karena hakikatnya mereka sendiri, tetapi karena mereka terlahir hanya sebagai sebuah akibat dari kemahatahuan dewa Wairocana.

 

Kesetaraan dewa-dewa dalam Buddha dengan Siwa (Hindu), walaupun demikian sebagaimana diungkapkan   Ida  Bagus  Putu  Suamba,   posisi   dewa-dewa   Buddha   lebih  tinggi dibandingkan dengan dewa-dewa Hindu. Karena dewa-dewa Buddha seperti Iswara, Brahma dan Winsu hanyalah sebuah  emanasi  Wairocana.  Wairocana  adalah  dewa tertinggi yang memerintah dewa-dewa di bawahnya. Dengan demikian, posisi Wairocana lebih tinggi dari dewa-dewa Hindu yang dikenal dengan Tri Murti. Ini salah satu sisi tata cara pendalaman  Buddha  tentang  dewa-dewa  yang  menekankan pemahaman tentang dewa dengan cara yogasannyasa.

Wacana senada dapat kita ketemukan dalam Kakawin Nītisāstra (dalam Suamba, 2007: 175); ajaran Buddha, sejatinya Wairocana merupakan dewa tertinggi. Sebagai dewa tertinggi Wairocana memiliki otoritas serta kekuasaan terhadap dewa-dewa   lainnya   seperti   Yama,  Baruna,  serta  Dhanadhipa.  Sebagai  dewa  tertinggi Wairocana, memiliki tempat utama di depan para dewa lainnya. Dengan demikian, Wairocana senantiasa mengumpulkan para dewa lainnya untik diberikan penjelasan tentang ajaran Buddha. Dengan demikian, dewa-dewa di bawahnya, akan menjalankan tugas-tugas sesuai perintah yang dibebankan oleh dewa tertinggi yaitu Wairocana.

Sehingga, dihubungkan dengan naskah Śiwāgama, sejatinya mengalami paralelisasi,   sebagaima   ajaran  yang  di  jalankan  oleh  tokoh-tokoh  dalam  naskah tersebut seperti Candrabhairawa, Candrawicandra serta Nilacandra beserta pengikutnya. Ajaran bercirikan pendalaman ajaran dengan mendalami, mengenal, serta mengamalkan para esensi dewa yang berada di dalam diri. Dengan demikian tidak membutuhkan media persembahan, seperti sarana upacara, serta sarana sebagai tempat memuja para dewa, seperti tempat ibadah sebagaimana manusia kebanyakan agama Hindu (Siwaisme).

Yogasannyasa dasar pemujaannya mengedepankan pemahaman ilmu pengetahuan, dalam hal ini tattwa. Dengan demikian obyek pemujaannya, tidak berdasarkan upakara-upacara, yang sejatinya merupakan unsur luar dari badan wadag manusia. Namun bagi kalangan yogasannyasa, yang menjadi sarana upakara-upacaranya adalah badan wadag pemujanya, dijadikan media pengorbanan suci, seperti dengan jalan berpuasa/bratha, melakukan meditasi. Sedangkan susilanya tidak lagi berupa urutan prosesi upakara-upacara keagamaan, namun menekankan pada ketekunan melaksanakan meditasi. Di luar meditasi, bila pemuja Tuhan senantiasa melakukan tindakan baik dan benar sesuai dengan Tri Kaya Parisudha, maka ia akan Tuhan yang berada di dalam dirinya, dan ia pun akan sampai kepada Tuhan dan menyatu dengan-Nya.

Tyas tv indriyāni manasā

Niyamyā’ rabhate rjuna

Karmendriyaih karmayogam

Asaktah sa visishyate

 

Terjemahan:

Tetapi orang yang dapat mengendalikan pancaindranya dengan pikiran, oh Arjuna dan bekerja mementingkan diri ia itu adalah orang utama (Pendit, 1994: 87).

 

Terkontrolnya wacika dan kayika oleh  manacika  dengan  dasar  intlek/tattwa  akan  dapat  menjaga keseimbangan badan wadah dari berbagai gangguan dalam konteks hidup dan kehidupan. Demikian tata susila dalam tindakan menjadi semakin terkontrol, sehingga upacara, yang sejatinya badan wadah yang dijadikan sarana korban, dalam pengekangan dalam bentuk semadi menjadi stabil. Sehingga ãtma yang merupakan percikan Tuhan dapat dirasakan untuk peningkatan kualitas hubungan  dengan  Tuhan yang berada dalam jati diri manusia itu sendiri.

Tattwa adalah “objek nyata dalam hakikatnya, katatwan adalah hakikat abstrak dari objek konkrit…, tattwāgama adalah ajaran kebenaran” (Zoetmulder, 2004:  1222-1223). Dalam konteks agama Hindu, tattwa ãgama merupakan inti sari ajaran untuk mengetahui hakikat tentang kebenaran. Di samping itu, tattwa āgama sejatinya control dalam melakukan tata susila agama dan upacara agama. Demikian halnya untuk mengetahui hakikat dan tujuan hidup beragama “Moksārtham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma”. Memahami makna yang benar (tattwajñana); mengetahui tattwa/filsafat. Memahami pula ilmu kebenaran, ilmu tentang hakikat tertinggi (tattwajñna), menjadi kemutlakan, dalam hal mengetahui hakikat kebenaran yang ada dalam diri. Sehingga pengusaan hakikat dharma menjadi realita. Dharma sejatinya kontrol bagi manacika, untuk senantiasa berpikir yang baik dan benar serta senantiasa secara cerdas, kritis, sistematis. Ini penting dilakukan, agar terpolanya wacana dan tata laku dalam melakukan kebenaran dengan cara yogasannyasa.

Ilmu pengetahuan yang menjadi pusat pengorbanan untuk mencapai moksa, dalam istilah Buddha disebut Nirvana/Nirbana. Bagavadgita bab IX sloka (2) menguraikan sebagai berikut:

Rājavidyā rājaguhyam

Pavitram idam uttamam

Pratyakshvāgamam dharmyam

Susukham kartum avyayam

 

Terjemahan:

Inilah ilmu pengetahuan terbesar alat kesucian tertinggi dengan pengalaman langsung, jalan yang benar mudah dilaksanakan dan kekal abadi (Pendit, 1994: 232)

 

Ilmu pengetahuan memberikan penawaran yang sangat mudah, namun nilai kesuciannya sangatlah abadi. Pengalaman yang diberikan ilmu pengetahuan, memberikan pengetahuan langsung dengan apa yang dalami akibat oleh pengetahuan yang dikuasai. Dengan demikian, hakikat pengetahuan dapat diketahui, esensi pengetahuan tertinggi yakni Tuhan itu menjadi nyata adanya akibat pengalaman yang dialaminya.

 

 

Keesaan Tuhan 

Tuhan Yang Maha Esa memiliki aksara suci atau pranawa yakni Om  adalah penggalan dari tri aksara, antara lain: aksara ‘A’ atau ‘Ang’,  aksara  ‘U’  atau  ‘Ung’  dan  ‘M’  atau  ‘Mang’.  Ketiga  aksara  suci setelah disandhikan menjadi ‘AUM’ atau ‘AUNG’ (Om atau Ung). Aksara suci Om  ini merupakan aksara untuk memuliakan Tuhan Yang Maha Esa. Om  sebagai aksara yang digunakan pada saat puja atau mantra. Orang suci, sedharma, atau penganut Hindu selalu mengucapkan aksara suci Om  pada saat memuja dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Seperti saat memuja Sanghyang Śiwa, diucapkan mantra suci: Om Om namah Śiwaya, Om Om namah Sadhasiwaya, Om Om namah Paramasiwaya. Māntra suci tersebut sebagai puja untuk menghormati Tuhan Yang Maha Esa yang bergelar Sanghyang Śiwa.

Sanghyang Śiwa juga digelari Bhatāra Śiwa, yang dalam kekuatan Beliau sebagai maha tahu, maha adil, dan  maha  saksi.   Dalam  gelar  Beliau  sebagai  maha saksi, maka Beliau bergelar Bhatāra Śiwa Raditya atau Sanghyang Surya. Sanghyang Surya hadir sebagai saksi terhadap semua ciptaan Beliau dengan sinar suci yang cemerlang,   yang   memberikan   sinar  kehidupan kepada  semua  ciptaan-Nya.   Saat Beliau hadir sebagai saksi terhadap ciptan-Nya, maka Beliau dimuliakan, dihormati dan disembah dengan puja mantra suci Surya Astawa.

Selain sebagai Siwa Raditya, Beliau digelari Sanghyang Taya, Sanghyang Tunggal, Sanghyang Catur Dewata, Sanghyang Kusika, Sanghyang GargaSanghyang  Metri,  dan Sanghyang Kurusya,  yang  tiada lain adalah Sanghyang Acintya (Beliau yang tak terpikirkan), tetapi beliau mampu menciptakan berbagai hal dari segala penjuru.

Beliau juga digelari Bhatāra Guru, oleh karena kekuasaan Beliau untuk menuntun umat manusia mencapai cerdas, cendekiawan, pintar, arif, prajña, wisesa, terampil dan bijaksana. Kekuatan Beliau mampu memberikan anugrah pengetahuan suci dan berbagai teknologi berbagai dimensi sesuai desa kala patra. Beliau pula menjadikan umat manusia menjadi insan atau sumber daya manusia yang berkualitas (suputra, suputri, sadhu gunawan, buddhiman, budhiwati). Pada saat kehadiran Beliau, maka manusia memuliakannya melalui puja suci Saraswati Astawa, sehingga umat manusia menjadi Brahmācarya, menjadi  Pandita,  menjadi  Dhang  Acarya,  menjadi Tri Kang Sinanggeh Guru, menjadi Catrveti atau Vidyarti (sisya atau mahasisya), mengikuti kegiatan aguron-guron sesuai dengan sesana masing-masing.

Beliau dimuliakan dengan gelar yang beraneka (bahu vadanti). Gelar beliau yang lainnya adalah Sanghyang Mahadewa, Sanghyang Iswara, Sanghyang Mretyunjaya, Bhatāra Sadhana, Bhatāri Nini, Bhatāri Sri, Bhatāri Mahadewi, Bhatāra Śiwa, Sanghyang Indra, Bhatāra Brahma,   Bhatāra   Gana,   Sanghyang  Dharma,  Bhatāra  Guru,  Sanghyang  Kala, Bhatāra Parameswara, Sanghyang Gana, Sanghyang Kumara dan sebagainya. Dalam wujud Beliau sebagai Sanghyang Kala, maka Beliau bergelar Sang Bhuta Kedap, Sang Bhuta Gelap,  Sang  Bhuta Tatit,  Sang  Bhuta  Kilap,  Sang Bhuta Dadali, Sang Bhuta Kawanda, Sang Bhuta Syama, Sang Bhuta Semang, Sang Bhuta Sensdu, Sang Bhuta Kubandha, Sang Bhuta Girindi, dan yang lainnya.

 

Keberadaan Hyang Widhi adalah serba maha dan Esa, tentu merupakan sebuah kesalahan manakala manusia sampai berani membatasi nama Hyang Widhi itu. Hyang Widhi memenuhi segala, tiada tempat yang tampa keberadaan beliau. Hal ini sejatinya merupakan dengan memberikan banyak nama, sama artinya bahwa manusia sangat mengagung Hyang Widhi, karena memang beliau adalah tidak terbatas. 

Read 3752 times Last modified on Monday, 02 February 2015 02:08