Sunday, 22 April 2018

Selayang Pandang Harapan dan Kenyataan Menuju Manajemen Kemandirian Moral

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Monday, 01 December 2014 07:23
Rate this item
(0 votes)

PEMIMPIN KARBITAN

Selayang Pandang

Harapan dan Kenyataan Menuju Manajemen Kemandirian Moral

Oleh: Siti Zaenab

 

 

A.   pendahuluan

 

 

“Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang dapat diandalkan, orang yang setia, orang yang Kata-kata dan Janji-janjinya dapat dipegang, Tidak Mencla-Mencle

 

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam dunia ini makluk hidup selalu berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Dalam hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati dan menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan dan menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.

Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Kehidupan manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah kita seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik.

Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan sosial manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri. Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok dan lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik dan sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.

Memimpin memang susah, kalau tidak susah semua orang mau jadi pemimpin. Tidak semua mampu menjadi pemimpin.  Ya jika semua mampu dan mau menjadi pemimpin kacau, peranan-peranan yang lain hilang.  Namun  sebetulnya setiap orang ada peluang atau potensi menjadi pemimpin. Hanya malas. Kita memang sering hidup bersama kemalasan, berselimut dan bertabir kemalasan.

Leader yang outstanding memiliki visi untuk sekolahnya sebuah gambaran mental tentang budaya yang disukai yang diberitahukan ke semua orang di komunitas sekolah dan yang membentuk program pembelajaran dan pengajaran (Beare dkk, 1989).

 

  1. APA YANG DIMAKSUD DENGAN LEADERSHIP

Ada banyak teks tentang leadership, dan banyak dari isinya cenderung rumit atau kontradiktif. Ada evolusi selama beberapa tahun dari definisi leadership. Definisi awal mengidentifikasi leader sebagai fokus dari proses kelompok. Leader dilihat sebagai orang yang memberikan arahan bagi kelompok. Leader semacam itu dianggap memiliki karakteristik atau sifat yang tidak dimiliki orang yang bukan leader. Tapi, penelitian menemukan bahwa ada beberapa sifat yang dimiliki sesama leader. Sifat tersebut adalah intelejensi, dominansi, konfidensi diri, level energi tinggi, dan pengetahuan terkait-tugas (Robbins, 1993). Tapi, ini memiliki korelasi moderat, bukan korelasi kuat.

            Definisi lebih jauh menunjukkan bahwa seni leadership adalah kemampuan orang menghasilkan kepatuhan di kelompok. Leader memiliki kemampuan memotivasi orang lain di kelompok, dan mampu menghasilkan level pencapaian tertinggi dengan jumlah konflik terendah. Leadership bisa dijelaskan berdasarkan perilaku leader yang memberikan motivasi. Contoh dari ini adalah Managerial Grid yang dikemukakan Blake dan Mouton (1964). Mereka mengatakan bahwa sebuah gaya manajemen tim lebih disukai daripada gaya yang difokuskan ke tugas yang harus diselesaikan tapi kurang mempertimbangkan orang di kelompok, atau yang ditekankan ke tugas yang difokuskan sepenuhnya ke kelompok tapi melemahkan tugas yang harus diselesaikan.  

Karena banyak teori sebelumnya sulit menjelaskan hubungan antara perilaku leader dan kinerja kelompok, maka bisa dikatakan bahwa teori leadership lebih kompleks dibanding yang diduga sebelumnya. Berbagai teori kontingensi yang mencoba mengisi gap yang diciptakan teori perilaku dogmatis, sering mempertimbangkan isu seperti kualitas hubungan leader-kelompok, ketersediaan informasi, dan power relatif dibanding kualitas leader dan anggota kelompok. Satu teori kontingensi dari leadership, seperti yang dikemukakan oleh Tannenbaum dan Schmidt (1958), disebut Kontinum Leadership Perilaku.

Bila Blake dan Mouton membatasi leadership ke sebuah gride yang dibuat dari dua aksis (Blake dan Mouton, 1964), Tannenbaum dan Schmidt menggambarkan leadership sebagai kontinum (model) perilaku yang beragam dari strategi terpusat leader ke strategi terpusat kelompok. Dalam model ini, pilihan strategi yang dibuat leader dipengaruhi oleh tiga kekuatan:

  1. Kekuatan dalam leader, yang berisi sistem nilai leader, toleransi dan penilaian kompetensi kelompok dan kemampuannya sendiri;
  2. Kekuatan dalam kelompok, yang berisi kebutuhan anggota kelompok akan arahan atau independensinya, minat ke proyek, keinginan memikul tanggungjawab, pengetahuan, pengalaman dan harapan;
  3. Kekuatan dalam situasi, yang berisi struktur organisasi, tujuan yang ditetapkan, sifat tugas, dan batasan waktu.

Model di sini mendeskripsikan kadar keterlibatan leader dan kelompok dalam proses pembuatan keputusan yang digambarkan sebagai sebuah kontinum. Perilaku leader bisa berubah dari memiliki otoritas total dan membuat semua keputusan lewat konsultasi, menjadi memberikan ke kelompok guna mendefinisikan masalah dan membuat keputusannya sendiri. Ketika partisipasi kelompok meningkat, otoritas leader turun. Perilaku leader di berbagai point di kontinum, yang berpindah dari titik terpusat leader sampai titik terpusat kelompok, adalah:  

  1. Leader memutuskan dan mengumumkan keputusan ke kelompok. Kelompok tidak memainkan apapun dalam pembuatan keputusan sama sekali;
  2. Leader memutuskan dan menjual keputusan ke kelompok;
  3. Leader memutuskan dan setelah mengumumkan keputusan, menjawab pertanyaan;
  4. Leader menyajikan keputusan tentatif, berbicara dengan kelompok, kemudian leader memutuskan;
  5. Leader menyajikan masalah, meminta ide dan kemudian, leader memutuskan;
  6. Leader menyajikan masalah, mendefinisikan batasan, dan kemudian, kelompok memutuskan;
  7. Leader memberikan banyak kebebasan ke kelompok agar menentukan masalah dan memutuskanya (Tannenbaum dan Schmidt, 1958).

Kita perlu menilai dimana di kontinum saat leader menunjukkan perilaku yang digunakan untuk pembuatan keputusan. Model Tannenbaum dan Schmidt (1958) menunjukkan bahwa leader adalah orang di kelompok yang memiliki “presedensi atau pre eminensi” dan “posisi otoritas sebagai komandan atau direktur”. Ini memperkenalkan apa yang disebut prinsip selisih power dan definisi peran. Ada basis struktural bagi leadership ini. Hubungan antara leader dan anggota kelompok adalah antara komandan dan pengikut, yaitu satu orang dengan presedensi, dan lainnya tidak.

            Bisa disimpulkan dari sini bahwa leadership adalah interaksional. Agar terjadi leadership, maka harus ada orang yang siap memimpin, dan orang lainnya siap ikut. Kedua, kita harus menyimpulkan bahwa leadership melibatkan satu proses individu, untuk kelompok kecil, dan proses kelompok keseluruhan. Dari ini, kita bisa melihat leadership sebagai kombinasi antara dua entitas terpisah tapi saling terkait perilaku leader atau beberapa leader, dan proses yang membuat kelompok bertindak.

           

C.                Proses Leadership

Jika kita melihat leadership sebagai sebuah proses kelompok, kita bisa tahu bahwa ada empat faktor yang perlu dipertimbangkan. Leadership selalu berhubungan dengan sebuah situasi. Setiap situasi yang membutuhkan leadership bisa berbeda karena:

  1. struktur organisasi,
  2. apa yang harus dilakukan,
  3. siapa leadernya,
  4. siapa yang mengisi kelompok.

Leadership diarahkan ke tujuan sama. Leadership bisa atau tidak terlibat dalam penetapan tujuan tapi, ketika terlibat, leadership adalah perilaku orang yang tugasnya mengarahkan usaha kelompok untuk mencapai tujuan. Leadership melibatkan interaksi sosial. Agar leadership terjadi, harus ada interaksi kelompok untuk menciptakan hubungan antara leader dan anggota kelompok, mendefinisikan harapan peran bagi kelompok, dan menciptakan hubungan antara orang di kelompok.

Leadership melibatkan hubungan power. Leadership hanya bisa ada jika ada basis power legitimate. Power leader bisa ditetapkan sebagai kemampuan leader untuk membuat orang lain menyesuaikan perilakunya agar cocok dengan kebutuhannya.

Ada beberapa teori tentang peranan kepemimpinan (leadership function). Diantaranya adalah pendapat yang dikemukakan oleh Koontz et al, yang secara ringkas dirumuskan sebagai berikut :

 

“Fungsi kepemimpinan adalah mengajak atau menghimbau semua bawahan atau pengikut agar dengan penuh kemauan untuk memberikan sumbangan dalam mencapai tujuan organisasi sesuai dengan kemampuan para bawahan secara maksimal”.

 

Berdasarkan definisi tersebut, paling tidak ada tiga hal pokok yang memberikan ciri terhadap fungsi kepemimpinan, yaitu : 1). Kemampuan untuk memahami bahwa manusia itu pada hakikatnya memiliki kekuatan motivasi dalam waktu yang bervariasi serta situasi yang bebeda-beda. 2) Kemampuan untuk menimbulkan semangat. 3). Kemampuan untuk berbuat dengan cara tertentu, sehingga menciptakan suatu suasana yang merangsang lahirnya suatu respon atau motivasi.

Pendapat lain yang menarik tentang peranan kepemimpinan diungkapkan oleh H.G.Hicks dan C.R. Gullett dalam buku yang berjudul Organization : Theory and Behaviors. Keduanya berpendapat bahwa peranan pemimpin yaitu bersikap adil, memberikan sugesti, mendukung tercapainya tujuan, sebagai katalisator, menciptakan rasa aman, sebagai wakil organisasi, sumber inspirasi, dan mau menghargai. Masing-masing peranan atau fungsi tersebut sebagai berikut :

 

1.      Bersikap adil (arbitrating)

Dalam kehidupan organisasi apapun, rasa kebersamaan diantara para anggotanya adalah mutlak. Sebab rasa kebersamaan pada hakikatnya merupakan pencerminan dari kesepakatan antar sesama bawahan, maupun antar pemimpin dengan bawahan, dalam mencapai tujuan organisasi. Tetapi dalam hal-hal tertentu mungkin akan terjadi ketidaksesuaian timbul persoalan dalam hubungan diantara para bawahan. Apabila diantara mereka tidak bisa memecahkan persoalan tersebut, pemimpin perlu turun tangan untuk segera menyelesaikan. Dalam hal memecahkan persoalan hubungan diantara bawahan, pemimpin harus bertindak adil dan tidak memihak.

 

2.      Memberikan sugesti (suggesting)

Sugesti bisa disebut saran atau anjuran. Dalam rangka kepemimpinan, sugesti merupakan kewibawaan atau pengaruh yang seharusnya mampu menggerakan hati orang lain. Sugesti mempunyai peranan yang sangat penting dalam memelihara dan membina rasa pengabdian, partisipasi dan harga diri, serta rasa kebersamaan diantara para bawahan.

 

3.      Mendukung tercapainya tujuan (supplying objectives)

Tercapainya tujuan organisasi tidak terjadi secara otomatis, melainkan harus didukung oleh berbagai sumber. Oleh sebab itu, agar setiap organisasi dapat efektif dalam arti mencapai tujuan yang telah ditetapkan, serta pendayagunaan sumberdaya manusianya secara optimal, perlu disiapkan sumber pendukungnya yang memadai seperti : mekanisme dan tata kerja, sarana, serta sumber yang lain.

 

4.      Katalisastor (catalysing)

Secara kimiawi, arti kata “katalis” atau “katalisator” ialah satu yang tidak ikut bereaksi, tetapi mempercepat reaksi (kimia). Dalam dunia kepemimpinan, seorang pemimpin dikatakan berperan sebagai seorang katalisator apabila pemimpin tersebut berperan selalu meningkatkan penggunaan segala sumber daya manusia yang ada, berusaha memberikan reaksi yang memberikan semangat dan daya kerja cepat dan semaksimal mungkin, serta selalu tampil sebagai pelopor dan pembawa perubahan.

 

5.      Menciptakan rasa aman (providing security)

Setiap pemimpin berkewajiban menciptakan rasa aman bagi para bawahannya. Fungsi ini hanya dapat dilaksanakan apabila setiap pemimpin selalu mampu memelihara hal-hal yang positif, sikap optimisme dalam menghadapi setiap permasalahan, sehingga dengan demikian dalam melaksanakan tugas-tugasnya, bawahan merasa aman, bebas dari segala perasaan gelisah, kekhawatiran, dan merasa memperoleh jaminan keamanan dari pimpinan.

 

 

6.      Sebagai wakil organisasi (representing)

Setiap bawahan yang bekerja pada unit organisasi apapun selalu memandang atasan atau pemimpinnya mempunyai peranan dalam segala bidang kegiatan, lebih-lebih kepemimpinan yang menganut prinsip “keteladanan atau panutan”. Seorang pemimpin adalah segala-galanya, oleh karenanya segala perilaku, perbuatan dan kata-katanya akan selalu memberikan kesan tertentu terhadap organisasinya. Penampilan dan kesan-kesan  positif seorang pemimpin  akan memberikan gambaran yang positif pula terhadap organisasi yang dipimpinnya. Dengan demikian setiap pemimpin tidak lain juga diakui sebagai tokoh yang mewakili dalam segala hal dari organisasi yang dipimpinnya.

 

7.      Sumber inspirasi (inspiring)

Seorang pemimpin pada hakekatnya adalah sumber semangat bagi para bawahannya. Oleh karena itu setiap pemimpin harus selalu dapat membangkitkan semangat para bawahan, sehingga para bawahan menerima dan memahami tujuan organisasi secara antusias, dan bekerja secara efektif ke arah tercapainya tujuan organisasi.

 

8.      Bersikap menghargai (praising)

Setiap orang pada dasarnya menghendaki adanya pengakuan dan penghargaan dari orang lain. Demikian pula setiap bawahan dalam suatu organisasi memerlukan adanya pengakuan dan penghargaan dari atasannya. Oleh karena itu, menjadi kewajiban pemimpin harus mau memberikan penghargaan atau pengakuan dalam bentuk apapun kepada bawahannya.

 

 

Banyak orang kagum akan ke’bisaan’ orang dalam memimpin,

 namun tidak banyak yang membangunkan dirinya untuk bisa menjadi pemimpin.

 

Yang lebih lucu lagi adalah ketika, ada sebagian orang yang belum memiliki leadership, kemudian diberikan kewenangan untuk memimpin. Maka yang ada adalah sebuah kekacuan, kesemrawutan dan kebuntuan sebuah organisasi yang dipimpinnya akan menjadi amburadul. Sungguh Aneh!

 

 

Pemimpin adalah nahkoda, pengendali sebuah kapal, ke arah mana dan dengan kecepatan berapa kapal akan dibawa akan sangat tergantung pada kepemimpinannya.

 

Pertanyaannya apakah kepemimpinan bisa dipelajari ataukah dia bakat yang memang dibawa sejak lahir? berarti ada tidaknya pemimpin akan sangat tergantung pada pemberian Tuhan? Benarkah demikian? Saat Tuhan tidak menyertakan jiwa kepemimpinan kepada bayi yang akan dilahirkan ke bumi maka, selama itu pula tidak akan ada pemimpin yang layak dijadikan pemimpin?  jika seseorang di paksa untuk menjadi pemimpin maka akan lahir “pemimpin karbitan”.

 

 

  1. Hati Yang Melayani

 

Kebesaran seseorang tidak terlihat ketika ia berdiri dan memberi perintah,

Akan tetapi ketika ia berdiri sama tinggi dengan orang lain dan membantu orang lain untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka guna mencapai sukses”

Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam diri kita. Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam dan kemudian bergerak keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin yang diterima oleh rakyat yang dipimpinnya. Kembali kita saksikan betapa banyak pemimpin yang mengaku wakil bawahan ataupun pejabat publik, justru tidak memiliki integritas sama sekali, karena apa yang diucapkan dan dijanjikan ketika kampanye dalam menyampaikan visi misi tidak sama dengan yang dilakukan ketika sudah duduk nyaman di kursinya.

Paling tidak, ada sejumlah ciri-ciri dan nilai yang muncul dari seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani, yaitu tujuan utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan bawahan yang dipimpinnya. Orientasinya adalah bukan untuk kepentingan diri pribadi maupun golongan tapi justru kepentingan publik yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak pemimpin dalam kelompoknya. Hal ini sejalan dengan visi misi lembaga. Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang-orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut. Jika sebuah organisasi atau masyarakat mempunyai banyak anggota dengan kualitas pemimpin, organisasi atau bangsa tersebut akan berkembang dan menjadi kuat.

Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih itu mewujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani adalah akuntabilitas (accountable). Akuntabilitas berarti penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan. Artinya seluruh perkataan, pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik atau kepada setiap anggota organisasinya.

Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar setiap kebutuhan, impian, dan harapan dari bawahan yang dipimpin. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat mengendalikam ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan publik atau mereka yang dipimpinnya. Mengendalikan ego berarti dapat mengendalikan diri ketika tekanan maupun tantangan yang dihadapi menjadi begitu berat, selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri, dan tidak mudah emosi.

 

 

 

  1. Pemimpin Ajakan dan Balas Budi

Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Begitu banyak mengenai pemimpin, dapat penulis gambarkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.

Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya. Pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan yang dijelaskan sebelumnya tersebut memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat-sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.

 

  1. Delegasi

Delegasi pemimpin kepada bawahan yang pertama yang disebut dengan konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti : membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.

Kedua disebut struktur inisiasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat, bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai. Pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata-rata dari bawahannya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bawahannya.

Jika saja NTB memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin. Dan jangan memiliki pemimpin Karbitan.

 

  1. Ketegasan Amboradul

Berulang kali pemimpin harus menghadapi pemberontakan sebuah institusi dan semua ia hadapi dengan kasih dan ketegasan. Ia mengasihi bawahannya sebabnya ia melarang Tuhan memusnahkan kelembagaan. Namun ia pun tegas kepada mereka yang bersalah. Pemimpin yang mengasihi pengikutnya memikirkan kepentingan mereka dan bersedia berkorban bagi mereka. Pemimpin juga mesti tegas; tanpa ketegasan ia akan menuai kekacauan

Untuk memenuhi kriteria sebagai pemimpin seseorang harus kapabel sekaligus fleksibel pemberani sekaligus hati-hati tegas sekaligus bijak berpandangan jauh ke depan sekaligus teguh berpijak dan “sekaligus” lainya  lagi maka, di mana kita dapat menemukan manusia sesempurna itu?

Bukankah wajar bila kemudian orang berkesimpulan bahwa pemimpin itu tergolong “makhluk langka” cuma bisa dilahirkan, tak mungkin dibentuk. Kemunculannya hanya bisa ditunggu. Dalam desain Tuhan, “manusia” dijadikan “menurut gambar dan rupa Tuhan”. Artinya, pada satu pihak ia bukan Tuhan (Hyang Widhi), ia adalah makhluk ciptaan. Namun, dilain pihak, ia lebih,  karena makhluk yang satu ini ”manusia” adalah “Citra Tuhan”.

 

  1. Kesimpulan bijak

 

Penegasan adanya perbedaan esensial antara pemimpin Hindu dan pemimpin sekuler dengan menyatakan, “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemimpin, memerintah bawahan dengan Tangan Besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas bawahan. Tidaklah demikian di antara kalian. Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan “memimpin” itu berarti “melayani”. “Memimpin” itu berarti “mengabdi”, “Menghamba”. Tanpa unsur “pelayanan” ini, unsur kepemimpinan yang lain, paling banyak hanya memungkinkan orang menjadi seorang “pemimpin yang trampil” (a skilled leader). Seorang “pemimpin yang mampu” (a capable leader). Tapi belum bisa memberinya kualifikasi sebagai seorang “pemimpin yang sejati” (a true leader). ”Pemimpin sejati” harus punya sikap mental seorang pelayan. Mesti punya motivasi seorang abdi. Mesti bersikap dan bertindak baik seorang hamba. Ia adalah pemimpin yang menghamba. Sekaligus, hamba yang memimpin.

Read 1947 times Last modified on Monday, 02 February 2015 03:08