Wednesday, 20 June 2018

SIMULASI PERANG DALAM KEBUDAYAAN ORANG BALI-LOMBOK DALAM PERSPEKTIF PSIKOANALISA

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Thursday, 29 January 2015 00:49
Rate this item
(0 votes)

SIMULASI PERANG DALAM KEBUDAYAAN ORANG BALI-LOMBOK DALAM PERSPEKTIF PSIKOANALISA

Oleh:

I Wayan Wiharta Nadi

 

 

A.Latar Belakang   

 

 

Menurut Freud agama merupakan “suatu neurosis obsessional universal” (Pals, 2001:111). Ia hadir sebagai sebuah mekanisme repsresi pada insting-insting dasar manusia, terutama sex. Represi terhadap insting dasar ini memunculkan neurosis psikologis. Lebih jauh Freud menyatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah penindasan manusia. Kebudayaan mengekang tidak hanya eksistensi social manusia tapi juga eksistensi biologisnya, tidak hanya bagian-bagian manusiawinya saja tetapi juga struktur instingtifnya (Marcuse, 2004:11). Kecenderungan ini dimunculkan dalam berbagai aspek yang dimiliki oleh agama yang secara obyektif empiris bersifat mengekang manusia. Kekangan inilah yang membuat peradaban manusia menjadi maju. Bila manusia dibiarkan bebas memenuhi nalurinya maka aka nada pertentangan yang tiada henti yang mengarah pada kehancuran manusia sendiri.

Dorongan naluriah manusia untuk memuaskan keinginannya dirumuskan sebagai prinsip kesenangan, sedangkan prinsip pengekangnya disebut dengan prinsip realitas yang berisi system nilai yang mengatur pemenuhan kebutuhan naluriah manusia. Di tingkat permukaan, kata Freud, sebuah peristiwa yang ditekan adalah sebuah peristiwa yang terlupakan, tetapi sebenarnya belum menghilang. Secara tidak sadar ia tetap kuat di dalam pikiran, untuk muncul kembali melalui jalan yang penuh teka-teki (Pals, 2001:99).

Dalam sejarah manusia, prinsip kesenangan ditranformasi menjadi prinsip realitas. Menurut Marcuse (2004:13) konsep ini sebagian besar berkaitan dengan perbedaan antara proses sadar dan tidak sadar. Prinsip kesenangan mengatur alam tak sadar berisi proses-proses yang lebih tua, primer, sisa-sisa fase perkembangan ketika proses tersebut merupakan satu-satunya proses mental. Proses-proses primer ini tidak memperjuangkan apapun kecuali mendapatkan ‘kesenangan’. Dengan mengejar prinsip kesenangan ini individu akan mengalami penyadaran yang  traumatis bahwa pemuasan kebutuhan yang sepenuh-penuhnya tanpa rasa sakit adalah tidak mungkin.

Prinsip realitas kemudian, dalam bahasa Freud (dalam Marcuse, 2004:14), melindungi atau memodifikasi prinsip kesenangan. Jadi, Prinsip Realitas tidak meniadakan Prinsip Kesenangan. Penyesuaian Prinsip kesenangan menjadi Prinsip Realitas menyiratkan adanya penundukan dan pengalihan kekuatan destruktif pemuasan instingtif, ketidakcocokan kekuatan-kekuatan destruktif tersebut dengan norma-norma dan hubungan-hubungan social yang ada, dan dengan demikian menyiratkan perubahan isi kesenangan itu sendiri (Marcuse, 2004:15).

Perang merupakan upaya manusia untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan sarana kebutuhan yang terbatas. Perang menyediakan penyadaran yang traumatis bagi manusia akan rasa sakit, kehilangan, kekalahan, dan terutama kematian. Eros, sebagai prinsip kehidupan yang terus menerus berkuasa dengan cara memenuhi segala keinginan manusia untuk merasakan kesenangan, pada akhirnya akan menghantarkan pada kematian yang merupakan prinsip kebalikannya (Thanatos).

Dalam kebudayaan masyarakat Bali-Lombok, banyak ditemui bentuk tradisi atau upacara yang mengadaptasi perang kedalam bentuk pelaksanaannya. Yang boleh disebut paling menonjol adalah Perang Api di Sweta-Negarasakah Cakranegara dan Perang Topat di Pura Lingsar Kecamatan Narmada. Selain kedua upacara tersebut, dapat ditemukan juga adat istiadat Peresean yang menunjukkan bentuk adaptasi perang. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa bentuk-bentuk kebudayaan tersebut dengan menggunakan perpsepktif psikoanalisa yang dikemukakan oleh Sigmund Freud dengan penjabarannya oleh Herbert Marcuse.

 

B.  Pembahasan

Peperangan pada awalnya memang dilakukan oleh kedua kelompok masyarakat dalam memperebutkan sumber daya yang terbatas. Tercatat dalam berbagai keterangan sejarah bahwa perebutan pengaruh antar penguasa Bali dengan sesamanya dan dengan penguasa pribumi Sasak terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Konsolidasi pemerintahan di Lombok ini baru selesai mantap pada tahun 1744 dengan dibangunnya pura Meru yang ada di Cakranegara sekarang. Ini adalah sarana pemersatu semua kerajaan-kerajaan Bali di sana, yaitu: Pagesangan, Pagutan, Kediri, Sengkongo, Karangasem-Singasari dan Mataram (Agung, 1991; 53). Pada perkembangannya, kemajuan kemampuan bertani dalam kedua masyarakat menghasilkan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan makan kedua kelompok tersebut. Dengan kecukupan itu maka perang untuk memperebutkan sumber daya bukan merupakan sesuatu yang dibutuhkan lagi.

Prinsip kesenangan menurut Freud tidak dapat dikudeta atau dihilangkan oleh prinsip realitas, namun hanya diatur atau dimodifikasi. Kesenangan individu yang didapat dari berperang harus berhadapan dengan realitas akan dampak yang disebabkan oleh perang. Dengan demikian maka perang yang sebenarnya dimodifikasi atau dilindungi dalam bentuk permainan atau simulasi perang. Sejalan dengan Freud, penyesuaian Prinsip kesenangan menjadi Prinsip Realitas menyiratkan adanya penundukan dan pengalihan kekuatan destruktif pemuasan instingtif, ketidakcocokan kekuatan-kekuatan destruktif tersebut dengan norma-norma dan hubungan-hubungan social yang ada, dan dengan demikian menyiratkan perubahan isi kesenangan itu sendiri.

Sikap brutal direpresi oleh norma-norma Agama Hindu yang mengkedepankan harmoni dan keselarasan. Sikap brutal yang direpresi tersebut sesuai dengan teori Psikoanalisa Freud tidak akan pernah hilang tetapi akan muncul dengan cara yang lain. Sikap yang direpresi tersebut harus disalurkan ke dalam bentuk yang lain yang tetap tidak bersifat destruktif terhadap kelangsungan hidup masyarakat tersebut.

Mitos tentang roh-roh gentayangan yang mengakibatkan penyakit yang membunuh dengan cepat (gerubug bah bedek) adalah cetusan pengalaman traumatic akibat peperangan yang menelan banyak korban jiwa. Perasaan trauma itu menimbulkan suatu rasa bersalah yang serupa seperti awal mula timbulnya pemujaan dalam perspektif Freudian tentang rasa bersalah anak atas pembunuhan yang dilakukan terhadap bapaknya.

Penggunaan merang dalam jumlah yang cukup banyak yang berasal dari tanaman padi menunjukkan adanya represi terhadap orientasi perang itu sendiri yaitu dari masyarakat yang militeristik kearah masyarakat yang lebih agraris. Masyarakat agraris ini membutuhkan keadaan yang lebih damai atau keadaan damai yang relatif lebih panjang untuk dapat mengelola pertaniannya. Untuk itu, dampak perang yang destruktif tidak dapat berdampingan dengan realitas masyarakat agraris sehingga peperangan harus diminimalisir sampai frekuensi yang terendah.

Metode menggunakan pakaian basah dalam perang api atau menggunakan ketupat yang tidak berbahaya untuk meminimalisir dampak dalam simulasi perang menunjukkan trauma terhadap dampak destruktif perang yang sebenarnya. Kesadaran traumatic ini menuntut masyarakat pelaku untuk tidak membahayakan dirinya pada saat melakukan upacara tersebut, walaupun sebenarnya yang dilakukan adalah peperangan yang memiliki konsekuensi destruktif.

Adanya peraturan-peraturan yang melarang peserta untuk meneruskan serangan pada lawan, menunjukkan adanya kondisi bawah sadar tentang keadaan terbunuh yang ditampakkan oleh symbol api itu sendiri. Kemungkinan norma ini terkait dengan penghormatan terhadap orang yang sudah meninggal atau pun rohnya yang diyakini oleh masyarakat masih bisa mengintervensi dunia kehidupan dengan cara-cara tertentu.

Represi terhadap insting dasar manusia yang ditampakkan dalam perang api berasal dari norma-norma Agama Hindu yang dianut oleh masyarakat Sweta dan Negarasakah. Norma Ahimsa (tidak menyakiti) sebagai prinsip yang menonjol dalam Hinduisme muncul sebagai prinsip realitas yang mengatasi prinsip kesenangan yang didapat dari melakukan perbuatan membunuh dalam peperangan.

Simulasi-simulasi perang dalam kebudayan ini menunjukkan gejala yang mirip dengan ritual totem kuno seperti yang dijelaskan Freud (dalam Pals, 2001:117) ia melakukan kembali dan berusaha menolaknya, kejahatan awal umat manusia. Masyarakat melakukan kembali perang dengan menggunakan metode yang relatif tidak membahayakan dibanding perang sesungguhnya, namun sekaligus ada pemeranan kembali terhadap kejahatan atau pembunuhan yang pernah dilakukan oleh nenek moyang mereka di masa lalu.

 

Penutup

Dengan modifikasi terhadap prinsip kesenangan ini kelangsungan hidup masyarakat dapat diteruskan kearah kemajuan yang lebih kondusif. Manusia mempertahankan eros dan menjauhkan thanatos. Simulasi Perang memungkinkan penyaluran insting dasar yang berkaitan dengan kesenangan yang didapat dari berperang dengan tanpa membawa dampak yang destruktif terhadap kelangsungan keberadaan masyarakat tersebut.

Pada akhirnya, hal ini menunjukkan perkembangan dari masyarakat yang serupa dengan perkembangan individu dari tahap kanak-kanak menuju tahap dewasa. Tahap kanak-kanak ditandai dengan adanya kebutuhan untuk mendapatkan kesenangan yang terus menerus. Hal ini ditunjukkan pada tahap awal sejarah keberadaan kedua masyarakat tersebut yang terlibat dalam peperangan. Tahap dewasa ditandai oleh kemampuan melakukan represi terhadap prinsip kesenangan yang bila terus menerus dikejar akan menghantarkan pada kehancuran. Tahap ini ditunjukkan dengan adanya represi terhadap insting ego dengan mentransformasi prinsip kesenangan dengan penerapan norma-norma yang diyakini bersama oleh masyarakat. Modifikasi ini dilakukan dengan mengubah perang sesungguhnya yang mengakibatkan dampak destruktif ke dalam bentuk permainan/simulasi perang yang disebut dengan perang api  atau perang topat.

Norma-norma Agama Hindu dalam hal ini berperan sebagai prinsip realitas yang memodifikasi prinsip kesenangan. Represi yang dilakukan oleh agama yang dianut oleh masyarakat ini menekan naluri dasar untuk mencapai kesenangan dengan cara berperang menjadi sebuah upacara yang disakralkan sehingga akhirnya dilestarikan hingga saat ini.

 

 

Daftar Pustaka :

Agung, Anak Agung Ketut. 1991. Kupu-Kupu Kuning yang Terbang di Selat Lombok : Lintasan Sejarah Kerajaan Karangasem (1660-1950).   Denpasar : Upada Sastra

Agus, Bustanuddin.2006.Agama Dalam Kehidupan Manusia. Jakarta : Rajagrafindo Persada

 

Marcuse, Herbert. 2004. Cinta dan Peradaban. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Read 1720 times Last modified on Thursday, 29 January 2015 01:15