Wednesday, 20 June 2018

AGAMA DAN POLITIK GLOBAL

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Thursday, 29 January 2015 07:43
Rate this item
(0 votes)

AGAMA DAN POLITIK GLOBAL

Oleh : Ni Putu Sudewi Budhawati

 

“Agama bukanlah untuk mimisahkan seseorang dengan orang lain,

agama bertujuan untuk menyatukan mereka. Adalah suatu

malapateka bahwa saat ini agama telah sedemikian

terdistorsi sehingga menjadi penyebab

perselisihan dan pembantaian”

 

                                                  Mahatma Gandhi, 2004 : 170 (dalam Titib,2007:1)

 

Era globalisasi kini merupakan dinamika jaman yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mengakibatkan perubahan sosial yang sangat besar. Pertengkaran terjadi dimana-mana, di kalangan tokoh-tokoh intern seagamapun dan bahkan hampir setiap keluarga tidak luput dari pertengkaran. Orientasi manusia hanyalah pada kesenangan dengan memuaskan nafsu indrawi (kama) dan bila hal ini terus diturutkan, maka nafsu itu ibarat api yang disiram dengan minayk tanah atau bensin, tidak akan padam melainkan menghancurkan diri manusia.

Pusat-pusat pertengkaran yang menghancurkan kehidupan manusia digambarkan dalam kitab Skanda XVII.I, antara lain: minuman keras, perjudian, pelacuran, dan harga benda/emas (Vettam, dalam Titib, 2007). Hal ini adalah logis, karena pada tempat-tempat tersebut merupakan arena yang sering menyulut pertengkaran. Bila kita melihat diturunkan ajaran agama, yang maksudnya adalah untuk menyejahterakan manusia, maka manusia hendaknya kembali pada ajaran agama sebagai basiss kehidupan. Kondisi masyarakat dewasa ini nampaknya persis sama dengan penggambaran Visnu Purana (IV. 24.21.-22), sebagai berikut :

 

“Masyarakat hancur karena harga benda hanya berfungsi meningkatkan status sosial/kemewahan bagi seseorang, materi menjadi dasar kehidupan kepuasaan hidup hanyalah kenikmatan seks antara laki-laki dan wanita, dusta menjadi sumber kesuksesan hidup. Seks merupakan satu-satunya sumber kenikmatan dan kesalahan merupakan hiasan bagi kehidupan spritual.

 

Bila nilai-nilai moralitas tidak diindahkan lagi oleh orang-perorangan (individu) maupun oleh masyarakat, maka ciri-ciri yang digambarkan pada jaman Kaliyuga itu merupakan kebenaran. Nilai-nilai moralitas semestinya menjadi pegangan hidup setiap orang, namun karena trend Kali lebih menekankan pleasure oriented, maka hal itu akan mudah ditinggalkan. Dalam menghadapi proses perubahan itu agama mengalami apa yang disebut pembidangan institusional. Agama harus menegaskan dirinya di mana letaknya ia sebagai suatu institusi. Sebab dalam masyarakat yang masih sederhana, agama biasanya berfungsi untuk segala-segalanya. Sistem kepercayaan agama, nilai-nilai dan praktek-praktek keagamaan memiliki pengaruh langsung terhadap tingkah laku sosial masyarakat. Sebaliknya dalam masyarakat yang semakin maju, setiap institusi sosial melakukan pembidangan yang berbeda satu dengan yang lain. Deferensiasi kehidupan sosial dalam bentuk munculnya lembaga-lembaga sosial inilah yang oleh para sosiolog agama dinamakan proses sekularisasi, artinya pembidangnya yang terpisah antara institusi agama dengan institusi atau aspek sosial lainnya. Namun dalam suasana deferensi ini, agama juga sering mendorong individu memiliki kesadaran beragama yang lebih mendalam (Bellah, 1981 : 29)

 

Agama Dalam Masyarakat Modern

Dalam Masyarakat barat kontemporer, kita menemukan beraneka ragam bentuk dan praktek religius. Kemajemukan kebudayaan modern dan tidak ada aliran politik yang kuat untuk menyeleksi gaya hidup, memiliki karakter yang sama dengan kepluralan. (Bryan and Turner, 2006: 343-344)

Dalam pasar cultural, pilihan-pilihan tidak ditentukan secara politis dan apa yang dijadikan gaya hidup pada prinsipnya tidak terbatas. Dijaman ini orang bisa saja di hari Senin beriman menurut ajaran Budhisme, ajaran Zen pada hari selasa, Sufi dihari Rabu dan sama sekali tidak beriman di hari-hari menjelang senin minggu depan. Dalam masyarakat demokratis seperti sekarang ini, tidak ada tekanan dan paksaan  yang efektif terhadap pilihan-pilihan pribadi, asalkan mereka tidak mengganggu jalannya aturan-aturan birokrasi pemerintahan hari demi hari. Setiap pilihan benar-benar bersifat pribadi dan opsional. Maka bisa juga dikatakan bahwa kemajemukan dan pluralisme dalam pasar kebudayaan ini sebagai kompensasi terhadap batasan dan kekangan yang terjadi diwilayah kerja. Seperti alkoholisme dan seksualitas, pluralisme religius setidaknya bisa menjadi penyeimbang rigid dan ketatnya waktu serta ruang  di lantai-lantai kantor dan pabrik. Gerakan-gerakan religius baru, bagaimanapun harus diakui, kebanyakan anggotanya berasal dari kerah putih dan berdasi serta kaum eksekutif muda.

 

Aktualisasi ajaran agama dalam kehidupan sosial

Jika kita menggali dinamika perubahan, sebenarnya sedang menyelidiki penafsiran mendasar tentang kekuatan sosial yang bekerja dalam masyarakat. Pengakuan kita dunia tidaklah statis tetapi selalu dalam proses, merupakan langkah awal yang penting. Tiga model interpretasi perubahan (tradisional,liberal dan radikal) juga menyajikan berbagai persepktif yang berbeda tentang pentingya konflik sosial.

Model-model penafsiran perubahan

 

Model tradisional

Model liberal

Model radikal

Pandangan tentang waktu

Siklis

Evolusi oner

Transformatif

Pandangan tentang ruang

Organis

Pluralistik

Interdependen

Prinsip yang berlaku

Otoritarian

Manajerial (keseimbangan)

Partisipatif

Metafor yang mendasari

Biologis

(tubuh manusia)

Mekanistis (mesin)

Artistik

(karya seni)

Pandangan tentang konflik

Penyimpangan

Supersial

kreatif

 

Secara historis, model tradisinal untuk menafsirkan perubahan sosial atau dinamika masyarakat telah menjadi model dominan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pandangan tradisional sama sekali bukanlah perubahan. Model perubahan liberal telah mengganti model tradisional dalam masyarakat dewasa ini. Konsep-konsep seperti “pragmatisme” dan “pluralisme” sunguh-sungguh penting pada model ini. Tidak seperti model tradisional, model ini tidak menentang perubahan, atau kembali lagi ke era keemasan masa lalu.

Model ketiga dari dinamika perubahan sosial tersebut model radikal. menurut perspektif radikal ini masyarakat bergerak melalui kurun sejarah seperti gelombang dengan bentuk-bentuk baru yang muncul dari kontradiksi bentuk lama. Bentuk-bentuk lama hilang, tak satupun nampak lagi.

Dengan membandingkan pengalaman empirik pada masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu maka dapat dinyatakan bahwa perubahan sosial terjadi kemajuan pendidikan dan kondisi social (dalam Titib, 2007:1-30). Karena masyarakat lebih mengal ajaran agama yang dianut, yang sebelumnya kurang disebarluaskan, pengalaman agama sesuai ajarannya, di antaranya melumernya dan mulai berkurangnya penyimpangan terhadap pengertian Vana (pilihan profesi atas dasar bakat dan pembawaan) yang dipahami sebagai Kasta (derajat seseorang ditentukan oleh kelahirannya), persamaan derajat, penegakkan HAM dan sebagainya sesuai ajaran agama semakin membaik, namun tantangan yang dihadapi justru kini adalah dampak dari globalisasi yang menggerogoti berbagai aspek kehidupan keagamaan.

Dalam pembinaan hubungan sosial yang harmoni yang berlandaskan kasih sayang (paramaprema) dikaitkan dengan perubahan sosial, umat Hindu di Bali mengembangkannya melalui sistem pemujaan, yaitu pertama, melalui pura keluarga yang disebut juga pura Kawitan. Dari keluarga ini dengan tempat pemujaan (pura) keluarga (Marajan) sampai keluarga dalam satu klen di pura Padharman. Kedua, melalui pura Kahyangan Desa (Kahyangan Tiga), yakni tiga pura untuk memuja manifestasi Tuhan Yang Maha Esa di wilayah desa, untuk mewujudkan kerukunan teritorial. Ketiga melalui pura Swagina, pura tempat memuja Tuhan Yang Maha Esa yang dilakukan oleh umat yang memiliki profesi yang sama, misalnya pura Subak (bagi pemilik dan penggarap sawah) dan keempat melalui pura Kahyangan Jagat, untuk mengembangkan cinta kasih, dengan tidak membeda-bedakan asal klen, desa, dan jenis profesinya. Melalui tempat pemujaan Kahyangan Jagat ini umat Hindu memupuk dirinya untuk mewujudkan kerukunan yang universal (dalam Titib, 2007 : 5).

 

Dampak Globalisasi

Globalisasi merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi eksistensi Agama Hindu dan budaya Bali. Tidak ada satu bangsa atau budaya apapun di belahan dunia ini yang tidak terlepas dari globalisasi atau era kesejagatan yang demikian tampak pesat menders setiap bangsa. Berbagai produk budaya global telah merambah berbagai aspek kehidupan. Dampak positif budaya global sangat dirasakan oleh masyarakat Bali. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Demikian pula alas-alas komunikasi, transportasi, dan informasi yang sangat canggih memberikan peluang kepada masyarakat Bali yang memang sangat terbuka, untuk berkomunikasi ke mana saja di belahan bumi ini. Wawasan masyarakat Bali terbuka untuk memetik hal-hal yang baik dari manapun berasal dan dengan kemampuannya yang selektif dan adaptif, menggunakan hal-hal yang baik itu untuk merevitalisasi Agama Hindu Bali.

Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya global, terutama dengan adanya kemajuan teknologi informasi mempercepat proses perubahan tersebut. Proses globalisasi telah pula merambah kehidupan agama yang serba sakral menjadi sekuler, yang dapat menimbulkan ketegangan bagi umat beragama. Nilai-nilai yang mapan selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (dalam Titib, 2007 : 11).

Terlepas dari dampak positif dan negatif globalisasi tersebut, tampak beragam respon masyarakat Bali. Di satu pihak mereka optimis menghadapi tantangan globalisasi tersebut, di pihak yang lain ada yang sangat pesimis dan khawatir terhadap memudarnya berbagai nilai budaya Bali. Dalam situasi yang demikian, mantan Duta Besar India, Vinod C. Khanna dan Malini Saran yang telah beberapa kali mengunjungi Bali, dan menulis buku The Ramayana in Indonesia (2004) seperti dikutip oleh Dharma Putra dan Widhu Sancaya (2005:XV) menyatakan bahwa Bali dapat dijadikan satu contoh untuk Asia sebagai daerah yang memiliki kemampuan untuk mengadaptasi budaya tradisional agar relevan dengan budaya global.

Dalam masyarakat kapitalis, agama secara politis dan cultural terlempar dari posisi inti dalam institusi berkuasa. Negara, keluarga, sekolah dan pabrik tidak lagi menebar makna dan signifikansi transcendental. Masyarakat yang teradministrasikan ditandai dengan jejaring tipis institusi-institusi aturan yang menata dan mengisi aktivitas manusia. Kompensasi untuk hal ini dapat dilihat dalam kenyataan masa yang hedonistic, konsumerisme dan kesantaian pribadi (privatized leisure. Juga ada kecenderungan dikalangan generasi muda dan kelompok-kelompok marjinal untuk memegang keyakinan kultik, esoteric tetapi hedonisme dan individualisme.

Dalam kisah Mahabharata terdapat teori perdamaian Krsna. Krsna sebagai awatara Wisnu berusaha untuk menghindarkan terjadinya perang besar Bharata Yudha antara bangsa Kuru dengan menjadi utusan pihak Pandawa untuk menawarkan perdamaian kepada Kaurawa, walaupun secara hukum Rta (oposisi biner) perang tersebut tidak dapat diielakkan sebagai pergolakan kosmis. Peran Krsna dalam cerita tersebut mengajarkan manusia secara mental tidak mengikatkan diri mereka dengan dunia maya dan melakukan tindakan tanpa harapan dan tanpa rasa takut akan mendapat hukuman. Ia mengajarkan bahwa tindakan tidak dapat dihindari dalam dunia maya, tetapi keterikatan pada hasil tindakan seseorang mengikat seseorang dengan kejadian duniawi.

 

Seangkan teori cantik Kaurawa, dengan kekuatan jahatnya yang melibihi kekuatan kebaikan Pandawa dengan perbandingan 20:1 (seratus Kaurawa dengan lima pandawa) (dalam Tim Penyusun, 2007 : 34). Kekuatan kejahatan,seperti Drona, Bhisma dan Karna juga membantu mereka dengan pasukannya yang banyak. Pasukan mereka terdiri dari sebelas bagian di pihak Kaurawa dan tujuh bagian di pihak Pandawa, tetapi pada akhirnya Pandawa menang. Ini melambangkan kekuatan kebenaran pada Pandawa berkat bimbingan dan politik Krsna saat peperangan berlangsung. Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Politik sesungguhnya merupakan sesuatu yang mulia, tetapi ketika nafsu berada di depan politik, selama untuk kepentingan yang baik maka politik harus didukung oleh agama, 2) Dalam skala global, agama sering mengandaikan   adanya vitalitas dan semangat baru sebagai media cultural perlawanan politik.

Read 2127 times