Wednesday, 24 January 2018

AKTUALISASI AGAMA DALAM KONTEKS PERUBAHAN SOSIAL

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Friday, 30 January 2015 01:38
Rate this item
(0 votes)

AKTUALISASI AGAMA

DALAM KONTEKS PERUBAHAN SOSIAL

( Perspektif Modernitas Giddens)

Oleh:

I Made Bayu Perdana

 

 

Latar Belakang

Dalam menghadapi perkembangan dan perubahan jaman, masyarakat beragama dihadapkan dengan berbagai macam bentuk benturan dan tuntutan terutama untuk memahami, mengkaji ulang dan memperdalam wawasan keagamaannya. Benturan-benturan tersebut terutama diakibatkan oleh kemajuan dalam teknologi komunikasi yang memungkinkan adanya persebaran informasi yang tidak terbatas baik dalam kualitas maupun kuantitas serta kandungan isi informasi. Keterbukaan arus informasi mau tidak mau mengakibatkan adanya pergeseran pola-pola budaya yang berakibat pada perubahan pandangan terhadap dunia (world view) masyarakat yang dalam artikel ini mengacu pada kaitan masyarakat dengan agamanya terutama masyarakat beragama Hindu. Banyak kajian yang menengarai bahwa kemajuan teknologi memicu masalah sosial yang menimbulkan penurunan moral dan etika dalam berbagai kalangan masyarakat. Tayangan dan media internet menjadi kambing hitam penyebab hal ini walaupun masyarakat juga dapat mengerti bahwa hal itu terjadi karena adanya penyalahgunaan dan bukan karena kesalahan teknologi secara material.

Masalah moralitas sebenarnya bukanlah hanya satu-satunya masalah yang ditunjukkan oleh benturan modernitas. Pergeseran moralitas hanya merupakan suatu petunjuk terhadap adanya social shift dalam keseluruhan masyarakat yang menyangkut perombakan besar terhadap kemapanan struktur tradisional yang meliputi seluruh sendi kehidupan sebagaimana dipahami secara awam maupun sosiologis. Keterkejutan atau culture shock tidak dapat dirasakan secara objektif oleh sebagian besar masyarakat karena modernitas telah diterima secara taken for granted sehingga peran ilmu pengetahuan untuk melakukan pengkajian terhadap permasalahan tersebut kemudian menjadi semakin penting. Walaupun demikian, ketidakhati-hatian ilmuwan dalam mengkaji permasalahan-permasalahan sosial menyebabkan timbulnya informasi-informasi yang lebih bersifat normatif sehingga pada dasarnya permasalahan-permasalahan modernitas dalam masyarakat Hindu tidak terpecahkan dengan baik. Alhasil, kegamangan masyarakat dalam mengaplikasikan ajaran-ajaran agamanya dalam modernitas menuju kepada timbulnya konflik-konflik sosial baru baik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Untuk sekedar menyebutkan beberapa hal, konflik tentang bentuk-bentuk banten (sesajen) dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan, masalah pembakaran mayat massal (ngaben massal), peran PHDI dalam masyarakat, etika berpakaian dalam kegiatan agama dan keagamaan, adalah merupakan beberapa konflik sosial yang timbul akibat masyarakat Hindu sebagai bagian dari modernitas. Pada saat permasalahan-permasalahan yang timbul dalam masyarakat, walaupun ia berbentuk konkret sebagai permasalahan agama dan keagamaan, namun terkait erat dengan konteks sistem ekonomi, sistem politik dan pembagian kekuasaan maka pengkajian secara parsial seperti diatas tidak memberikan jawaban yang memuaskan.

Sangat disayangkan bahwa penelitian-penelitian ataupun kajian tentang berbagai konflik sosial yang timbul dalam masyarakat masih dipahami secara parsial atau conflict by conflict padahal penulis memiliki keyakinan bahwa secara general arus modernitas adalah faktor yang menimbulkan permasalahan-permasalahan tersebut diatas. Pemahaman secara komprehensif terhadap modernitas kaitannya dengan konflik-konflik tersebut niscaya akan memberikan pandangan yang lebih mendalam dan menemukan akar persoalan-persoalan yang ada. Dengan demikian, peran kajian-kajian yang bersifat interdisipliner akan menjadi lebih diperlukan untuk mendapat hasil yang diinginkan walaupun tentu saja kajian interdisipliner cenderung dapat menghasilkan temuan-temuan yang bersifat filosofis namun tidak ada tuntutan untuk menyatukan teori dan praksis sebagai sebuah keniscayaan. Keniscayaannya justru adalah bahwa temuan teoritis memerlukan tindak lanjut penyesuaian paradigma sehingga dapat memberi manfaat praktis dalam kehidupan sosial masyarakat.

Untuk memahami alur analisa dalam artikel ini, pertama kali kita harus sepakat dengan perspektif modernitas seperti yang dikemukakan oleh Anthony Giddens (2003) bahwa kita harus meletakkan modernitas seperti pada awal timbulnya yang menyangkut masalah geografis dan waktu, karena tidak adanya pemahaman tersebut justru akan menuju pada kegamangan baru yang salah satunya-menurut Giddens-adalah Post Modernisme seperti yang diutarakan oleh Lyotard.

Sebagai batasan operasional dapat dikemukakan di sini bahwa yang dimaksud sebagai aktualisasi agama dalah usaha masyarakat beragama Hindu untuk menerapkan nilai-nilai agama yang dianutnya dalam kehidupan baik itu secara mental maupun jasmani sehingga bentuknya dapat menjadi seabstrak keimanan atau sekonkrit upacara atau adat istiadat keagamaan. Secara konseptual, ‘masyarakat’ adalah istilah yang mengandung ambiguitas dalam penggunaannya. Anthony Giddens (2010:250) membagi pengertian masyarakat menjadi dua :

Pengertian pertama berupa konotasi umum ‘asosiasi’ sosial (sosial interaction) atau interaksi, pengertian lainnya berupa ‘masyarakat’ sebagai sebuah kesatuan, yang memiliki batas-batas yang membedakannya dengan masyarakat-masyarakat  lain yang mengelilinginya.

 

Sedangkan perubahan sosial merupakan konsep yang mengacu pada pergeseran waktu-ruang yang menimbulkan adanya perubahan dari kacamata sosiologis dalam masyarakat. Dengan demikian maka kajian ini akan lebih menuju kepada pemahaman ilmiah daripada kontekstual.

 

 

Pembahasan

Geertz, dalam Abdullah (2006:1) menyatakan bahwa kebudayaan itu “merupakan system mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk simbolik, yang dengan cara ini manusia dapat berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya terhadap kehidupan.”

Dengan memposisikan budaya sebagai system symbol ini, Abdullah menyimpulkan perubahan atau pergeseran kebudayaan karena pengaruh ruang dan kekuasaan terhadap lingkungan kebudayaan tersebut :

Pertama, tentang batas-batas dari ruang budaya yang mempengaruhi pembentukan symbol dan makna yang ditansmisikan secara historis tersebut. Berbagai bentuk ekspresi kebudayaan dalam konteks ini berada dalam suatu wilayah kebudayaan yang batas-batasnya mengalami suatu pergeseran yang dinamis. Kedua, batas-batas dari kebudayaan tersebut menentukan konstruksi makna dipengaruhi oleh hubungan kekuasaan yang melibatkan sejumlah aktor. Makna dalam hal ini dibangun bahkan diubah dalam suatu ruang dengan serangkaian pilihan nilai dan kepentingan yang dimiliki oleh masing-masing actor atau agen dengan tingkat kekuasaan yang berbeda. Ketiga, pola hubungan kekuasaan ini kemudian mengejawantah dalam identitas kelompok dan kelembagaan, yang menjadikannya realitas obyektif dan menentukan cara pandang antarkelompok. Keempat, identitas yang terbentuk melalui serangkaian symbol selain diterima juga menjadi objek pembicaraan, perdebatan, dan gugatan yang menegaskan perubahan yang mendasar dalam batas-batas kebudayaan (Abdullah, 2006 : 2).

 

Dalam memahami dinamika perubahan, pada dasarnya kita sedang menyelidiki penafsiran mendasar tentang kekuatan sosial yang bekerja dalam masyarakat. Pengakuan kita (ilmu pengetahuan) bahwa dunia tidaklah statis tetapi selalu dalam proses, adalah merupakan langkah awal yang penting. Tiga model interpretasi perubahan (tradisional,liberal dan radikal) juga menyajikan berbagai perspektif yang berbeda tentang pentingya konflik sosial dapat ditampilan seperti gambar berikut ini:

 

 

Model tradisional

Model liberal

Model radikal

Pandangan tentang waktu

Siklis

Evolusioner

Transformatif

Pandangan tentang ruang

Organis

Pluralistik

Interdependen

Prinsip yang berlaku

Otoritarian

Manajerial (keseimbangan)

Partisipatif

Metafor yang mendasari

Biologis

(tubuh manusia)

Mekanistis (mesin)

Artistik

(karya seni)

Pandangan tentang konflik

Penyimpangan

Superfisial

Kreatif

Gambar 1. Model-Model Penafsiran Perubahan

 

Secara historis, model tradisional untuk menafsirkan perubahan sosial atau dinamika masyarakat telah menjadi model dominan. Sederhananya, dapat dikatakan bahwa pandangan tradisional sama sekali bukanlah perubahan. Secara tradisional pandangan tentang waktu masyarakat Hindu didasari pada pandangan tentang adanya perputaran-perputaran yang bermacam-macam jenis. Pada masyarakat Hindu Bali adaptasi pandangan waktu yang siklis ini bisa dilihat pada konsep panca wara-dasa wara yang menjadi dasar penentuan pelaksanaan upacara-upacara atau pun kegiatan lainnya. Konsep Hindu tentang waktu yang bersifat siklis juga tampak pada konsep perputaran Yuga tentang akan kembalinya jaman keemasan Dharma pada era Trita Yuga. Pandangan Hindu Bali tradisional tentang ruang jelas bersifat organis yang didasari oleh konsep mandala yang berasal dari India. Sedyawati (2007 :60 ) meyatakan bahwa telah diketahui dari sumber-sumber Jawa dan Bali bahwa candi atau pura dianggap tidak hanya penting sebagai struktur visual dari alam semesta, tapi juga dianggap sebagai perwakilan hidup dari kosmos (It is known from Javanese and Balinese data that temples seem to be considered not only important as structural visual simbols of the universe, but they are also regarded as a living presentation of cosmos).

Kosmos dalam Hindu terbagi secara vertical dan horizontal. Pembagian secara vertical utamanya mengacu pada pembagian kosmos menjadi beberapa loka dan patala. Umumnya, secara vertical kosmos dibagi menjadi Bhur Loka, Bhuwah loka, dan Svah atau Svar loka. Namun beberapa sumber seperti Mahanirwana Tantra (terjemahan Ketut Nila, 1997) menyebutkan ada tujuh bagian loka yaitu dari atas ke bawah berturut-turut : Bhuh Loka (di bawah lengkung bumi) tempat Neraka loka berada, Bhur Loka (lengkung bumi), Bhuwar Loka (dari atas lengkung bumi sampai garis edar matahari, disebut juga antariksa yang merupakan tempat tinggal para siddha dan dewayoni), Swah Loka (dari garis edar matahari sampai garis edar bintang kutub) di sinilah letak Swarga loka, lalu berturut-turut diatasnya adalah Satya Loka, Tapa Loka, dan Janar Loka yang ketiganya disebut alam Mahar Loka. Ke arah bawah kosmos dibagi menjadi tujuh bagian yaitu  :Sutala, Witala, Tala-Tala, Mahatala, Rasatala, Atala, dan Patala yang merupakan tempat hidup para naga. Di bagian terbawah sebagai penyangga adalah Wisnu sebagai Sesa atau Ananta.

Secara horizontal, kosmos menurut Hindu dibagi menjadi delapan arah angin yang dijaga oleh masing-masing dewa yang disebut astadikpala. Dengan Siwa sebagai sumbu yang berada di tengah sehingga dewa-dewa itu berjumlah sembilan,  dikenal konsep Navasanga. Sedyawati (2007:58) menduga penempatan dewa-dewa dalam konfigurasi ini dimaksudkan untuk menyimbolkan fungsi kelompok dewa tersebut sebagai penjaga atau penyeimbang alam semesta (It may then mean that the placement of the gods in such a configuration was meant to symbolize the function of the group of gods as guardian and stabilizer of the universe).

Struktur dan kultur ruang-hidup melalui internalisasi dan eksternalisasi makna dan nilai-nilai arah penjuru angin, sebagaimana dipahami melalui pengideran lebih lanjut melahirkan konsepnatah (Triguna, dalam Anom, 2009: v), atau halaman yang dalam pengertian ini bermakna lebih luas daripada pengertian “halaman” dalam Bahasa Indonesia. Natah mencakup tidak hanya ruang kosong yang tidak terisi bangunan namun juga termasuk pembagian-pembagian ruang.

Konsep natah ini, lanjut Triguna, mewarisi pemahaman bahwa ruang hidup itu bersifat sacral dan profane sehingga melahirkan rasa takut dan pesona terhadap alam dan hal-hal fisikal lainnya yang kemudian berpengaruh terhadap ideology dan world view orang Bali, yakni cara orang Bali menciptakan, memandang dan memelihara dunia. Pada prinsipnya ideology dan pandangan-dunia ini menjadi kerangka landasan bagi pembentukan pengetahuan, sikap, dan perilaku orang Bali terhadap ruang-hidup.

Keinginan masyarakat Hindu-Bali untuk mempertahankan tradisinya didasari oleh argumentasi-argumentasi bahwa kearifan tradisional adalah benteng yang dapat dipergunakan untuk mempertahankan eksistensi mereka terhadapa gerusan-gerusan modernitas. Didasari oleh keadaan ini pula timbul konsep tentang ajeg Bali dimana pemaknaan konsep tersebut kemudian berkembang dan menjadi perdebatan tentang mempertahankan tradisi atau menolak kemajuan yang dapat mengakibatkan tertinggalnya masyarakat Hindu dalam berbagai hal dibanding dengan masyarakat lain di luar mereka. Dalam pelaksanaannya konsep Ajeg Bali dimaknai dalam tiga tataran, yaitu dalam tataran individu ; ajeg Bali dimaknai sebagai kemampuan manusia Bali untuk memiliki keprcayaan diri kultural (cultural confidence) yang bersiat kreatif dan tidak membatasi diri pada hal-hal fisikal semata. Kedua, dalam tataran lingkungan kultural ; ajeg Bali dimaknai sebagai sebuah ruang hidup budaya Bali yang bersifat inklusif, multikultur, dan selektif terhadap pengaru-pengaruh luar. Terakhir, dalam tataran proses kultural; ajeg Bali merupakan interaksi manusia dengan ruang hidup buadayanya guna melahirkan produk-produk atau penanda-penanda budaya baru melalui sebuah proses yang berdasarkan nilai-nilai moderat (tidak terjebak pada romantisme masa lalu maupun godaan dunia modern), non-dikotomis, berbasis pada nilai-nilai kultural, dan kearifan lokal, serta memiliki kesadaran ruang (spasial) dan waktu yang mendalam. Dalam ketiga tataran tersebut, disepakati bahwa ajeg Bali bukanlah sebauah konsep yang stagnan, melainkan upaya pembaruan terus-menerus yang dilakukan secara sadar oleh manusia Bali untuk menjaga identitas, ruang, serta proses budayanya agar tidak jatuh di bawah penaklukan hegemoni budaya global (diambil dari kumpulan artikel 55 tahun Bali Post, 2004).

Model perubahan liberal telah mengganti model tradisional dalam masyarakat dewasa ini. Konsep-konsep seperti “pragmatisme” dan “pluralisme” sunguh-sungguh penting pada model ini. Tidak seperti model tradisional, model ini tidak menentang perubahan, atau kembali lagi ke era keemasan masa lalu.  Model perubahan liberal tampak seperti sebuah kompromi dari masyarakat yang ingin mempertahankan eksistensinya di tengah-tengah perubahan arus modernitas. Perubahan-perubahan model inilah yang memunculkan profesi-profesi bertujuan ekonomi yang sebelumnya belum pernah ada dalam masyarakat seperti halnya penjual banten. Sikap liberal tersebut juga terutama tampak pada masyarakat pelaku wisata yang berusaha mencari “jalan tengah” dalam menghadapi modernitas dan tuntutan mempertahankan jati diri tradisional. Adanya migrasi masyarakat beragama lain juga ditanggapi oleh mereka dengan mengkedepankan wacana-wacana pluralisme dan multikulturalisme. Model perubahan liberal mengusahakan modernisasi tradisionalitas yang merupakan klausa paradoks namun secara akal sehat umum tampaknya paling dapat diterima. Jalan tengah atau moderasi tentunya bertujuan untuk menghindari konflik, namun pada kenyataanya sikap ini juga memicu konflik di dalam kelompok yang berpandangan sama atau pun dengan kelompok yang berpandangan lain tentang menyikapi perubahan. Banyak pertentangan pandangan yang timbul tentang bagaimana bersikap moderat, mengambil jalan tengah antara resistensi dan eksistensi sehingga menimbulkan polemik yang panjang.

Model ketiga dari dinamika perubahan sosial tersebut model radikal. Menurut perspektif radikal ini masyarakat bergerak melalui kurun sejarah seperti gelombang dengan bentuk-bentuk baru yang muncul dari kontradiksi bentuk lama. Bentuk-bentuk lama hilang, tak satupun nampak lagi. Dengan membandingkan pengalaman empirik pada masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu maka dapat dinyatakan bahwa perubahan sosial terjadi kemajuan pendidikan dan kondisi sosial (Agung, 2001 : 107). Sangatlah sulit untuk menengarai perubahan sosial model radikal dalam masyarakat Hindu di Bali karena kuatnya wacana mempertahankan kebudayaan tradisional yang dianggap mengandung nilai-nilai yang sangat luhur namun sebenarnya hal-hal tersebut tampak dalam manifestasinya sebagai bentuk kebudayaan-kebudayaan fisik baru yang mencakup konsep-konsep baru tentang karya seni Bali yang senantiasa mengalami perubahan yang signifikan dan menimbulkan pengertian-pengertian baru tentang kesenian dan kebudayaan fisik Bali yang nota bene tidak dapat dipisahkan dari agama Hindu.

Adanya fenomena prosiliterasi (perpindahan agama) tampaknya juga adalah merupakan salah satu bentuk dari model perubahan sosial yang radikal dimana pada saat orang Bali tidak lagi menganut agama Hindu maka dia tidak lagi dapat mengakui eksistensinya sebagai orang Bali sehingga yang bersangkutan terlepas dari segala ikatan tradisional dalam masyarakat sosialnya. Pada perkembangannya, perpindahan terjadi bukan hanya dari agama Hindu ke agama lain, namun dapat berbentuk perpindahan cara pelaksanaan peribadatan yang tidak lagi menggunakan cara dari tradisi yang selama ini dianut oleh masyarakat. Dalam wacana pembaharuan agama, segala bentuk tradisi keagamaan lama ditolak dan digantikan dengan bentuk tradisi keagamaan yang baru yang bersumber dari wacana pemurnian pelaksanaan ajaran agama dan bersembunyi dibalik kesesuaian aktualisasi agama dalam kehidupan modern agar agama tidak menjadi sesuatu yang memberatkan umat yang melaksanakannya. Pelaksanaan agama secara tradisional sering dituduh sebagai praktek agama yang rumit dan tidak sesuai dengan ruang dan waktu modernitas karena selalu menuntut kehadiran secara fisik yang dalam istilah Giddens disebut facework commitment sedangkan irama ruang dan waktu modernitas tidak menuntut hal itu dan berbentuk kehadiran virtual melalui kecanggihan sarana teknologi informasi seperti telepon selular maupun internet. Giddens menyebut hal ini dengan termin faceless commitment dimana kehadiran seseorang secara fisik dapat digantikan secara virtual sesuai dengan kesepakatan masyarakat dalam mengakomodasi kemajuan teknologi dalam modernitas.

Perubahan-perubahan radikal ini menjadi suatu kekhawatiran bagi sebagian besar orang terkait dengan identitas dan jati diri orang Bali yang pada akhirnya akan berkaitan dengan keniscayaannya sebagai orang Hindu, namun kekhawatiran-kekhawatiran itu terkadang dapat didekonstruksi  ke dalam motif-motif ekonomi dan kekuasaan dimana kekuatan perekonomian Bali adalah pariwisata budaya yang mengandalkan pada keberadaan praktek-praktek tradisional yang unik sebagai daya tariknya. Sedangkan motif kekuasaan bisa bersumber pada penguasaan kapital di bidang pariwisata dan juga terhadap kemapanan status budaya tradisional yang bersifat feodal sehingga memberikan ciri otoriter yang menjamin status quo lingkaran-lingkaran masyarakat tertentu.

 Penutup

Pada akhir dari tulisan ini, kita hendak kembali kepada judul sebagai acuan untuk menarik kesimpulan. Aktualisasi agama dalam konteks perubahan sosial adalah pada dasarnya merupakan usaha masyarakat Hindu untuk dapat tetap dapat menjalankan keyakinannya dalam ruang modernisasi. Hal ini berasumsi bahwa dalam ruang kepercayaannya, umat Hindu juga terus menyesuaikan dan menggali ajaran-ajaran agamanya agar dapat berjalan sesuai dengan modernisasi melalui tiga cara yaitu mempertahankan tradisionalitas, mencari jalan tengah, atau secara radikal memunculkan konsep-konsep yang baru yang dapat diaktualisasikan sesuai dengan modernitas yang berkembang dalam ruang dan waktunya. Ketiganya memunculkan situasi-situasi yang menggambarkan perubahan dan sekaligus resistensi yang membuat dinamika kehidupan sosial masyarakat Hindu menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut.


 

Daftar Pustaka:

Abdullah,  Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Anom, Anak Agung Istri, dkk. 2005. Fenomena Pesidhikaraan Komunitas Hindu Bali-Lombok di Kota Mataram. Mataram : STAHN Gde Pudja

Giddens, Anthony.2003.Konsekuensi-Konsekuensi Modernitas. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Giddens,  Anthony. 2010. Teori Strukturasi : Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Sedyawati, Edi. 2007.  Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta : PT. Rajawali Grafindo Persada

Read 2557 times