Wednesday, 20 June 2018

ETIKA SAMKHYA

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Friday, 30 January 2015 02:38
Rate this item
(0 votes)

ETIKA SAMKHYA

Oleh:

I Putu Juniadi Permana

 

I.       Pendahuluan

Kata Samkhya berarti “pemantulan”, yaitu pemantulan filsafati. Oleh karena itu aliran ini mengemukakan, bahwa orang dapat merealisasikan kenyataan terakhir dari filsafat ini dengan pengetahuan (Hadiwijoyo, 1985:26). Sistem ini dapat disebut realistis, karena mengakui adanya realitas dunia ini yang bebas pada roh. Di samping itu sistem ini juga dapat disebut dualistis, karena berpendirian bahwa ada dua realitas asasi yang berdiri sendiri-sendiri, yang satu lepas daripada yang lain, tetapi yang saling bertentangan tanpa dapat dipadukan, yaitu purusa dan prakrti atau roh dan benda. Akhirnya sistem ini juga dapat disebut pluralistis, karena mengajarkan bahwa ada purusa atau roh yang banyak sekali.

 Samkhya termasuk salah satu diantara sistem-sistem filsafat India terkuna. Menurut tradisi, pendirinya adalah Rsi Kapila, yang barangkali hidup pada jaman sebelum Buddha. Akan tetapi tulisan tentang Samkhya yang terkuna, yang dapat kita ketahui, barangkali baru ditulis pada abad kelima Masehi, yaitu Samkhya-katika, buah tangan Iswarakrsna (Hadiwijoyo, 1985:35).

Sistem filsafat Samkhya kadangkala dinamakan pula dengan istilah Nir Iswara Samkhya tidak menyebut nama Tuhan. Ajaran pokok dari Samkhya ialah, bahwa ada dua zat asasi yang bersama-sama membentuk realitas dunia ini, yaitu purusa dan prakrti, roh dan benda, atau asas rohani dan asas bendani. Purusa adalah asas bendani yang kekal yang berdiri sendiri serta tidak berubah. Bilangannya besar sekali, tidak terbilang. Masing-masing berdiri sendiri-sendiri. Berbeda dengan Upanisad, Samkhya tidak mengakui adanya satu roh atau satu jiwa yang bersifat universal atau umum, yang kemudian dengan bermacam-macam cara menjadi jiwa perorangan.

 

II.    Etika Samkhya

Dalam etikanya Samkhya tidak membedakan seseorang atas golongannya untuk mempelajari kitab suci Veda. Semua orang dapat mempelajari kitab suci Veda tanpa tanpa terkecuali. Karena pada hakekatnya Veda adalah untuk semua umat manusia. Dalam hubungannya seseorang dengan orang lain, Samkhya menganjurkan agar seseorang dapat mengendalikan pikiran yang jahat dan mengarahkan pada pikiran-pikiran yang baik (Titib, 2003:108). Karena pada pikiran yang baik akan dapat membawa seseorang pada keseimbangan lingkungan dan dirinya sendiri. Kekuatan pikiran itu hendaklah dijaga agar dapat diarahkan kepada hal-hal yang baik.

Kesucian bagi seseorang adalah jika orang tersebut dapat melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan yang berpangkal pada awidya (ketidaktahuan), asmita (kelakuan yang buruk), raga (nafsu serakah), dwesa (kebencian) dan abhinewesa (ketakutan). Semua ini disebabkan oleh asakti yang menguasai manas dan budhi, maka itu hendaknya seseorang memahami akan hal ini agar ia dapat melepaskan dirinya (purusa) dari ikatan prakrti (Titib, 2003:117).

Dalam ajaran Samkhya pribadi itu sesungguhnya tidak ada perasaan adanya pribadi itu merupakan perpaduan dari berbagai faktor yang pada hakekatnya tidak lain dari satu rangkain proses yang tidak pantang berhenti yang disebut badan jasmani. Badan jasmani itu adalah badan yang tidak kekal, oleh karena itu pada proses pengakhirannya ia akan lenyap. Semua yang ada di alam ini tidak ada yang kekal, karena pada saatnya semua akan berakhir. Karena semua itu mempunyai masa kelahirannya, berkembangnya, dan masa pengakhirannya walaupun proses ini berlangsung dalam waktu yang lama.

Samkhya juga mengajarkan pada hakekatnya tidak ada punyaku, semua ini adalah di luar punyaku biarlah ia pergi. Yang dimaksud dalam hal ini adalah badan kita yang terdiri dari Panca Mahabhuta, tidak perlu dirisaukan jika mereka pada saatnya hancur karena jiwa tidak ikut hancur. Unsur Panca Mahabhuta yang ada di dalam diri cara kerja dan keadaannya sama dengan yang ada di luar, karena ia berasal dari sumber yang sama. Apabila seseorang paham akan hal ini, maka lepaslah purusa dari ikatan prakrti dan orang itupun mencapai kelepasan (Sumawa, 1992:17).

Hidup di dunia ini adalah campuran antara senang dan susah. Banyak kesenangan yang dapat dinikmati, banyak pula kesusahan dan sakit yang diderita orang. Bila seseorang dapat menghindar dari kesusahan dan sakit, maka ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari ketuaan dan kematian.

Ada tiga macam sakit dalam hidup ini (dalam Sumawa, 1992:88) yaitu:

1.      Adhiyatmika adalah sakit karena sebab-sebab dari dalam badan sendiri seperti kerja alat-alat tubuh yang normal dan gangguan persaaan. Dengan demikian ia merupakan gangguan jasmani dan rohani seperti sakit kepala, takut, marah dan sebagainya.

2.      Adhidaiwika adalah sakit karena tenaga gaib seperti setan, hantu, dan sejenisnya. Tidak seorangpun yang ingin menderita sakit semuanya ingin hidup bahagia lepas dari susah dan sakit.

3.      Adhibautika adalah sakit yang disebabkan oleh faktor luar tubuh seperti terpukul, kena gigitan nyamuk dan sebagainya.

Kebahagiaan yang diinginkan oleh seseorang di dunia ini adalah sangat sulit karena selalu diikuti oleh susah dan sakit. Selama orang masih berbadan lemah, selama itu pula suka dan duka, sakit dan sehat selalu berdampingan. Dengan demikian kiranya tidak perlu kita selalu bercita-cita hidup bersenang-senang, cukup hidup biasa-biasa saja dengan berusaha melepaskan penderitaan atas dasar pikiran yang sehat. Inilah tujuan terakhir dari hidup kita. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memperingan hidup kita, namun tidak melepaskan kita dari penderitaan sepenuhnya.  Menurut Samkhya (Sumawa, 1992:62) jalan untuk mencapai kelepasan ada tiga yaitu melalui:

 

1.      Pengetahuan yang benar,

2.      Latihan kerohanian yang terus-menerus untuk merealisasikan perbedaanpurusa,

3.      Prakerti dan cinta kasih terhadap semua mahluk (tatwam asi).

Samkhya mengajarkan bahwa cara mencapai kelepasan salah satunya ialah melalui pengetahuan yang benar atas kenyataan di dunia ini. Kelepasan dapat dicapai oleh seseorang bila ia menyadari bahwa purusatidak sama dengan alam pikiran, perasaan dan badan jasmani. Bila seseorang belum menyadari akan hal itu, maka ia tidak akan dapat mencapai kelepasan. Akibatnya ia mengalami kelahiran yang berulang-ulang (samsara/punarbhawa).

Dalam ajaran Samkhya ada tiga sumber pengetahuan yang benar (Tri Pramana), yaitu Pratyaksa (pengamatan langsung), Anumana (didasarkan atas kesimpulan), dan Sabda Pramana (pernyataan), (Titib, 2003:260-261).

1.      Pratyaksa Pramana (pengetahuan melalui pengamatan). Pengetahuan itu dipandang benar bila pengenalan terhadap objek itu pasti dan benar melalui penentuan Buddhi. Sang Diri akan mengetahui sesuatu objek melalui buddhi,manah dan Indrya. Dalam pengetahun yang benar itu terdapat tiga anasir, ialah: subjek, objek dan sumber pengetahuan itu. Subjek adalah asas kesadaran yang tidak lain adalah Roh itu sendiri. Pengetahuan atau pengamatan langsung pada objek dengan perantaraan indrya. Bila ada sebuah objek, misalnya meja pada wilayah pandangan mata, itu berarti ada hubungan antara meja dengan indrya mata, meja itu menghasilkan sesuatu kesan yang kemudian dianalisa oleh pikiran. Melalui kegiatan indrya, manah dan buddhi menjadikan kesan itu sebagai kesan meja. Ada dua macam pengamatan yaitu:

a.       Nirwikalpa. Pengamatan Nirwikalpa adalah pengamatan yang tidak menentukan. Ia timbul sebagai peristiwa pertama pada hubungan antara indrya dengan objek dan mendahului semua analisa mental. Pada tahap yang demikian hanya ada pengenalan objek sebagai sesuatu bukan sebagai benda atau benda itu.

b.      Wikalpa. Pengamatan yang wikalpa adalah pengamatan yang menentukan. Ia merupakan hasil analisa, sintesa dan interpretasi alam pikiran. Ia adalah pengalaman objek yang pasti sebagai benda tertentu yang memiliki kualitas tertentu dengan benda-benda yang lain.

2.      Anumana Pramana. Pengetahuan yang didapat dengan Anumana Pramana adalah pengetahuan yang didapat atas dasar kesimpulan. Dalam hal ini apa yang diamati akan mengantarkan seseorang pada pengetahuan yang tidak diamati langsung melalui hubungan universal, untuk kedua pengetahuan itu yaitu: pengetahuan yang didapat atas dasar pengamatan langsung dan yang tidak langsung. Bila seseorang melihat ada asap maka dapat disimpulkan disana ada api. Seseorang mengetahui adanya api karena adanya hubungan asap dengan api.

3.      Sabda Pramana. Sabda Pramana ialah pernyataan dari yang kuasa dan memberikan pengetahuan terhadap suatu objek yang tidak dapat diketahui atas dasar pengetahuan pengamatan dan penarikan kesimpulan. Suatu pernyataan adalah kalimat yang dibangun dari beberapa kata dalam susunan tertentu. Sebuah kata adalah tanda yang menyatakan sesuatu dan artinya adalah benda yang dinyatakan. Demikianlah sepatah kata adalah simbol dari suatu objek untuk mengartikan suatu kalimat, memerlukan pengertian dari kata yang menyusunnya.Tentang pengetahuan yangdidapat atas dasar Sabda dapat dibagi dua yaitu Laukika =kesaksian yang diberikan oleh orang yang dapat dipercaya; Waidika =kesaksian Veda.

Menurut ajaran Samkhya kenyataan itu adalah roh yang berjumlah banyak dan dunia objek yang hadir padanya. Roh itu adalah asas kesadaran yang bebas dari ruang, waktu dan sebab akibat. Ia mengetahui dunia objek, pikiran, perasaan, dan rasa aku. Semua perubahan, aktivitas, pikiran, perasaan senang dan susah tergolong badan pikiran. Roh itu sendiri adalah berbeda dengan badan pikiran, ia berada di luar kesenangan dan kesusahan. Pikiranlah yang dirasakan susah dan senang itu. Demikian pula tentang hal  yang berhubungan dengan moral adalah tergolong pada rasa aku yang menjadi pekerja dan pelaksana semua tindakan. Roh berbeda dari rasa aku atau pelaksana moral yang berbuat baik atau buruk dan menikmati hasilnya (Hadiwijoyo, 1985:53).

Roh itu menjadi saksi perubahan mental dan badan. Ia kekal abadi, tidak mengalami kematian karena ia tidak dihasilkan oleh suatu sebab dan tidak dapat dihancurkan oleh apapun juga. Namun karena kebodohan ia gagal membedakan dirinya dari pikiran dan memandangnya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Akibatnya ia menjadi sesuatu dengan suatu sebutan seperti pribadi yang sosial, pribadi yang lapar, pribadi yang ingin dan sebagainya. Menurut ajaran Samkhya semuanya ini bukanlah roh.

Menyamakan roh dengan badan pikiran inilah menimbulkan kekalutan hidup dalam hidup ini. Kita menderita sakit dan menikmati suatu kesenangan adalah karena subjek  yang mengalaminya menyamakan dirinya dengan objek yang dialaminya. Sebab penderitaan itu ialah suatu kebodohan yang ketidak mampuan membedakan antara roh dengan yang bukan roh. Kelepasan dari penderitaan akan tercapai bila orang menyadari akan perbedaan dari keduanya itu. Bila orang telah menyadari bahwa roh itu tidak hadir dan tidak mati ia bebas dari penderitaan.

Untuk menginsafi tentang hakekat roh itu memerlukan latihan kerohanian dan renungan kebathinan terus-menerus tentang kebenaran bahwa roh itu bukan badan ini dan bukan badan pikiran. Ajaran yang demikian itu hendaknya selalu dilakukan. Ada dua macam kelepasan yaitu Jiwamukti dan Widehamukti. Jiwamukti ialah kelepasan roh selama ia hidup dalam badan ini, sedangkan widehamukti adalah kelepasan roh dari badan kasar dan badan halus (Sumawa, 1992:62-63). Dari semua ini pada hakekatnya Samkhyamenekankanpadajalanjnanadalamwujudwiweka dankebijaksanaan untuk melepaskanpurusadarijebakan prakerti (tri guna).

 

III.Penutup

Demikian Etika Samkhya sebagai salah satu sistem filsafat India yang menekankanpadajalanjnanadan memerlukan latihan kerohanian tentang kebenaran bahwa roh itu bukan badan ini dan bukan badan pikiran untuk mencapai kelepasan. Tentunya penelitian ke arah yang mendalam terhadap topik tersebut di atas masih terbuka lebar untuk dilaksanakan. Dalam memahami hakekat Samkhya hendaknya kita sebagai manusia jangan selalu terjebak di dalam pikiran kita dan rasa aku.

 

Daftar Pustaka

 

Hadiwijoyo, Harun. 1985. Sari Filsafat India. Jakarta: Gunung Mulia.

 

Sumawa, Wayan, Krisnu, Tjokorda Raka. 1992. Modul Darsana. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimas Hindu dan Buddha dan Universitas Terbuka.

 

 

Titib, I Made. 2003. Veda, Sabda Suci: Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Paramita

 

 

.

Read 3996 times