Wednesday, 24 January 2018

UANG KEPENG (PIS BOLONG) SEBAGAI SARANA UPAKARA

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Friday, 30 January 2015 02:40
Rate this item
(0 votes)

UANG KEPENG (PIS BOLONG) SEBAGAI SARANA UPAKARA

Oleh:

I Putu Juniadi Permana

 

I.       Pendahuluan

Uang kepeng atau pis bolong atau disebut juga jinah bolong adalah nama yang diberikan kepada uang logam yang pernah menjadi alat pembayaran yang sah (uang kartal) dalam perjalanan transaksi pembayaran di Bali. Pis atau pipis adalah kata bahasa Bali yang artinya uang. Kata pis lebih lazim penggunaannya dalam masyarakat Bali sampai sekarang. Bolong adalah kata bahasa Bali yang artinya lubang. Dengan demikian, pis bolong artinya uang yang berlubang. Bentuk uang yang menjadi rekonstruksi ini semuanya berbentuk bulat dengan lubang ditengahnya berbentuk segi empat bujur sangkar atau segi enam sama sisi. Uang kepeng sebagai salah satu jenis peninggalan sejarah khususnya di Bali, pada umumnya mencakup pengertian uang logam yaitu sekeping logam (emas, perak, tembaga dan timah) yang di beri tanda cap penguasa pada permukaannya (Sidemen, 2002:8).

Uang kepeng masih digunakan masyarakat Bali sampai saat ini walaupun uang kepeng tidak lagi sebagai uang kartal namun sebagai sarana upakara dalam acara ritual Agama Hindu. Dalam hal ini uang kepeng berubah fungsi menjadi fungsi budaya, selain fungsinya yang dapat diperdagangkan seperti komoditi dagang lainnya, setiap tahun pada bulan-bulan tertentu seperti bulan Agustus atau September, hampir selalu terjadi transaksi jual beli uang kepeng di pasar-pasar tradisional ibu kota kabupaten dalam jumlah yang besar. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena bulan-bulan itu merupakan bulan terbaik bagi umat Hindu untuk melaksanakan Upacara Yajna, terutama Pitra Yajna.

Pitra Yajna merupakan upacara pemujaan roh leluhur yang peralatan upakaranya banyak sekali harus menggunakan uang kepeng, sehingga hampir setiap tahun terjadi transaksi jual beli uang kepeng dalam jumlah yang sangat besar pada bulan-bulan tersebut di atas. Dalam paparan tentang simbol pemujaan (pratima), telah ditemukan jenis-jenis uang kepeng yang dipercaya memiliki nilai dan kekuatan magis religius. Menebarkan sejumlah uang kepeng sebagai persembahan kepada bumi pertiwi pada upacara sekarura atau membakar uang kepeng sampai terbakar hangus pada Upacara Ngaben atau menenggelamkan uang kepeng ke dalam laut sebagai persembahan pada Upacara Mapekelem dan tidak pernah menghitung kalau yajnanya itu akan menyebabkan berkurangnya harta kekayaan. Jumlah uang yang beredar, sampai sekarang masyarakat Bali masih memperlakukan uang kepeng sebagai sarana upakara.

 

II.    Sejarah Pis Bolong

Sebagian besar sumber-sumber sejarah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan uang pada awalnya adalah uang logam yaitu sekeping logam (emas, perak, tembaga dan timah) yang ditandai dengan gambar dan huruf atau angka dari stempel penguasa di atas permukaanya. Akan tetapi sulit untuk disangkal bahwa uang tidak selamanya muncul atas kreasi Negara atau kerajaan, karena ada juga uang yang lebih dahulu ada sebelum munculnya sebuah Negara. Ada bukti yang memperlihatkan bahwa masyarakat Bali telah memiliki keterampilan mengecor logam untuk membuat benda-benda budaya dan kebutuhan agama. Keterampilan masyarakat Bali dalam pengecoran logam diperkirakan sejaman dengan kebudayaan Dong Son di Vietnam yang berasal dari jaman abad ke-4. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya nekara perunggu besar yang diberi nama neraka Pejeng. Sekarang nekara ini disimpan dan dikeramatkan di Pura Penataran Sasih yang terletak di desa Pejeng kecamatan Tampak Siring Kabupaten Gianyar (Bali). Temuan ini berada di bawah pengawasan suaka purbakala Bali.

Sidemen (2002:10) menyebutkan Uang logam yang dikenal dengan nama uang kepeng atau pis bolong sampai sekarang ini adalah uang logam yang pada permukaan depan dan belakangnya terletak huruf Cina berbahasa Cina. Masyarakat Bali menyebut uang logam ini dengan nama pis biasa atau pis lumrah dan di Lombok disebut dengan pis jamak. Ada juga jenis uang kepeng yang hanya pada permukaan belakang kosong, masyarakat Bali menyebut uang kepeng jenis ini dengan nama pis wadon. Jenis-jenis lainnya yang oleh masyarakat Bali disebut pis lembang dan pis krinyah juga tercetak huruf Cina berbahasa Cina pada kedua permukaannya. Jenis pis koci atau pis jepun hanya tercetak huruf Cina berbahasa Cina pada permukaan depannya saja. Huruf yang tercetak pada permukaan uang kepeng ini memberi petunjuk yang membenarkan bahwa uang kepeng itu adalah uang kepeng logam Cina. Pembenaran identifikasi bahwa uang kepeng adalah uang Cina, selain melalui pengenalan huruf Cina berbahasa Cina yang terletak pada kedua permukaan uang logam juga diperkuat melalui studi perbandingan dengan temuan-temuan uang logam Cina yang telah dikerjakan oleh Saran Singh dan William L.S.Barret.

 

III.Jenis-jenis Pis bolong

Parameter yang digunakan sebagai acuan untuk mengelompokkan uang kepeng menjadi beberapa jenis hanya di dasarkan atas pengenalan identitas yang telah berlaku dalam masyarakat Bali secara tradisi. Parameter ini diperoleh selama penelitian dan juga atas dasar pengalaman sendiri sebagai orang Bali yang pernah menggunakan uang kepeng baik sebagai alat pembayaran yang sah maupun sebagai sarana upakara. Salah satu yang mampu dikenal dengan jelas sebagai uang logam lokal adalah dari ketebalannya sekitar 1 – 1’25 mm dan garis tengahnya 30 – 31 mm. Lubang di tengah hampir selalu berbentuk segi enam sama sisi, dengan tulisan huruf Jawa Kuno atau arah pada permukaan depan (sleh-obverse), sedangkan pada permukaan belakang (trep-reverse) kosong. Orang Bali menyebutkan uang kepeng ini dengan nama pis bolong (Geria, 1997:26).

Sidemen (2002:17-18) menyebutkan Jenis uang kepeng dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1.      Pis Lumrah

Bentuknya bulat dengan garis tengah beragam berkisar antara 2,6 – 2,7 cm, pada bagian tengah terdapat lubang bujur sangkar yang sisinya 0,5 – 0,6 cm. Uang kepeng jenis ini ada yang berwarna kehitam-hitaman, ada yang kebiru-biruan dan ada pula yang menampilkan warna kekunig-kuningan. Bahannya terdiri dari campuran tembaga dengan timah atau lead dan ada juga yang dicampur dengan kuningan. Dalam masyarakat Bali campuran ini dikenal dengan nama kerawang. Pada jamannya digunakan sebagai uang kartal, nilai satuannya disebut keteng dan ketika beredar bersama-sama dengan uang logan Hindia-Belanda, nilai kursnya adalah 1 sen sama dengan lima keteng.

2.      Pis Kerinyah

Bentuknya bulat dengan garis tengah 2,4 cm, pada titik tengah terdapat lubang berbentuk bujur sangkar dengan sisi 0,6 cm. Uang logam ini berwarna kuning cerah karena itu bahannya diperkirakan tercampur dengan logam kuningan.

Pada permukaan depan (sleh) tercetak 4 buah huruf Cina, sedangkan pada permukaan belakang (trep) tercetak 2 huruf. Pada umumnya bagi masyarakat Bali pis kerinyah lebih diutamakan untuk bahan upakara daripada dibelanjakan sebagai uang kartal. Jenis upakara yang diutamakan menggunakan bahan pis kerinyah adalah salah satu yang disebut ukur. Ukur berperan sebagai simbol badan atau jasad yang digunakan dalam upakara Ngaben

3.      Pis Koci

Kata kuci atau koci yang dikenal dalam bahasa Bali, menurut pendapat Van Der Tuuk (dalam Sidemen, 2002:17) berasal dari bahasa cochin China (Vietnam). Kata kuci atau koci diberikan sebagai nama dari jenis uang logam tembaga yang berukuran kecil, tipis, berlubang kecil di tengahnya dan berwarna hitam. Bentuk pis koci, bulat dengan garis tengah 2,0 cm pada titik tengahnya terdapat lubang berbentuk bujur sangkar dengan sisi 0,4 cm. Uang kepeng jenis ini oleh pemiliknya dianggap memiliki kekuatan gaib dan disebut pis jimat.

4.      Pis Lembang

Dalam bahasa Bali ada kata lumbang yang artinya lebar atau luas. Kata lembang tampaknya berasal dari kata lumbang dan digunakan untuk memberi nama kepada jenis uang kepeng ini karena ukurannya paling besar di antara semua jenis uang kepeng. Pis lembang dibuat dari bahan tembaga dengan timah dan campuran kuningan, sehingga warna kekuning-kuningan. Bentuknya bulat dengan garis tengah 2,7 – 2,8 cm. Di tengahnya terdapat lubang kecil bujur sangkar dengan sisi 0,6 cm, pada permukaan depan tercetak 4 buah huruf Cina berbahasa Cina dan permukaan belakang tercetak 2 huruf Cina. Digunakan untuk kepentingan upakara Agama Hindu yaitu Upacara Ngaben. Pada upacara Ngaben ini ada jenis upakara yang dibuat dari uang kepeng yang disebut ukur. Ukur juga disebut praraga adalah simbol dari badan wadah almarhum yang akan diupacarakan. 

5.      Pis Wadhon

Dalam bahasa Bali dikenal kata “wadhu” yang artinya perempuan. Pada permukaan depannya terdapat 4 buah huruf Cina dan pada permukaan belakangnya kosong. Bentuknya bulat dengan garis tengah sekitar 2,5 cm. Pada titik tengahnya terdapat lubang bujur sangkar yang sisinya 0,6 cm. Bahannya terdiri dari tembaga bercampur timah dengan warna kehitam-hitaman. Digunakan sebagai alat judi yang disebut “pinceran” atau “tokekan”.

6.      Pis Rerajahan, Pis Paica, Pis Pretima

Pis rerajahan, pis paica, dan pis pretima termasuk jenis uang kepeng yang sejak awalnya tidak dibelanjakan sebagai uang kartal, karena dianggap memiliki kekuatan magis religius. Menurut William L.S. Barret (dalam Sidemen, 2002:18) uang kepeng ini temasuk unik atau sangat langka sekali karena dalam penelitiannya hanya ditemukan satu biji dari setiap jenisnya. Rerajahan itu diguratkan dengan menggunakan benang. Logam sebesar rambut berwarna kuning keemasan dalam bentuk relief timbul yang pada umumnya menggambarkan tokoh-tokoh wayang, dewa atau bentuk perwujudan lainnya. Dari sejumlah kecil yang berhasil ditemukan, tokoh-tokoh wayang yang digambarkan pada pis rerajahan itu adalah mereka yang berkarakter mulia dan bijaksana dari epos Ramayana, dan Mahabharata seperti Sri Krishna, Arjuna, Bima, Rama, dan Hanuman.

Pis paica adalah jenis uang kepeng yang diperoleh karena melakukan semadi di tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat. Pis paica juga diberi nama oleh pemiliknya sesuai dengan kesan terhadap wajah uang kepeng itu berdasarkan wahyu yang diterimanya atau berdasarkan tempat uang itu didapatkan.

Pis pretima adalah jenis uang kepeng yang dikhususkan sebagai sebagai simbol untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam bentuk-bentuk manifestasinya atau memuja roh nenek moyang di Pura Dadya, Pemerajan atau Sanggah Kemulan. Bentuk pis pretima yang berhasil dijumpai sama seperti pis gobang.

Ketiga jenis uang kepeng tersebut di atas adalah termasuk uang kepeng yang dikhususkan dan karena itu sulit sekali diabadikan wajahnya baik dalam dalam bentuk foto maupun gambar. Kesulitan ini hanya dapat dipecahkan oleh temuan sebuah uang kepeng yang sudah tidak dipuja lagi, yang bentuknya mirip sekali dengan yang dilihat secara kasat mata pada pengamatan penelitian tersebut di atas.

 

IV.Pis Bolong Sebagai Sarana Upakara

Yang dimaksud dengan upakara adalah banten atau bebanten atau saji atau sesajen, yaitu sesuatu yang dipersembahkan kepada roh halus atau bentuk-bentuk lain yang dikuduskan (Wigama, 1996:17). Pengertian upakara atau banten dalam bahasa Bali yang dihubungkan dengan Agama Hindu adalah sesajen yang dipersembahkan kepada Tuhan dan/atau roh leluhur yang telah disucikan atau diperdewakan dan roh halus yang menghuni permukaan bumi beserta segala isinya yang disebut Bhuta Kala. Uraian secara etimologi tentang pengertian upakara bertujuan untuk memperjelas fungsi uang kepeng sebagai sarana upakara dan dapat membedakannya dengan fungsinya sebagai sarana upacara (Wigama, 1996:18). Upacara adalah rangkaian prosesi yang terdiri atas ditampilkannya tanda-tanda kebesaran atau peralatan menurut adat dan agama dalam satu urutan kegiatan, baik dalam kegiatan kenegaraan atau kegiatan piodalan di Pura (Geria, 1997:35). Dalam kegiatan upacara terdapat satu kegiatan yang disebut melasti dan mepeed. Peralatan yang terkait erat dengan banten seperti tedung, lontek, payung pagut cendekan, tumbak, kober, bandrangan, pengangge, payasan (lamak, tamrong, salang, kolem dan ceniga).

Menurut Geria (1997:42) beberapa jenis upakara terdapat tiga benda penting yang perlu mendapat perhatian yaitu uang kepeng (pis bolong), benang tukelan dan basma. Uang kepeng (pis bolong) mencerminkan simbol nilai ekonomi dalam kehidupan. Benang tukelan mencerminkan simbol kebutuhan sandang dalam kehidupan manusia dan Basma simbol kebutuhan pangan sebagai yang paling pokok bagi hidup manusia.

Penempatan uang kepeng (pis bolong) sebagai sarana upakara yang berperan sebagai simbol, sebagai sesari dan ada sebagai sarana upakara.

1.      Sesari

Sesari berasal dari kata dasar sari yang berarti inti. Sesari mencerminkan intisari sebuah persembahan sebagai perwujudan nilai yang termulia yang di persembahkan kepada Tuhan sebagai yajna. Uang kepeng (pis bolong) sebagai sesari yang ditempatkan sebagai sarana upakara merupakan perwujudan nilai yang menjadi intisari sebuah persembahan. Semakin besar jumlah uang kepeng (pis bolong) yang dipersembahkan sebagai sesari maka semakin tinggi nilai kemuliaan yang dipersembahkan itu. Masyarakat Bali masih menganggap bahwa sebagai sarana upakara uang kepeng (pis bolong) lebih suci dari pada uang logam Hindia-Belanda (Sidemen, 2002:35).

Untuk upakara atau banten yang disajikan sebagai persembahan dalam Agama Hindu, penggunaan sesari banyak ditemukan di kewangen, baik sebagai sarana persembahyangan maupun sarana upakara. Kewangen berasal dari kata wangi yang artinya harum. Dalam Wigama (1996:26) disebutkan bahwa Kewangen yang digunakan sebagai sarana sembahyang pada umumnya disisipkan uang kepeng (pis bolong) duang keteng (dua keping) atau aketeng (satu keping) sebagai sesari. Misalnya pada upakara atau banten ngereka yang digelar dan disajikan dalam upakara memandikan mayat atau tulang belulang terdapat kewangen yang disisipkan sesari selae keteng (duapuluh lima keping) yang diletakkan pada hulu hati jenazah. Uang kepeng (pis bolong) juga digunakan dalam berbagai jenis banten seperti sesari pada canang, sesari pada sesayut, sesari pada daksina, sesari panuku, sesari pada gelar sanga, sarin tirtha dan singgel

2.      Praraga

Praraga dari kata dasar raga yang artinya badan. Praraga artinya diwuudkan menjadi badan atau simbol badan dalam bentuk kecil. Praraga dapat dibuat dari kayu cendana, emas, perak, tembaga, dan kuningan. Di antara beberapa jenis praraga yang badan, tangan dan kaki terbuat dari rangkaian uang kepeng. Praraga ini disebut rambut sedana yang terdiri atas sepasang arca yaitu rambut sedana laki-laki dan perempuan. Arca perwujudan rambut sedana dalam sikap ngadeg dibuat dari uang kepeng (pis bolong) lumrah (pis lumrah) masing-masing arca berjumlah 1.500 biji dalam wujud satakan. Proses pembuatan arca perwujudan rambut sedana dalam posisi ngadeg lebih rumit dari pembuatan arca rambut sedana dalam posisi merem. Dalam proses pembuatan arca rambut sedana ngadeg, pis koci itu dirajut dengan benang secara teliti satu dengan yang lainnya sehingga dapat membentuk badan, sepasang tangan dan sepasang kaki (Geria, 1997:44). Kedua jenis arca rambut sedana, baik yang dalam sikap merem maupun ngadeg setelah dilakukan Upacara Pamelaspas akan dikuduskan dengan nilai religius yang sama sebagai arca pemujaan.

Satu contoh jenis praraga yang lain adalah yang disebut ukur yang digunakan dalam upacara ngaben. Praraga yang disebut ukur seluruhnya terbuat dari uang kepeng (pis bolong) yang dirajut dengan benang yang dikaitkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya dengan benang sehingga membentuk bagan badan manusia secara lengkap. Bentuknya pipih mengikuti bentuk uang kepeng (pis bolong) dan tidak tiga dimensi seperti pada praraga yang disebut rambut sedana. Jumlah uang kepeng (pis bolong) yang digunakan untuk membuat ukur tidak dibatasi (Sidemen, 2002:40). Dengan kenyataan ini maka ukur yang terbuat dari uang kepeng (pis bolong), sulit di hapuskan karena merupakan persyaratan dalam upakara upacara ngaben dan tidak dapat diganti dengan benda atau uang logam jenis lainnya. Peranan dan fungsi uang kepeng (pis bolong) dalam praraga yang disebut puspa sarira terletak dalam sok nama yang diletakkan pada bagian dalam perut kerucut.

 

V.    Penutup

Demikian Uang Kepeng (pis bolong) sebagai sarana upakara, di mana keberadaannya sangat penting dalam kegiatan ritual keagamaan. Oleh karena budaya Bali telah menyatu dan bersemayam dengan Agama Hindu dan Agama Hindu adalah jiwa yang memberi kehidupan kepada budaya Bali maka semua yang terkait dengan Agama Hindu baik yang bersifat keimanan maupun ritual pemujaan perlu mendapat perhatian dan pembinaan secara terpadu dan multiguna di dalamnya terdapat desa adat, subak, Pura dan berbagai unsur budaya Bali lainnya yang perlu mendapat tindakan pembinaan dan pelestarian yang simultan. Tentunya penelitian ke arah yang mendalam terhadap topik tersebut di atas masih terbuka lebar untuk dilaksanakan.

Dewasa ini uang kepeng (pis bolong) harus mendapatkan penangan utuh dalam pelestariannya. Pelestarian uang kepeng (pis bolong) dalam nilai budaya bali yang telah dilakukan secara spontan oleh masyarakat dengan mencetak uang kepeng (pis bolong) tiruan, merupakan salah satu cara positif dalam usaha pelestarian budaya Bali. Bagaimanapun pentingnya peranan uang kepeng (pis bolong) dalam budaya dan Agama Hindu khususnya Hindu Bali, namun sebagai sebuah komponen budaya yang tidak terpisahkan dari budaya Bali, tetap harus mendapat perhatian, pembinaan dan pelestarian sampai ke masa depan yang tidak terbatas.

 

Daftar Pustaka

 

Geria, I Wayan. 1997. Pendekatan Partisipasi Masyarakat Untuk Menunjang Program Pelestarian Warisan Budaya. Dalam Majalah Dokumentasi Budaya.

 

Pudja, G. 1997. Bhagawad Gita. Jakarta: Mayasari.

 

Sidemen, Ida Bagus. 2002. Nilai Historis Uang Kepeng, Larasan-Sejarah. Denpasar.

 

Titib, I Made. 1996. Veda Sabda Suci: Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Paramitha.

 

Wigama, Made. 1996. Agama Hindu. Bandung: Ganeca Exact.

 

 

Read 5300 times