Wednesday, 20 June 2018

Peran Komunikasi Antar Budaya Dalam Tradisi Perang Topat Di Pura Lingsar

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Friday, 30 January 2015 02:41
Rate this item
(0 votes)

Peran Komunikasi Antar Budaya Dalam Tradisi Perang Topat Di Pura Lingsar

Oleh : Gede Mahardika

Abstrak

Tidak ada budaya di muka bumi ini tanpa adanya komunikasi di antaraanggota masyarakat pendukung atau pembentuk kebudayaan. Demikian juga tidak ada komunikasi yang lepas dari ikatan atau interaksi sosial antar anggota masyarakat pendukung suatu budaya setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran komunikasi antarbudaya dalam Tradisi Upacara Perang Topat di Pura Lingsar Lombok Barat. Sedangkan manfaat penelitian ini diharapkan  dapat memberikan kontribusi sebagai sumber informasi secara akademis terhadap  ilmu pengetahuan khususnya ilmu komunikasi, sosial, budaya dan  agama yang berkenaan dengan komunikasi antar buadaya,  dan sebagai inspirasi bagi peneliti lain dalam mengkaji dan mengembangkan aspek-aspek komunikasi.

Rancangan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dalam penelitian peran komunikasi antarbudaya dalam Tradisi Upacara Perang Topat di Pura Lingsar, menggunakan strategi studi kasus deskriptif analitis sebagai suatu strategi untuk menggali data yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa, tindakan dan makna yang menyertai tindakan tersebut. Secara umum, diskripsi yang disajikan berdasarkan data kualitatif yang diperoleh dalam peran komunikasi antar budaya dalam Tradisi Upacara Perang Topat. Peran Komunikasi antar budaya yang dapat disajikan merupakan Jembatan Hubungan antara Etnis Bali yang Beragama Hindu dan Sasak yang Beragama Islam, Sebagai Fungsi Keharmonisan Berdasarkan Konsep Tri Hita Karana, Sebagai Fungsi Menetralisir Gangguan Hama dan Kesuburan bagi Masyarakat Agraris, Sebagai Fungsi Edukatif, Sebagai Fungsi Pelestarian Budaya.

 

Kata Kunci : Komunikasi, Antar Budaya, Tradisi, Perang Topat

 

 

PENDAHULUAN

a.    Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah bangsa yang multi kultural yang terdiri dari berbagai multi etnis, multi budaya, agama, ras dan multi golongan, masing-masing perbedaan tersebut memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Perbedaan inilah yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia, dengan kekayaan yang dimiliki diharapkan akan tercipta suatu hubungan yang harmonis diantara masyarakat Indonesia menuju kesejahteraan lahir dan batin. Dalam Nasionalisme bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki rasa kebersamaan yang tebal serta integrasi yang tinggi  sehingga dapat mempersatukan bebagai suku bangsa dengan berbagai pulau yang tersebar di seluruh Nusantara.

Berbagai peristiwa yang terjadi akibat konflik  kepentingan etnis di Nusantara akhir-akhir ini seolah-olah menjadi trend dunia. Penyebab utama konflik adalah komunikasi antarbudaya yang tersumbat. Konflik adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bersama, oleh karena itu yang perlu dilakukan adalah bagaimana konflik itu dikendalikan dan diselesaikan melalui komunikasi secara damai dan bijaksana. Komunikasi memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ini sebagai sarana utama dalam mengemban dan mengisi kehidupan dimuka bumi ini. Keberadaan manusia sebagai mahluk individu, mahluk sosial dan mahluk yang ber Tuhan, didalam memenuhi kebutuhannya semenjak ia menempati alam semesta memerlukan hubungan kerjasama dengan sesamanya yang berkaitan dengan penyampaian isi pikiran, penyampaian ide, gagasan, menyampaian informasi, itulah pada hakekatnya yang disebut dengan komunikasi dan pada hakekatnya kehidupan manusia diliputi oleh komunikasi.

Antara komunikasi dan budaya berhubungan sangat erat. Tidak ada budaya di muka bumi ini tanpa adanya komunikasi di antaraanggota masyarakat pendukung atau pembentuk kebudayaan. Demikian juga tidak ada komunikasi yang lepas dari ikatan atau interaksi sosial antar anggota masyarakat pendukung suatu budaya. Di dalam kehidupan agama dan atau spiritual, komunikasi bisa terjadi secara internal antara penyembah dengan yang disembah. Komunikasi berperan menyatukan, juga bisa memecah belah umat manusia tergantung dari ide atau pesan yang melandasi tindakan komunikasi. Perang topat atau perang ketupat merupakan salah satu tradisi warisan leluhur Suku Sasak (nama suku di pulau Lombok) dan Suku Bali. Warisan budaya ini telah ada sejak dahulu kala, dan hingga kini masih terpelihara dengan baik. Tradisi Upacara Perang Topat adalah ritual budaya yang sangat unik yang dilaksanakan oleh dua etnis dan agama yang berbeda yaitu etnis Sasak beragama Islam dan etnis Bali yang beragama Hindu, dalam pelaksanaan tradisi ini terdapat interaksi budaya  Sasak dan budaya Bali yang merupakan wujud kebersamaan dan keharmonisan umat Islam dan Hindu di Pulau Lombok NTB.

Namun tidak menutup kemungkinan adanya potensi konflik antar kedua etnis tersebut, dikatakana demikian karnamenyamakan persepsi antara dua orang yang berbeda, atau kelompok yang berbeda latar belakang budaya bukanlah hal mudah. Pelaksanaan suatu tradisi secara bersamaan oleh kelompok masyarakat yang berbeda etnis dan agama biasanya sulit terjadi tanpa adanya komunikasi yang baik antar kedua kelompok tersebut. Kita tidak bisa menganggap sepele komunikasi antarbudaya karena konflik bisa terjadi hanya karena dua pihak kurang berkomunikasi. Kegagalan berkomunikasi karena dua pihak tidak dapat menyampaikan pikiran, perasaan, dan tindakan sehingga membuka jurang perbedaan informasi di antara mereka, dan hal semacam ini dapat mengakibatkan terjadinya konflik.

Tradisi Upacara Perang Topat  memiliki esensi, yakni mewujudkan persatuan dengan adanya hubungan antar dua budaya yang menyebabkan terjadinya rasa persaudaraan antara umat Muslim dengan Hindu. Tradisi Upacara Perang Topat tampaknya bisa menjadi contoh nyata dalam mengembangkan hidup berdampingan di masyarakat yang sangat pluralistik seperti halnya Indonesia ini. Tradisi Upacara Perang Topat ini  juga merupakan pencerminan rasa syukur kepada Tuhan Sang Pencipta yang telah memberikan kemakmuran. Upacara Perang Topat merupakan wujud hubungan dengan Tuhan dan hubungan antarmanusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam Tradisi Upacara Perang Topat  ini terdapat dua model komunikasi yakni  komunikasi horizontal (sakala) dan komunikasi vertikal (niskala). Komunikasi vertikal yang dimaksud disini adalah proses pemaknaan pesan sebuah sekelompok masyarakat terhadap aktifitas religi dan sistem kepercayaan yang dianutnya. Melihat uniknya Tradisi UpacaraPerang Topat yang dilaksanakan di komplek Pura Lingsar dengan keyakinan yang berbeda, oleh dua etnis yang berbeda pula, tetapi menjadi satu dalam tujuan. Penelitian ini menjadi sangat menarik karena mencoba mencari  peran hubungan dari komunikasi yang dikembangkan oleh SukuSasak dan Bali dalam menciptakan kerukunan hidup antar umat beragama melaui Tradisi Upacara Perang Topat.

b.    Rumusan  Masalah

Perumusan pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana peran komunikasi antarbudayadalam Tradisi UpacaraPerang Topat?

 

PEMBAHASAN

Peran Komunikasi Antar Budaya Dalam Tradisi Upacara Perang Topat

a.    Sebagai Jembatan Mempersatukan Antara Etnis

Manusia sebagai makhluk berfikir dan kecenderungannya dalam mencari kebenaran adalah hal yang mesti terpenuhi. Tidak saja berfikir tentang hal-hal yang konkrit di lingkungannya, tetapi juga mampu berfikir tentang hal-hal yang abstrak, sehingga manusia dapat mengembangkan diri dan lingkungannya dengan membuat rencana kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Dengan fikirannya, manusia selalu berkreasi dan mencipta sesuatu yang baru, dan kemudian mengembangkan pengalamannya menjadi sebuah kebudayaan dan mentransformasikannya kepada generasi selanjutnya.Manusia sebagai mahluk sosial tidak bisa dilepaskan dari hubungan atau menjalin komunikasi dengan sesamannya. Komunikasi yang epektif dalam masyarakat akan melahikan  hubungan yang harmonis sehingga menimbulkan sikap toleransi. Toleransi merupakan sikap memberi kebebasan kepada orang lain untuk melaksanakan kepercayaannya masing-masing,  dengan demikian akan timbul sikap saling menghargai dan menghormati diantara umat beragama. Dalam agama telah menggariskan dua pola dasar hubungan yang harus dilaksanakan oleh  pemeluknya, yaitu : hubungan secara vertikal dan hubungan secara Horizontal. Yang pertama  dalah hubungan antara pribadi dengan Tuhannya  yang diaplikasikan dalam bentuk ibadat sesuai dengan kepercayaan dan agama yang dianutnya. Pada hubungan ini berlaku toleransi agama yang hanya terbatas dalam lingkungan atau intern suatu agama saja. Hubungan yang kedua adalah hubungan antara manusia dengan sesamanya. Pada hubungan ini tidak terbatas pada lingkungan suatu agama saja, tetapi juga berlaku kepada semua orang yang tidak seagama.

Toleransi menjadi sangat penting karena dalam hubungan bermasyarakat, etika bersosialisasi sangat menentukan seseorang dapat diterima atau tidak. Tidak mungkin suatu daerah hanya akan dihuni oleh sekelompok masyarakat dengan satu agama dan kepercayaan tertentu. Dengan adanya sikap toleransi ini masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang bertolak belakang pun akan mampu saling menghargai dan hidup berdampingan dengan damai. Hal  ini dapat dilihat dalam pelaksanaan Upacara Perang Tupat yang dilaksanakan di Pura Lingsar pada saat Pujawali. Upacara Perang Topat merupakan upacara perang-perangan yang memakai ketupat sebagai medianya. Ketupat merupakan simbul dari kesuburan, karena di buat dari beras yang di bikin pola memakai janur kemudian dimasak sampai matang. Sehingga ketika di pakai perang tidak akan menyebabkan sakit, malahan akan mendapatkan berkah bagi yang melaksanakanya. Keyakinan ilnilah yang menjembatani hubungan antara kedua etnis yaitu etnis Bali dan Sasak, yang sampai sekarang rukun dan damai. Sehingga dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama.

Disisi lain dalam wawancara yang dilaksanakan dengan Mangku Parman selaku Pemangku Sasak di Kemaliq pada Minggu, 12 Desember 2013 mengatakan sbb :

Sak dateng kadu, upacara Perang Topat ndek dengan Lingsar doang, araq lengan daye, araq dengan Tengak, araq pade lengan timuk, selapuq pade dateng nunas keselamatan, nunas kemakmuran. Selapuqne pade ngumpul sambilan bereraosan. Pade girang tumben pade bedait, selapunge nike semeton titiang.

(yang datang untuk melaksanakan upcara Perang Topat tidak hanya orang Lingsar tetapi mereka datang dari jauh seperti Lombok Utara,Lombok Tengah, ada yang datang dari Lombok Timur, semuanya datang untuk memohon kemakmuran, semuanya berkumpul sembari bercerita, mereka semua bergembira karena jarang mereka dapat bertemu, mereka semua adalah sudara saya) 

            Berdasarkan pernyataan dari hasil wawancara menunjukan, dengan melaksanakan Upacara Perang Topat, mereka tidak hanya memohon keselamatan dan kemakmuran. Bagi masyarakat Lombok, mereka juga dapat bertemu berkomunikasi satu sama lain, merupakan suatu kesempatan yang jarang diperoleh. Untuk itu kesempatan tersebut dipergunakan untuk saling bercerita/berkomunikasi satu sama lain. Hal yang menarik dari peryataan diatas adalah mereka semuanya bersaudara, mereka merupakan suatu keluarga walaupun tidak dalam satu darah.Dari penomena diatas menunjukan orang-orang yang memiliki perasaan yang sama dan kepentingan yang sama maka akan mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain atau dengan banyak orang sehingga mereka menyebutnya dengan kami atau kelompok kami. Sehingga terjalin komunikasi antara orang dengan orang antara orang dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok. Dengan demikian, dengan adanya perasaan yang sama, tujuan yang sama, kepentingan yang sama, sehingga menyebabkan terjalinya komunikasi yang baik dan hubungan di antara masyarakat, baik masyarakat Bali dan Sasak, ini berarti upacara Perang Topat memiliki fungsi sebagai meningkatkan solidaritas dan keharmonisan dalam beragama.

b.    Fungsi Keharmonisan Berdasarkan Konsep Tri Hita Karana

 

            Keharmonisan yang berpegang kepada prinsip masing-masing agama menjadikan setiap golongan umat beragama sebagai golongan terbuka, sehingga memungkinkan dan memudahkan untuk saling berhubungan. Bila anggota dari suatu golongan umat beragama telah berhubungan baik dengan anggota dari golongan agama-agama lain, akan terbuka kemungkinan untuk mengembangkan hubungan berbagai bentuk kerja sama dalam bermasyarakat dan bernegara. Ini di buktikan dengan hubungan yang terjalin selama ini oleh masyarakat Bali dan Sasak dalam melaksanakan Upacara Perang Topat di Pura Lingsar. Hubungan masyarakat Bali dan Sasak sudah sejalin sejak lama dari masa karajaan Anak Agung Gede Karang Asem. Walaupun manusia terdiri dari banyak golongan agama, namun sistem sosial yang berdasarkan kepada kepercayaan bahwa pada hakekatnya manusia adalah kesatuan yang tunggal. Perbedaan golongan sebagai pendorong untuk saling mengenal, saling memahami dan saling berhubungan. Ini akan mengantarkan setiap golongan itu kepada kesatuan dan kesamaan pandangan dalam membangun dunia yang diamanatkan Tuhan kepadanya. Dalam istilah lain, banyak agama, satu Tuhan.

             Terciptanya kerukunan antar beragama dalam kegiatan keagamaan dilatarbelakangi oleh adanya komunikasi budaya efektif selama ini dan kesamaan idiologi yang berlaku pada waktu relatif sama. Upacara Perang Topatyang dilaksanakan oleh masyarakat Bali Hindu dengan masyarakat Sasak Islama senantiasa akan menciptakan komunikasi yang kondusif dan kebersamaan antar masyarakat dan antara agama di Pura Lingsar. Terjadinya keharmonisan antara masyarakat Bali dan masyarakat Sasak khususnya pada saat upacara Uacara Perang Topat sehingga sangat sulit untuk membedakan mana masyarakat Bali dan mana masyarakat Sasak. Kecuali dilihat dari Destar/Udeng yangdi pakainya, tetapi kalo pakaian biasa sangat sulit untuk membedakannya. Karena masing-masing melakukan kegiatan ritual sesuai dengan keyakinan agama dan tradisinya tidak pernah mempermasalahkan antara satu dengan yang lainya, inilah merupakan kebinekaan dalam berbangsa dan bernegara. Ini merupakan salah satu bentuk komunikasi antar budaya yang terjalin selama ini antara masyarakat Bali dan Sasak (Mangku Parman, wawancara, 1 Desember 2013).

            Keinginan untuk suksesnya proses UpacaraPerang Topat di Pura Lingsar tersebut menuntut kerjasama dan komunikasi yang terjalin selama ini diantara masyarakat Bali dan masyarakat Sasak secara terpadu. Dengan demikian secara tidak langsung segenap anggota masyarakat Bali dan Sasak yang terlibat dalam pelaksanaan Upacara Perang Topat telah menerapkan pola komunikasi dan pola manajement terpadu dalam melaksanakan ritual. Bentuk komunikasi dan manajemen tersebutlah yang sesungguhnya mampu menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas diantara anggota masyarakat Bali dan Sasak yang ada di Lingsar.  Seperti halnya dalam mempersiapkan Upacara Perang Topat sebelum acara di mulai umat Hindu Bali dan Sasak Muslim mengadakan koordinasi mengadakan rapat tentang pembentukan kepengurusan dalam kepanitian Pujawali, kemudian membahas anggaran biaya yang diperlukan seperti halnya anggaran upakara seperti Banten yang digunakan baik oleh masyarakat Bali maupun masyarakat Sasak dan menyusun pelaksanaan acara secara teknis mulai dari H-3, H-2 dan H-1. Ini merupakan bentuk komunikasi yang terjalin selama ini, sehingga kerukunan antar umat beragama bisa terjalin selama ini, untuk mempersatukan dua budaya yang berbeda tetapi memiliki satu tujuan yaitu sama-sama menyukseskan Upacara Perang Topat. Dalam perspektif Hindu tentang konsep harmonissasi terkemas ke dalam ajaran Tri Hita Karana, yakni tiga hubungan yang menimbulkan keharmonisan. Ketiga hubungan tersebut yaitu Parhyangan, Pawongan dan Palemahan.Parhyangan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sanghyang Widhi, Pawongan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesamanya. Palemahan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan sekitarnya termasuk alam.Konsepsi Parhyangan terimplementasi dalam Upacara Perang Topat yang dilaksanakan oleh masyarakat Bali yang beragama Hindu dan masyarakat Sasak yang beragama Islam. Upacara Perang Topat ini diselenggarakan merupakan usaha masyarakat Bali dan Sasak yang berada di Lombok untuk menjalin komunikasi yang selaras antara manusia dengan Tuhannya.

Wiana (2007 ; 127) bahwa aspek Pawongan dari ajaran Tri Hita Karana menegaskan untuk mengajarkan persatuan antara sesama manusia yang dinyatakan dalam ajarana Weda bahwa keharmonisan persatuan dengan sesama manusia tidak begitu saja dapat dicapai dengan mudah. Sebagai mana diajarkan dalam mantra Rgveda X.191 yang kalau disimpulkan bahwa kehidupan bersama yang humanis dan dinamis hanya dapat diwujudkan kalau masing-masing individu dalam kehidupan bersama itu tidak menata diri untuk menjadikan diri sebagai manusia yang ideal struktural.Palemahan sebagai wujud penghormatan masyarakat terhadap lingkungan menjadi inspirasi untuk tidak merusak dan merugikan lingkungan. Upacara Perang Topat justru merupakan usaha bagi masyarakat Bali dan Sasak yang ada diLombok untuk selaras dan serasi dengan lingkungan. Mereka meyakini bahwa setiap wilayah dikuasai oleh manifestasi Tuhan (Sanghyang Widhi), sehingga keinginan besar mereka untuk menghormati lingkungan dan harapan untuk memperoleh kesejahteraan yang diwujudnyatakan dalam UpacaraPerang Topat.

Bagi kedua belah pihak, baik dari masyarakat Sasak yang menganut Islam maupun masyarakat Bali Lombok yang beragama Hindu, berdampingan melaksanakan suatu upacara bukan merupakan hal yang terlarang. Melainkan jika dilakukan bersama akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Dalam Upacara Perang Topat yang utama dari pada pelaksanaanya adalah tujuan dari pada dilaksanakan upacara tersebut. Untuk dapat hidup berdampingan secara damai diperlukan sikap saling menghormati dan toleransi antara sesama umat manusia tanpa memandang suku, agama dan kebudayaan.

c.    Fungsi Menetralisir Gangguan Hama dan Kesuburan bagi Masyarakat Agraris

            Kehidupan manusia tidak lepas dari bumi, lingkungan alam ekosistem. Karena bumi merupakan panggung tempat manusia melakukan aneka kegiatan, tetapi juga karena bumi berfungsi sebagai sumber nafkah bagi manusia, manusia membudidayakan semua tanaman atau ternak yang berfungsi sebagai pengupajiwa yang tidak habis-habisnya. Karena itu masyarakat Bali sering menggambarkan di dalam bumi ini terdapat Naga Antaboga sebagai simbolik dari kemurahan bumi yang mencukupi kebutuhan manusia akan boga yang tidak habis-habinya. Parson (1994 : 10) mengatakan dalam teorifungsional struktural, masyrakat mempunyai kelembagaan yang saling terkait dan tergantung satu sama lain. Untuk hal ini, menggunakan konsep "sistem" untuk menggarbarkan koordinasi harmonis. Konsep keseimbangan dinamis stasioner, jika satu bagian tubuh manusia berubah, maka bagian lain akan mengikutinya. Ini dimaksudkan untuk mengurangi ketegangan itern dan mencapai keseimbangan baru. Demikian pula halnya masyarakat. Masyarakat selalu mengalami perubahan, tetapi teratur. Perubahan sosial yang terjadi pada satu lembaga akan berakibat perubahan di lembaga lain untuk mencapai keseimbangan baru. Dengan demikian, masyarakat bukan sesuatu yang statis, tetapi dinamis, sekalipun perubahan itu amat teratur dan selalu menuju pada keseimbangan baru.Alam semesta adalah satu kesatuan yang dapat menghidupkan segala ciptaan Tuhan. Anggapan seperti ini akan berarti bahwa disamping diri manusia sebagai "pribadi" maka akan menerima alam semesta sebagai "yang di pribadikan" pandangan subjektif terhadap alam, menyebabkan antara manusia dengan alam kualitas hubungan adalah horizontal. Ini maksudnya antara manusia dengan alam terjadi hubungan secara timbal balik (interdependensi). Alam tak akan dapat memproses  dengan baik tanpa bantuan manusia, demikian juga sebaliknya manusia tak dapat hidup tanpa alam. Manusia dapat dihancurkan oleh alam, namun begitu juga alam dapat dihancurkan oleh manusia. Oleh karena itu perlu disadari bahwa bagaimanapun juga manusia sebagai alam terkecil adalah salah satu unsur dari alam yang lebih besar dan meripakan ekosistem, maka manusia harus menyesuaikan diri terhadap alam besar.

            Alam yang serasi untuk tempat manusia bermasyarakat, bermukim yang memerlukan beberapa persyaratan untuk dapat mendukung budaya. Oleh karena itu, unsur tata alam perlu sekali dirumuskan tata laksana pengendaliannya, agar pemanfaatannya jangan sampai mengganggu atau bahkan merusak keseimbangnnya. Perlu di perhatikan agar kelangsungan hidup tata alam terjamin sekaligus ikut memelihara dan melindungi keseimbangan masa depan kehidupan manusia. Sesuai dengan teori fungsional struktural Parsons, menganggap bahwa bahwa masyarakat selalu berada pada situasi harmoni, walaupun pada awalnya terjadi perselisihan kepentingan pada suatu ketika perbedaan itu akan berkhir dengan persetujuan damai. Keseimbangan atau pemulihan keseimbangan setelah terjadi selisih pendapat maka masyarakat akan mengarah kepada keseimbangan. Dalam Upacara Perang Topat yang dilaksanakan di Pura Lingsar, salah satu fungsinya adalah untuk kesuburan dan sebagai menetralisir gangguan hama bagi masyarakat agraris. Berdasarkan hasil wawncara dengan Bapak Kamarudin pada tanggal, 17 Desember 2013 mengatakan sebagai berikut

" saya setiap tahun ikut upacara Pujawali Perang Topat, untuk saat ini saya hanya mendapatkan dua buah ketupat, nanti saya akan taruh di penamak padi (tempat air sawah pertama masuk) gunanya biar sawah subur dan  tidak diganggu oleh hama padi, kalo yang tidak punya sawah, digantung pada pohon-pohon buah-buahan dengan tujuan buahnya supaya banyak. Saya masyarakat lingsar pekerjaan saya sehari-hari seorang petani penggarap sawah"

 

            Apa yang dikatakan di atas bahwasanya Upacara Perang Topat merupakan upacara yang membawa kesuburan bagi para petani. Kalau kita lihat dari media yang digunakan dalam Upacara Perang Topat yaitu menggunakan ketopat sebagai mediannya, ketupat merupakan lambang kesuburan yang terbuat dari beras yang di rebus dengan memakai daun kelapa muda sebagai polanya.

Hal yang senada disampaiakan juga oleh Bapak  Juwandi wawancara pada tanggal, 17 Desember 2013 adalah sebagai berikut :

" saya sudah beberapa hari kesini, saya hanya dapat satu ketupat hari ini, ketupat ini saya bawa pulang saya akan taruh di penamak sawah biar padinya subur. Padinya setelah dikasi ini subur sekali, saya petani dari batu kumbung.

 

Apa yang disampaikan diatas menunjukan bahwa keyakinan masyarakat setempat terhadap Upacara Perang Topat berfungsi sebagai kesuburan bagi masyarakat agraris sehingga pada saat upacara perang tupat masyarakat petani yang datang dari khusunya masyarakat Sasak dan Bali dari segala penjuru Lombok seperti : Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Utara dengan harapan mendapatkan ketupat untuk di bawa pulang. Kalau kita lihat dari letak Pura Lingsar, Pura lingsar identik dengan sumber mata air yang ada di Lingsar, sehingga sawah-sawah yang ada di sekitarnya termasuk di Kota Mataram bersumber dari Pura Lingsar.

d.    Fungsi Edukatif

            Kebudayaan berkembang dari waktu ke waktu bersifat historis. Para individu dalam komunitas, sejak kecil telah diresapi dengan nilai-nilai kebudayaan hidup dalam masyarakatnya sehingga berurat berakar pada jiwanya (Koentjaraningrat, 2000 : 26). Kebudayaan diteruskan serta diwariskan dari gererasi satu ke generasi yang lain melalui proses belajar (Maran, 2009 : 49). Fungsi pendidikan sebagai salah satu fungsi seni yang juga menjangkau beberapa hal seperti keterampilan, kreativitas emosionalitas, dan sessialitas (The Liang Gie, 1996 :48).

            Pendidikan mestinya merupakan proses perkembangan kepribadian manusia secara menyeluruh, dengan kata laian mekarnya nilai kemanusiaan yang luhur menuju kesempurnaan dan terwujudlah nilai-nilai yang baik. Pendidikan itu mengajarkan manusia bahasa dan pengetahuan tetapi tidak ada pelajaran tentang bagaimana kita hidup tenang, bahagia atau dalam kedamaian diantara kita sendidri maupun dengan orang lain. Pendidikan haruslah mengembangkan karakter kearah yang lebih baik.

            Upacara yang diselenggarakan oleh masyarakat Hindu merupakan salah satu proses sistem pembelajaran yang alami non formal guna memberikan nilai tambahan bagi generasi penerus di daerah itu. Dalam hal ini fungsi pendidikan dalam upacara itu sangat juga menonjol, seperti halnya pembuatan sarana upacara yang jarang di praktekan sehari-hari disana dalam masyarakat saling isi-mengisi, tentunya etika, peraturan/tuntunan dari para pemangku, Pandita dalam hal pembuatan upacara yang sesuai dengan petunjuk sastra. Membuat upakara/banten yang digunakan yang begitu rumitnya bagi masyarakat awam dengan adanya upacara, maka sastra agama atau tradisi yang sudah ada tidak bisa diabaikan. Seperti halnya dalam pembuatan Kebun Odeq oleh masyarakat Sasak semuanya melalui pembelajaran turun-temurun yang diwariskan ke generasi berikutnnya. Sehingga ada konsep pendidikan yang diwariskan dari generasi terdahulunya, karena apa yang mereka pelajari dari leluhurnya mengandung nilai-nilai yang sangat tinggi.

            Masyarakat Bali khususnya yang berada di Lingsar memandang sastra sebagai pelita seluruh untuk menerangi kehidupan maya ini. Sebagaimana dinyatakan dalam tutur suksma, bahwa orang yang tidak mengenal sastra atau aksara (Lacur tan pasastra), ibarat orang tersebut yatim piatu, miskin, sakit-sakitan, oleh karena itu sangatlah menderita (sangkan bayu) tingkah lakunya sering melanggar aturan (lampahnyane sring mamurug). Walaupn matanya melek tetapi tidak melihat apa-apa (kedatnyane tan pawasan) karena orang itu tidak pernah mendapat penerangan sastra agama (kirang suluh ring tutur aji). Demikian keberadaan orang yang tidak mengenal sastra/aksara (Mendera, 2000 : 25).

Sebagai manusia, mereka tidak saja memiliki keahlian, kepanditaan atau menguasai ilmu dan teknologi, tetapi juga susila atau dalam agama Hindu disebut sattwam. Berkenaan dengan itu maka hendaknya penanaman nilai-nilai agama menjadi amat penting. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari adanya kenyataan bahwa landasan pokok-pokok pembelajaran menjadi penting bagi sebagian besar nilai-nilai keagamaan. Karena itulah, pelajaran yang paling pentig bagi generasi muda dalam rangka memerangi sifat-sifat tidak bersahabat (keraksasaan) yang melekat pada diri manusia adalah melalui penerapan pendidikan agama dan budaya setempat. Melaui Upacara Perang Topat ini dapat menggali nilai-nilai budaya dan agama yang luhur, sebagai pendidikan generasi muda untuk menghargai peninggalan-peninggalan leluhur kita.

e.     Fungsi Pelestarian Budaya

Sistem nilai budaya yang diartikan pula adat-istiadat mencangkup sistem nilai, norma dan hukum berfungsi untuk mengatur dan mengendalikan prilaku manusia. Oleh karena itu di dalam perubahan masyarakat nilai budaya sebagai sarana pengendali sosial di harapkan mampu berperan secara aktif agar terwujud keterlibatan dalam masyarakat (Sirtha, 2002 : 133). Nilai budaya dari masa lalu (intangible heritage) inilah yang berasal dari budaya-budaya lokal yang ada di Nusantara, meliputi: tradisi, cerita rakyat dan legenda, bahasa ibu sejarah lisan, kreativitas (tari, lagu, drama pertunjukan), kemampuan beradaptasi dan keunikan masyarakat setempat (Galla, 2001: 12)

Beragam wujud warisan budaya lokal memberi kita kesempatan untuk mempelajari kearifan lokal dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi di masa lalu. Masalahnya kearifan local tersebut seringkali diabaikan, dianggap tidak ada relevansinya dengan masa sekarang apalagi masa depan. Dampaknya adalah banyak warisan budaya yang lapuk dimakan usia, terlantar, terabaikan bahkan dilecehkan keberadaannya. Padahal banyak bangsa yang kurang kuat sejarahnya justru mencari-cari jatidirinya dari tinggalan sejarah dan warisan budayanya yang sedikit jumlahnya. Kita sendiri, bangsa Indonesia, yang kaya dengan warisan budaya justru mengabaikan asset yang tidak ternilai tersebut. Sungguh kondisi yang kontradiktif. Kita sebagai bangsa dengan jejak perjalanan sejarah yang panjang sehingga kaya dengan keanekaragaman budaya lokal seharusnya mati-matian melestarikan warisan budaya yang sampai kepada kita. Melestarikan tidak berarti membuat sesuatu menjadi awet dan tidak mungkin punah. Melestarikan berarti memelihara untuk waktu yang sangat lama. Jadi upaya pelestarian warisan budaya lokal berarti upaya memelihara warisan budaya lokal untuk waktu yang sangat lama.

            Sebagai pelestarian warisan budaya, maka upacara Perang Topat yang dilaksanakan di Pura Lingsar setiap satu tahun sekali dapat merangsang serta mendorong masyarakat untuk menggali serta menemukan warisan nenek moyang mereka, mempertahankan serta melestarikan budaya leluhur yang pada akhirnya dapat diwariskan kepada keturunannya. Terkait dengan adannya pariwisata yang memerlukan sejumlah budaya yang unik serta orisinil, maka budaya masyarakat Lombok khususnya tradisi Upacara Perang Topat perlu mendapatkan tempat dan ruang bagi masyarakatnya. Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Lombok khususnya melalui pemerintah daerah setempat.Sehingga apa yang menjadi ciri dari masyarakat Lombok, khusunya di Lingsar menjadi daya tarik wisata domistik maupun mancanegara. Pura Lingsar sendiri saat ini melalui tradisi Upacara Perang Topat yang dilaksanakan tiap tahun termasuk iven pariwisata daerah selalu mendapat perhatian dari wisatawan domistik maupun mancanegara, Bukan  hanya karena menjadi tontonan budaya yang menarik, tetapi juga pesan keberagaman di dalamnya yang membuat event ini unik. Dengan demikian, diperlukan suatu kajian serta analisis secara menyeluruh dan mendalam untuk membekali dan meningkatkan sumber daya manusia yang lebih arif dan bijaksana serta berkualitas dalam memahami rasa kemanusiaan. Demikian pula diperlukan adanya pemahaman tentang nilai-nilai budaya yang dikaitkan dengan tuntutan hidup kekinian dalam menghadapi era globalisasi ke arah kemajuan teknologi komunikasi dan informasi (Suastika, 2003 : 5).

Spillane (1999 : 138) menyatakan bahwa wisatawan asing banyak yang ingin melihat, menggali, serta menemukan kebudayaan Indonesia yang tiada duanya, sehingga kebudayaan asli perlu dipertahankan kelestariannya. Oleh sebab itu kebudayaan lokal seperti halnya Tradisi Upacara Perang Topat yang dilaksanakan di Pura Lingsar harus mendapatkan tempat dalam rangka meningkatkan pertumbuhan dan pengembangan kebudayaan nusantara. Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa adanya peningkatan nilai kebenaran, kebajikan, dan keindahan sangatlah tepat apabila dikembangkan kajian-kajian lokal tentang budaya setempat, sehingga pemahaman tentang kebudayaan dapat dilakukan secara menyeluruh.

SIMPULAN

Peran Komunikasi antarbudaya dalam Tradisi Upacara Perang Topat di Pura Lingsar adalah Sebagai Jembatan Hubungan antara Etnis Bali yang Beragama Hindu dan Sasak yang Beragama Islam, Sebagai Fungsi Keharmonisan Berdasarkan Konsep Tri Hita Karana, Sebagai Fungsi Menetralisir Gangguan Hama dan Kesuburan bagi Masyarakat Agraris, Sebagai Fungsi Edukatif, Sebagai Fungsi Pelestarian Budaya.

SARAN

Diharapkan masyarakat Suku Bali dan Sasak agara dapat terus melestarikan pelaksanaan Tradisi Upacara Perang Topat sebagai warisan budaya yang luhur, sebab di dalam pelasanaanya terkandung nilai-nilai moral yang tinggi (tatwa, susila dan upacara) yang sangat luhur dan sangat penting dalam kehidupan bersama di tengah perbedaan kepercayaan dan keyakinan dengan tujuan yang sama yaitu untuk memohon kesejahteraan umat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Donder, I Ketut, 2005. Esensi Bunyi Gambelan dalam Prosesi Upacara Hindu,                             Surabaya: Paramita.

Donder, I Ketut, 2008, “Diskriminasi Teologi Barat Terhadap Teologi Hindu”,                             Pangkaja (Jurnal Agama Hindu). Vol. VIII, 2, : 147.

Gie, The Liang. 1996. Garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan). Yogyakarta : Karya

Harnish, David D. 2006. Bridges to the Acestors. Hawai'i : University of Hawai'i Press

Ida Pandita Mpu Siwa-Budha Dhaksa Dharmita. 2011. Filsafat Rsigana Penciptaan Dunia Alam Semesta. Denpasar : Pustaka Bali Post

Karman, I Nyoman. 2002. Fungsi dan Makna Simbolik Upacara Homa Yajna di                            Desa    Yangapi Kecamatan Tembuku Kabupaten Bangli (Skripsi).                             Denpasar.

Kleden, Ignas, 1987, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, Jakarta : Gramedia.

Koentjaraningrat, 1977, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta : Dian                                    Rakyat.

Koentjaraningrat, 2000, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta : PT Rineka Cipta.

Krisnu, Tjok. Raka, 2000. Materi Penataran Tukang Banten Seluruh Bali.                                       Denpasar : Proyek Bimbingan dan Penyuluhan Kehidupan                                             Beragama.

Liliweri, Alo. 2003.  Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Pustaka Pelajar: Yogyakarta

_______. 2007. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Lkis: Yogyakarta

Maran, R.R.2000. Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif  Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : Renika Cipta

Maswinara,  I Wayan, 1999. Regveda Mandala I, II, III, Surabaya : Paramita.

 

Maswinara, I Wayan 2004. Regveda Samhita Mandala IV, V, VI, VII, Surabaya :                            Paramita.

Read 3233 times