Wednesday, 20 June 2018

NILAI-NILAI ANTI KORUPSI DALAM KITAB NITI SATAKA DAN KITAB BHAGAWADGITA

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Monday, 02 February 2015 01:37
Rate this item
(0 votes)

NILAI-NILAI ANTI KORUPSI DALAM KITAB NITI SATAKA

DAN KITAB BHAGAWADGITA

Oleh :

I Nyoman Sumantri

 

A. LATAR BELAKANG

Isu sentral dan persoalan yang selalu hangat untuk dijadikan sebagai wacana bagi pencari berita dalam ranah Negara Kesatuan Republik Indonesia dewasa ini adalah merebaknya berbagai tindakan korupsi yang dilakukan oleh berbagai instansi pemerintahan yang ada.  Entah apa dan siapa yang salah sehingga tindakan-tindakan yang sangat merugikan Negara dan rakyat selalu dan tetap hidup subur di Negara tercinta ini.

Berbagai upaya telah dilakukan dari berbagai instansi terkait, seperti : tindakan antisifasi, sosialisasi,pendidikan anti korupsi, seminar-seminar, work shop sampai pada tahap penyelesaian perkara ditingkat pengadilan dan menghukum pihak koruptor dengan acuan undang-undang anti korupsi, namun muncul lagi tindakan korupsi lainnya seperti jamur yang datang disaat musim hujan. Para pelaku meskipun sudah  dihukum sebagaimana peraturan perundang-undangan yang berlaku namun seolah-olah tidak ada istilah jera untuk tidak melakukannya lagi.

Didalam media cetak maupun dalam media elektronik berbagai berita maupun tayangan televisi sering menampilkan tentang tindakan-tindakan korupsi dengan jumlah uang Negara cukup besar diselewengkan demi untuk memperkaya diri sendiri, bahkan Indonesia yang seluruh penduduknya memeluk berbagai agama dan keyakinan-keyakinannya serta dengan ajaran-ajaran yang sangat mulia namun tidak mampu mencegah tindakan yang sangat busuk tersebut. Pertanyaannya adalah haruskah agama dipersalahkan ? atau pemeluknya yang sama sekali tidak memahami ajaran agama yang dianutnya ?

Analog diatas perlu untuk direnungkan bersama jika Negara ini tidak mau hancur oleh karena ulah dari segilintir orang yang tidak bertanggung jawab. Kesadaran akan adanya nilai-nilai etika dan moral tentunya akan menjadi lirikan ketika akan berbenah menuju kebaikan karakter bangsa, meskipun disadari tindakan untuk tidak melakukan korupsi sulit sekali diberantas habis, namun paling tidak ada upaya untuk meminimalisir jumlahnya. Untuk tujuan tersebut tentunya keterlibatan seluruh pihak sangat dibutuhkan, seperti tokoh agama, masyarakat, lembaga pendidikan dan aparat penegak hukum.

Fenomena yang sangat memalukan dalam beberapa dekade terakhir ini yakni adanya fakta yang menunjukkan bahwa lembaga keagamaan yang nota bene didalamnya terdapat orang-orang yang memiliki kecerdasan secara emosional maupun spiritual justru memiliki tingkat korupsi yang paling tinggi bila dibandingkan dengan lembaga-lembaga yang lain di Indonesia. Agama mengajarkan setiap pemeluknya untuk menjadi insan-insan yang memiliki moralitas dan mengenal suatu tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan, namun sering agama dijadikan sebagai suatu tameng untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang.

Menurut Iones Rakhmat yang mengungkapkan tentang agama dan korupsi mengatakan bahwa :” harus disadari, kelakuan seseorang tidak hanya ditentukan oleh agamanya, ada banyak faktor yang mempengaruhi orang untuk bertindak, antara lain  faktor genetic, faktor neurologis, faktor psikologis, faktor sosiologis dan faktor pendidikan dan pengasuhan. Agama berperan lebih banyak dalam dunia pendidikan dan pengasuhan manusia untuk membentuk jatidiri, watak dan kelakuan manusia. Tetapi ada faktor-faktor lain yang tidak tersentuh oleh agama, atau bisa mengalahkan kekuatan-kekuatan ajaran agama. Faktor genetik dan  faktor neurologis yang menghasilkan perilaku anti social atau prilaku jahat lainnya, bisa diatasi dengan tekhnologi modern”.

Jika dalam suatu Negara nyaris seluruh penduduknya sangat saleh beragama, tetapi korupsi masih tetap ada dan bahkan meningkat, kenyataan ini menunjukkan agama dalam Negara itu bisa jadi sudah tidak efektif membentuk jati diri, watak dan prilaku warga masyarakatnya. Jika ini menjadi kenyataan, usaha memberantas korupsi jelas tidak bisa diserahkan hanya pada pranata-pranata keagamaan, atau lewat ajaran-ajaran agama dan kaedah-kaedah budi pekerti, atau lewat hukum adat. Tidak bisa lain ada atau tidak ada agama, hukum positif harus ditegakkan tanpa pandang bulu.

Namun Indonesia sebagai Negara hukum sering kali hukum merupakan kata yang sering kita dengar bahkan merupakan kata yang harus kita ingat selama kita masih berada dalam dunia sosial. Secara umum hukum berfungsi untuk mengatur dan mengikat masyarakat agar dapat tetap berada pada koridor yang di tentukan. Dalam dunia sosial, hukum merupakan hal yang mengikat dan mempersatu antara satu dengan yang lain. Karena hukum adalah ’’satu untuk semua, dan semua untuk satu’’. Maksudnya adalah hukum yang ada dan yang berlaku di Indonesia adalah hukum untuk bersama, dan dijalani bersama bukan hanya sepihak.  Semua hukum yang telah ditetapkan dijalankan untuk satu tujuan bersama. Jadi dimanapun setiap lapisan masyarakat berada, disitu tetap akan ada hukum yang mengikat mereka.

            Sebaik apapun peraturan-peraturan hukum yang dibuat oleh Negara jika tanpa diiringi dengan kualitas dan kesadaran hukum dari warganegaranya maka suatu keniscayaan istilah ketertiban dan kemanfaatan hukum itu akan dapat dijalankan, namun sebaliknya keamanan serta kenyamanan suatu Negara akan ternilai baik, bila hukum yang telah ditetapkan oleh Negara tersebut berjalan dengan baik.

            Menurut M Ghazali Bagus Ani Putra dalam tulisannya yang berjudul “Agama. Korupsi dan Mafia Birokrasi”, mengungkapkan bahwa : “sandangan yang tepat untuk Indonesia saat ini adalah “Negeri Tersandera Korupsi”. Sangatlah tepat karena membuat kita bergidik dan mengevaluasi diri, sudah sedemikian parahkah korupsi dan manipulasi di Negara kita tercinta ini ? Beliau melansir berdasarkan beberapa media massa bahwa hanya 5 provinsi dari 33 provinsi yang bersih dari korupsi yang melibatkan kepala daerah, Peringkat 10 besar Negara terkorup di dunia juga pernah disandang oleh Indonesia pada tahun 2009 lalu “.

            Agama yang ada di Indonesia secara sah diakui oleh Negara sebanyak 6 agama, khususnya agama Hindu mengandung ajaran dalam konteks yang khusus dan universal, didalamnya terdapat ajaran tentang ritual (yajna), etika, moral, pendidikan, filsapat dan seluruh aspek kehidupan manusia baik hubungannya dengan manusia, alam maupun dengan Tuhan (Tri hitakarana ), tidak ada satu aspekpun yang tidak diatur dalam ajaran agama Hindu. Agama Hindu mengatur urusan dunia dan akhirat (sekala-niskala) dengan tujuan agar pemeluknya mencapai kesejahtraan lahir bhatin, sesuai dengan tujuan agama Hindu yakni : “Moksatham jagad hita ya ca iti dharma”, yang artinya mencapai kebahagian didunia maupun akhirat dengan dharma sebagai landasan utamanya.

            Agama Hindu sebenarnya tidak mengatur masalah ritual belaka akan tetapi diupayakan untuk terus menggali nilai-nilai agama agar memiliki makna dan fungsi yang lebih luas demi kesejahteraan umat manusia. Agama manapun yang ada mempunyai peran penting dalam tatanan kehidupan masyarakat, seperti dalam bidang hukum, politik dan pemerintahan. Secara universal, semua agama melarang tindakan-tindakan yang merugikan orang lain, termasuk korupsi, manifulasi dan mafia birokrasi. Maka tidak mengherankan jika semua agama menyerukan untuk melawan tindakan tindakan kejahatan tersebut.

            Susastra Hindu mengandung berbagai nilai-nilai etik  anti korupsi yang sesuai dengan berbagai  konteks perkembangan jaman, nilai-nilai tersebut sangat cocok untuk dijadikan sebagai pedoman dalam berbagai bentuk tingkah laku manusia.

 

B. Pembahasan

a.  Tindakan Anti korupsi Dalam Kitab Niti Sataka

Sloka-sloka yang terdapat dalam Nitisataka sebagai maha karya dari seorang raja yang melakukan pertapaan ke tengah hutan yang bernama Bhartrihari memiliki makna yang dalam dan selalu sesuai dengan kenyataan yang terjadi dimasyarakat meskipun manusia hidup dijaman yang berbeda. Adapun beberapa sloka yang dapat penulis sajikan sebagai bagian dari bentuk-bentuk tindakan anti korupsi diuraikan sebagai berikut :

Haturyati na gocaram kimapi sam pusnati yatsarvada,

Hyarthibhyah prati padyamanamanisam prapnoti vrddhimparam

Kapantesvapi na prayati nidhanam vidyakhyamantardhanam

Yesam tanprati manamujjhata nrpah kastaih saha spardhate (12)

Artinya :

Tidak dapat ditemukan oleh para pencuri, membawa  kedamaian dan kebahagiaan, semakin diberikan kepada murid-murid malah semakin berkembang, dalam pralayapun tidak pernah hancur, itulah pengetahuan yang merupakan kekayaan. Oleh karena itu wahai para penguasa, janganlah menunjukkan kesombonganmu kepada mereka yang memiliki pengetahuan, siapakah yang berani bersaing dengan mereka.

 

Ksantiscetkavacena kim kimaribhih krdhoasti ceddehinam

Jnatiscedanalena kim, yadi suhrddivyausdhih kim phalam

Kim sarpairyadi durjanah, kimu dhanairvidyaanavaya yadi

Vrida ceta kimu bhusanaih sukavita yadyasti rajyen kim (17).

Artinya :

Bilamana seseorang memiliki sifat penyabar, ia tidak memerlukan senjata.Bilamana seseorang memiliki sifat pemarah,ia tidak lagi mencari musuh. Bilamana ada kebanggaan terhadap kasta, tidak perlu lagi api yang lain, karena kebanggan diri telah cukup membakar hatinya. Jika seseorang memiliki sahabat yang baik, maka tidak perlu mencari obat supranatural. Jika seseorang dikelilingi oleh orang-orang jahat, ia tidak perlu mencari ular yang berbisa. Jika ada pengetahuan yang baik dan benar, apa gunanya kekayaan lain, jika seseorang memiliki rasa malu, mengapa ia harus memiliki hiasan lain, jika seseorang adalah penyair yang baik tidak perlu mengharapkan sebuah kerajaan.

 

Svalpasanayu vasavaseka malinam nirmamsamapyasthikam

Sva labdhva paritosameti na ca tattasya ksudhasantaye

Singho jambukamankamagatamapi tyaktva nihanti dvipam

Sarvah krcchagatoapi vanchati janah sattvanurupam phalam (22).

Artinya :

Seekor anjing sangat senang ketika mendapatkan tulang kotor tanpa daging, meskipun ia tidak dapat memuaskan rasa dahaganya. Sedangkan seekor singa melepaskan serigala dari cengkramannya dan berusaha memangsa seekor gajah. Dalam kesulitan dan kelaparan setiap orang mengharapkan hasil yang sesuai dengan kekuatannya.

 

Langulacalanamadhascarana vapatam

Bhumau nipatya vadanodaradarsananca

Sva pidadasya kurute gajapungavastu

Dhiram vilokayati catusataisca bhunkte (23).

Artinya :

Seekor anjing mengibaskan ekor didepan majikannya, bersimpuh, dan berbaring ditanah sambil memamerkan perutnya, namun seekor gajah dengan gagah, melihat, dan hanya makan setelah dibujuk ratusan kali.

 

Jatyryatu rasatalam gunaganastatrapyadho gaccatham

Silam sailatatatpatatvabhijanah sandahyatam vanhina

Saurye vairini vajramasu nipatatvarthoastu nah kevalam

Yenaikena vina gunastrnalavaprayah samastah ime (31).

Artinya :

Biar kasta larut dalam samudra, biarlah sifat-sifat baik tenggelam kedasarnya, biarlah etika jatuh dari puncak gunung dan hancur, biarlah anggota keluarga musnah dalam api, biarlah petir jatuh diatas keberanian. Karena ingin mendapatkan kekayaan, semua sifat baik tidak ada artinya.

 

Akarunanvamakaranavigraha paradhane parayositi ca sprha

Sujanabandhujanesvasahisnuta prakrtisiddhamidam

hiduratmanam (41).

Artinya :

Tidak berbelas kasihan, berkelahi tanpa alasan, menginginkan kekayaan, dan istri orang lain, dan tidak ingin menerima dan menghormati keluarga dan orang baik, sesungguhnya adalah sifat-sifat dasar orang yang jahat.

 

Lobhascedagunena kim pisunata yadyasti kim patakaih

Satyam cettapasa ca kim suci mano yadyasti tirthena kim

Saujanyam yadi kim nijaih sumahima yadyasti kim mandanaih

Sadvidya yadi kim dhanairapayaso yadyasti kim mrtyuna(44).

Artinya :

Bilamana mempunyai sifat serakah, tidak perlu sifat buruk lainnya, bilamana memiliki sifat suka menghasut tidak perlu melakukan dosa yang lain, bila selalu mengucapkan kebenaran tidak perlu bertapa, bilamana pikiran sudah suci tidak perlu bertirta yatra, bilamana dalam pikiran menganggap semua manusia sama, maka tidak perlu memikirkan kerabat dekat, bila memiliki pengetahuan yang baik tidak perlu mencari kekayaan, dan jika nama sudah tercemar dalam masyarakat maka tidak perlu menunggu kematian.

 

Sasi divasadhusaro galitayauvana kamini

Sarovigatavarijam mukhamanaksaram svakrteh

Prabhurdhanaparayanah satatadurgatah sajjano

Nrpanganagatah khalo manasi sapta salyani me (45).

Artinya :

Ada tujuh hal yang menusuk hatiku bagaikan duri, bulan yang masih bersinar ketika matahari telah terbit, seorang wanita yang telah kehilangan masa mudanya, danau tanpa bunga lotus, wajah cantik tapi suka berkata kasar, serakah dalam kekayaan, orang baik yang selalu menderita, dan orang-orang jahat yang mengelilingi pemimpin.

 

Asanto nabhyarthyah suhrdapi na yacyah krsadhanah

Priya nyayya vrttirmalinamasubhangeapyasukaram

Vipadyuccaih sthairyam padamanuvidheyam ca mahatam

Satam kenoddistam visamamasidhara vratamidam (56).

Artinya :

Tidak meminta dari orang yang lebih rendah ataupun orang miskin, pada saat sekaratpun tetap mempertahankan kejujuran, menjauhkan diri dari hasil kejahatan, tetap memegang prinsip yang baik meskipun dalam berbagai kesulitan, dan selalu mengikuti jalan orang bijaksana, siapakah yang telah mengajarkan semua itu diibaratkan berjalan diatas pedang.

 

Eke sadpurusah pararthaghatakah svarthan parityajya ye

Samanyastu pararthamudyamabhrtah svarthavirodhena ye

Teami manusaraksasah parahitam svarthaya nighnanti ye

Ye nighnanti nirarthakam parahitam te ke na janimahe (64).

 Artinya :

Ada tiga kategori manusia, pertama adalah manusia yang selalu siap menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan, kedua adalah manusia yang siap menolong orang lain asalkan tidak merugikan diri sendiri, ketiga adalah manusia yang paling rendah demi kepentingan diri sendiri mereka menghancurkan orang lain.

 

Manasi vacasi kaye punyapiyusapurnasa

Tribhuvanamupakarasrenibhih prinayantah

Paragunaparamanumparvatikrtya nityam

Nijahrdi vikasantah santi santah kiyantah (69).

Artinya :

Pikiran yang penuh cinta kasih, ucapan yang manis, menolong orang lain sekuat tenaga, selalu ingin berbuat baik, dan membesar-besarkan sifat baik orang lain dengan bahagia, orang dengan sifat-sifat tersebutlah yang membuat Tri Loka bahagia. Berapa banyak orang yang memiliki sifat seperti itu ?

 

Prarabhyate na khalu vighnabhayena nicaih

Prarabhya vighnavihata viramanti madhyah

Vighnaih punah punarapi pratihanyamanah

Parabhya  cottamajana na parityajanti (72).

Artinya :

 Manusia dikategorikan kedalam tiga jenis, yaitu : Adharma, Madyama, dan Uttama. Adharma orang yang paling rendah sebelum memulai pekerjaan ia sudah takut dengan masalah yang akan muncul, orang madyama, walaupun ia telah memulai suatu pekerjaan tetapi terhenti ditengah jalan karena takut menghadapi rintangan, sedangkan orang yang uttama walaupun mendapatkan banyak rintangan tetapi ia tidak pernah putus asa sampai tujuannya tercapai.

 

Kantaktaksavisikha na dahanti yasya

Cittam na nirdahati kopakrsanutapah

Karsanti bhurivisayasca na lobhapasair

Lokatrayam jayati krtsnamidam sa dhirah (75).

Artinya :

Seseorang yang memiliki kesabaran bisa memenangkan Tri Loka, ketajaman mata wanita tidak mampu membakar hatinya, api kemarahan tidak dapat menghanguskannya, dan keserakahan atau sad ripu tidak mampu menariknya.

 

Vanhistasyabjalayate jalanidhih kulyayate tatksanan

Meruh svalpasilayate mrgapatih sadyah kurangayate

Vyalo malyagunayate visarasah piyusavarsayate

Yasyangeakhilalokavallbhatamam silam samunmilati (78).

Artinya :

Apabila manusia sudah mengembangkan sifat baik dalam dirinya yang merupakan sifat terbaik diseluruh loka, baginya api merupakan air yang sejuk, samudra luas bagaikan danau kecil, gunung semeru bagaikan karang yang kecil, singa bagaikan rusa peliharaan, ular yang berbisa bagaikan kalung yang indah, dan racun yang mematikan bagaikan amertha.

 

Aisvaryasya vibhusanam sujanata sauryasya vaksamayamo

Jnaanasyopasamah srutasya vinayo vittasya patre vyayah

Akrodhastapasah ksama prbhaviturdharmasya  nirvyajata

Sarvesamapi sarvakaranamidam silam param bhusanam (80)

Artinya :

Busana kekayaan adalah kebaikan hati, busana keberanian adalah lidah yang terkendali, busana pengetahuan adalah kedamaian, busana kepandaian adalah kerendahan hati,busana kekayaan adalah untuk mendidik putra yang baik, busana tapa adalah meninggalkan kemarahan, busana kebesaran adalah memaafkan, busana dharma adalah tidak menipu. Oleh karena itu sifat-sifat baik adalah inti daripada semua busana.

 

Daivena prabhuna svayam jagati yad yasya pramanikrtam

Tattasyopanamenmanagapi mahannaivasrayah karanam

Sarvasaparipurake jaladhare varsatyapi pratyaham

Suksma eva patanti catakamukhe dvitrah payobindavah (90).

Artinya :

 Di dunia ini apapun yang telah digariskan oleh Tuhan akan didapatkan dengan sendirinya tanpa bantuan orang besar sedikitpun. Akan tetapi bagi seseorang yang nasibnya buruk, bagaikan seekor burung cataka, meskipun awan tersebar dan menjatuhkan hujan di mana-mana akan tetapi dalam mulut burung cataka, hanya jatuh dua atau tiga tetes saja.

 

Gunavadagunavadva kurvata karyamadau

Parinatiravadharya yatnatah panditena atirabbhasakrtanamkarmanamavipatter

Bhavati hrdayadahi salyatulyo vipakah (95).

Artinya :

Orang yang bijaksana, sebelum memulai pekerjaan apapun, ia memperhitungkan baik dan buruknya dengan teliti karena pekerjaan yang dilakukan dengan terburu-buru akan membawa pahala yang pahit seumur hidup, bagaikan duri dalam hati.

 

Ko labho gunisangamah sukham prajnetaraih sangatih

Ka hanih samaya cyutirnipunata ko dharma tatve ratih

Kah suro vijitendriyah priyatama ka anuvrata kim dhanam

Vidya kim sukhama pravasa gamanam rajyam kimajyaphalam (pesan berharga Niti Sataka)

Artinya :

Apakah keberuntungan didunia ini ? Pergaulan dengan orang baik. Apakah kesedihan itu ? Pergaulan dengan orang jahat.Apakah kerugian itu ? Tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Apakah kepandaian itu ? Selalu berpedomana pada agama. Siapakah yang disebut pemberani ? Ia yang telah menang dari sebelas indriya. Siapakah kekasih yang sebenarnya ? Ia yang setia. Apakah kekayaan itu ? Pengetahuan yang benar. Apakah kebahagiaan itu ? Tidak tinggal di Negeri orang. Apakah pemerintahan ? Dimana tidak ada pelanggaran.

 

b. Bentuk-Bentuk Tindakan Anti Korupsi Dalam Kitab Bhagawad Gita

     Bhagawad Gita adalah suatu episode yang terdiri dari delapan belas bab (percakapan) singkat, yang disisipkan didalam mahabharata. Dituturkan pada saat peperangan akan dimulai, dimana kedua bala tentara akan segera terjun di dalam pertempuran. Tutur kerohanian yang disampaikan pada saat perang akan dimulai, sama sekali tidak harmonis kelihatannya. Banyak kontradidiksi telah ditunjukkan oleh para kritisi Barat. Namun bagi pikiran India, kontradiksi-kontradiksi ini merepresentasikan permulaan dari proses penyesuaian yang sangat baik.

     Didalam Bhagawad Gita jelas sekali terpancar adanya sebuah filsapat yang mengalir dalam bentuk sebuah lagu dan merupakan susunan sloka-sloka (syair-syair) filsapat kehidupan paling agung dalam seni sastra dunia. Gita mengalir dari daratan India ke negara-negara lain, dan akan selalu menjadi sumber inspirasi dalam peradaban yang sangat modern sekalipun.

     Ada tiga sendi-sendi utama yang dikupas dalam Bhagawad Gita sebagai suatu panduan didalam menjalani hidup dan kehidupan ini, ketiga sendi-sendi utama tersebut adalah :

1.    Karma atau aksi

2.    Guna atau kesadaran/ilmu pengetahuan

3.    Bhakti atau cinta kasih

Dasar karma atau aktifitas/kerja tidak bisa dipisahkan dengan tujuan kerja itu sendiri. Dengan hukum kerja maka alam semesta beserta isinya menjadi aktif menurut sifatnya, sehingga manusia sebagai bagian dari alam mau tidak mau dijerat pula oleh hukum kerja tersebut, sehingga seseorang tidak mungkin terhindar dari kerja walaupun sifatnya sesaat dan tanpa kerja seseorang tidak mungkin memelihara hidup dan mencapai kesempurnaan.

Adapun bab yang secara khusus atau lebih banyak membicarakan konsep kerja, dasar, tujuan, cara, jenis dan pembagian kerja adalah bab II, III, IV, V, dan XVIII.

Bab II Dimulainya Ajaran Bhagawad Gita

Dhyayato wisayam pumsah,sangas tesupajayate,

Sangat sanjayate kamah kamat krdho bhijayate (II.62.)

Artinya :

Jika seseorang memikirkan benda duniawi selalu, maka ia akan menghasilkan keterikatann pada benda-benda ini, dari keterikatan ini timbulah hawa nafsu, dari hawa nafsu timbulah rasa amarah.

 

Krodhad bhawati sammohah, sammohad smrtiwibhramah,

Smrtibhramsad buddhi naso,buddhinasat pranasyati (II.63.)

Artinya :

Dari marah timbulah angkara murka, dan kemarahan akan menghilangkan akal sehat, dan dengan hilangnya akal sehat hancurlah daya intelek dan kesadaran kita, dan dengan hilangnya kesadaran maka ia akan binasa.

Raga dvesa viyuktais tu visayan indriyais caran,

Atma vasyair vidheyatma prasadam adhigacchati (II.64.)

Artinya :

Seseorang yang penuh dengan disiplin, yang bergerak ditengah-tengah obyek sensual tanpa suatu keterikatan kepada obyek-obyek sensual ini dan dapat mengendalikan dirinya dengan baik, akan pergi ke suatu kedamaian yang luhur.

 

Nasti buddhir ayuktasya, na cayuktasya bhawana,

Na cabhawayatah santir, asantasya kutah sukham (II.66.)

Artinya :

Untuk yang tak pernah mengendalikan diri, tak akan ada kesadaran, untuk yang tak pernah mengendalikan diri tak akan ada konsentrasi, dan kalau tak ada konsentrasi maka tak akan ada kedamaian, dan kalau seseorang tak memiliki kedamaian tak akan mungkin ada kebahagiaan.

 

Indriyanam hi caratam, yan mano nuwidhiyate,

Tad asya harati prajnam vayur navam ivambhasi (II.67.)

Artinya :

Sewaktu pikiran mengejar obyek-obyek sensual maka akan hilanglah kesadaran, ibarat arus yang menyeret sebuah perahu dilautan.

 

Bab III Jalan Aksi Atau Tindakan

Niyatam kuru karma tvam karma jyayo hyakarm,anah,

Sarira yatrapi ca te na prasidhyed akarmanah (III.8.)

Artinya :

Lakukan pekerjaan yang telah menjadi kewajibanmu, karena bekerja adalah lebih baik daripada tidak bekerja, bahkan ragamu saja tak mungkin stabil tanpa suatu aktifitas.

 

Yajnarthat karmano nyatra loko yam karma bandhanah,

Tad artham karma kaunteya mukta sangah samacara (III.9.)

Artinya :

Pekerjaan adalah merupakan suatu keterikatan didunia ini , kecuali kalau dilakukan demi pengorbanan. Seyogyanyalah, oh arjuna, dikau aktif untuk pengorbanan ini, bebas dari segala keterikatan.

 

Yas tv atma-ratir eva syad atma trptas ca manavah,

Atmany eva ca santustas tasya karyam na vidyate (III.17.)

Artinya :

Tetapi sesorang yang bahagia didalam atmannya sendiri, yang merasa cukup dengan Diri-Nya, dan selalu puas oleh Diri-Nya, Untuk orang semacam ini sebenarnya tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Naiva tasya krtenartho nakrtaneha kascana,

Na casya satva bhutesu kascid artha-vyapasrayah (III.18.)

Artinya :

Ia tidak punya kepentingan pribadi didunia ini baik ia melakukan sesuatu maupun ia tidak melakukan sesuatu. Ia tidak bersandar kepada siapapun untuk mencapai sesuatu dalam hidupnya.

 

Tasmad asaktah satatam karyam karma samacara,

Asakto hy acaran karma param apnoti purusah (III.19.)

Artinya :

Seyogyanyalah dikau selalu mengerjakan kewajibanmu tanpa rasa keterikatan, karena dengan bekerja tanpa pamrih seseorang akan mencapai Parama Yang Tertinggi.

 

Saktah karmany avidvamsoyatha kurvanti bharata,

Kuryad vidvams tathasaktas cikirsur loka sangraham (III.25.)

Artinya :

Ibarat orang bodoh yang bekerja demi hasilnya, oh Arjuna, maka seyoyanyalah seorang yang bijaksana juga bekerja tetapi tanpa pamrih, dan dengan tujuan untuk kelangsungan hidup di dunia ini.

 

Prakrteh kriyamanani gunaih karmani sarvasah,

Ahankara vimudhatma kartaham iti manyate (III.27.)

Artinya :

Sebenarnya semua tindakan didasakan pada sifat-sifat alam (ketiga guna), tetapi sesorang yang penuh dengan rasa egois (ahamkara) akan berpikir akulah yang melakukannya.

 

Mayi sarvani karmani sannyasyadhyatma celasa,

Nirasir nirmamo bhutva yudhyasva vigatajvarah (III.30.)

Artinya :

Serahkan semua tindakan-tindakanmu pada-Ku, dengan pikiran-pikiranmu bersandar pada Yang Maha Esa, lepas dari segala kemauan dan egoisme, sadarlah dari penyakit mentalmu, berperanglah dikau, oh Arjuna.

 

Ye me matam idam nityam anutisthanti manavah,

Sraddhavanto nasuyanto mucyante te pi karmabhih (III.31.)

Artinya :

Barang siapa menjalankan ajaran-ajaran-Ku ini penuh dengan kepercayaan dan lepas dari mencari-cari kesalahan maka mereka juga akan lepas dari keterikatan kerja.

 

Ye tv etad abhyasuyanto nanutisthanti me matam,

Sarva-jnana vimudhams tan viddhi nastan acetasah (III.32.)

Artinya :

Tetapi mereka yang mencari-cari kesalahan dalam ajaran-Ku ini dan tidak bertindaki seharusnya, ketahuilah mereka-mereka ini buta tentang kebijaksanaan, sesat dan tidak berpikiran sehat.

 

Sreyan sva-dharmo vigunah para-dharmat sv-anusthitat,

Sva-dharme nidhanam sreyah para-dharmo bhayavahah (III.35.)

Artinya :

Lebih baik mengerjakan kewajiban atau pekerjaan sendiri walaupun mengerjakannya kurang sempurna, daripada melakukan kewajiban orang lain, walaupun pelaksanaannya sempuirna. Lebih baik mati dalam mengerjakan kewajiban sendiri.Mengerjakan kewajiban orang lain itu penuh dengan marabahaya.

 

Kama esa krodha esa rajo-guna samudbhavah,

Mahasano maha-papma viddhy anam iha vairinam (III.37.)

Artinya :

 Keinginan (kama), kemarahan (kroda), yang lahir dari raja guna ( beragam nafsu dan keinginan), semua ini serba penuh dengan keserakahan dan penuh dengan poencemaran. Inilah musuh kita di bumi ini.           

 

Bab IV Doktrin Rahasia

 

Kanksantah karmanam siddhim yajanta iha devatah,

Ksipram hi manuse loke siddhir bhavati karma-ja (IV.12.)

Artinya :

Mereka yang menginginkan sukses dimuka bumi ini memberikan pengorbanan kepada para Dewa dan merekapun mendapatkan imbalan dari para Dewa, karena didunia ini sesuatu tindakan itu cepat mendapatkan tanggapan.

 

Karmany akarma yah pasved akarmani ca karma yah,

Sa buddhiman manusyesu sa yuktah krtsna-karma-krt (IV.18.)

Artinya :

Seseorang yang melihat non-aksi didalam aksi, dan aksi di dalam non-aksi, maka diantara manusia orang ini disebut bijaksana. Hidupnya penuh dengan keharmonisan walaupun ia penuh dengan berbagai aksi.

 

Yasya sarve samarambhah kama-sankalpa-varjitah,

Jnanagni-dagdha-karmanam tam ahuh panditam budhah ( IV.19.)

Artinya :

Seseorang yang bertindak bebas dari segala bentuk nafsu, seseorang yang setiap tindakannya terbakar bersih oleh api kebijaksanaan orang semacam iniulah opleh orang-orang bijaksana disebut seorang pandita (orang-orang suci).

 

Tyaktva karma-phalasangam nitya-trpto nirasrayah,

Karmany abhipravrtto pi naiva kincit karoti sah (IV.20.)

Artinya :

Seseorang yang telah meninggalkan rasa keterikatannya pada setiap tindakannya, selalu merasa cukup dengan apa adanya, tidak bersandar pada orang lain, orang semacam ini tidak melakukan apa-apa walaupun ia selalu aktif bekerja.

 

Nirasu yata cittatma tyakta-sarva-parigrahah,

Sariram kevalam karma kurvan napnoti kilbisam (IV.21.)

Artinya :

Tidak mengharapkan apapun juga, hati dan diri-Nya terkendali, meninggalkan semua keserakahannya, dan bekerja dengan raganya saja-orang semacam ini tidak bertindak dosa.

 

Yadrccha-labha-samtusto dvandvatito vimatsarah,

Samah siddhav asiddhau ca krtvapi na nibadhyate (IV.22.)

Artinya :

Selalu merasa cukup dengan yang didapatkannya, bebas dari rasa dualisme yang bertentangan, tanpa rasa iri atau cemburu, bersikap sama untuk setiap sukses atau kegagalan, walaupun ia bekerja ia tidak terikat.

 

Gata-sangasya muktasya jnanavasthita-cetasah,

Yajnayacaratah karma samagram praviliyate (IV.23.)

Artinya :

Seorang yang keterikatannya telah mati, yang telah bebas dari duniawi, pikirannya telah teguh berdiri dalam kebijaksanaan yang menmgerjakan pekerjaannya sebagai persembahan maka mencairlah semua tindakan orang semacam ini.

 

Brahmarpanam brahma havir brahmagnau brahmana hutan,

Brahmana tena gantavyam brahma-karma-samadhina (IV.24.)

Artinya :

Seseorang yang berpikir bahwa tindakan pengorbanan itu Tuhan adanya, yang dikorbankannya juga Tuhan dan oleh Tuhan pengorbanan itu dikorbankan ke api Tuhan, maka ke Tuhan jugalah pergi orang yang sadar akan Ketuhanan dalam pekerjaannya.

 

Yoga-sannyasta-karmanam jnana-sanchinna-samyasam,

Atmavantam na karmani nibadhnanti dhananjaya (IV.41.)

Artinya :

 Seseorang yang telah menyerahkan semua aksi atau tindakan-tindakannya dalam yoga (bekerja tanpa pamrih), yang telah menebas keragu-raguannya dengan kebijaksanaannya dan selalu memiliki atman maka untuk orang semacam ini tidak ada aksi yang mengikatnya, oh Arjuna.

Bab V Jalan Pencerahan

 

Brahmany adhaya karmani sangam tyaktva karoti yah,

Lipyate na sa papena padma-pattram iyambhasa (V.10.)

Artinya :

Seseorang yang bertindak (bekerja), sambil melepaskan keterikatannya, menyerahkan semua tindakan-tindakannya kepada Yang Maha Esa, tidak akan tersentuh oleh dosa, ibarat bunga teratai yang tak tersentuh oleh air.

 

Kayena manasa buddhya kaevalair indriyair api,

Yoginah karma kurvanti sangam tyaktvatma-suddhaye (V.11.)

Artinya :

Para Yogi, sambil melepaskan keterikatannya, bekerja menggunakan tubuh, pikiran, intelektual atau dengan indra-indra mereka demi penyucian jiwa.

 

Yuktah karma-phalam tyaktva santim apnoti naisthikim,

Ayuktah kama-karena phale sakto nibadhyate (V.12.)

Artinya :

Seseorang yang telah bersatu dengan-Nya, yang telah mengesampingkan semua imbalan dari tindakan-tindakannya, mencapai ketenangan yang abadi. Tetapi seseorang yang jiwanya tidak bersatu dengan-Nya didorong oleh nafsu-nafsunya dan terikat pada pamrih-pamrihnya, maka terbelenggulah ia.

 

Ye hi samsparsa-ja bhoga duhkha-yonaya eva te,

Ady-antavantah kaunteya na tesu ramate budhah (V.22.)

Artinya :

Kesenangan yang lahir dari kontak-kontak (dengan obyek-obyeknya) adalah sebenarnya permulaan dari penderitaan, kesenangan-kesenangan ini ada awalnya dan ada akhirnya, oh Arjuna, seorang yang bijaksana tidak akan bergembira dengan kesenangan-kesenangan ini.

 

 

Bab XVIII Kata Terakhir

 

Niscayam srnu me tatra tyage bharata-sattama,

Tyago hi purusa-vyaghra tri-vidhah samprakkirtitah (XVIII.4.)

Artinya :

         

Dengarkanlah sekarang, oh Arjuna, kesimpulanku-Ku mengenai penyerahan total mengenai buah atau hasil kerja seseorang . Penyerahan total dari hasil kerja ini terbagi tiga sifatnya.

 

Yajna-dana-tapah-karma nna tyajyam karyam eva tat,

Yajno danam tapas caiva pavanani manisinam (XVIII.5.)

Artinya :

Perbuatan (tindakan) pengorbanan, dana (amal) dan disiplin spiritual tidak boleh diabaikan, tetapi wajib dikerjakan, karena pengorbanan, dana dan disiplin spiritual adalah unsur-unsur yang menyucikan bagi mereka yang bijaksana.

 

Etany api tu karmani sangam tyaktva phalani ca,

Kartavyaniti me partha niscitaqm matam uttamam (XVIII.6.)

Artinya :

Tetapi tindakan-tindakan ini pun harus dilakukan dengan mengesampingkan sesuatu pamrih. Inilah, oh Arjuna, keputusan dan pandangan-Ku yang final.

 

Niyatasya tu sannyasah karmano nopapadyate,

Mohat tasya parityagas tamasah parikirtitah ( XVIII.7)

Artinya :

Sebenarnya mengesampingkan pekerjaan-pekerjaan yang sudah seharusnya itu, adalah tidak benar. Memasrahkan dengan cara tersebut bersifat tamasik (gelap).

 

Na hi deha-bhrta sakyam tyaktum karmany asesatah,

Yas tu karma-phala-tyagi sa tyagity abhidhiyate ( XVIII.11.)

 Artinya :

Sebenarnya tidak mungkin bagi seorang makhluk yang memiliki raga untuk tidak bekerja secara total. Sebenarnya seseorang yang memasrahkan hasil dari setiap pekerjaan atau perbuatannya disebut sebagai seorang tyagi.

 

Pancaitani maha-baho karanani nibodha me,

Sankhye krtante proktani siddhaye sarve-karmanam (XVIII.13)

Artinya :

Pelajarilah dari-Ku oh Arjuna, lima unsur penyebab, penyelesaian semua tindakan, seperti yang telah disabdakan dalam doktrin sankhya.

 

Adhistanam tatha karta karanam ca prthag-vidham,

Vividhas ca prthak cesta daivam caivatra pancamam (XVIII.14.)

Artinya :

Tempat bersemayam semua tindakan (raga ini), Sang Jiwa (Karta) berbagai organ tubuh (karanam), berbagai ragam usaha (chesta) dan yang kelima, yaitu takdir (daivam).

 

Sarira-van-manobhir yat karma parabhate narah,

Nyayyam va viparitam va pancaite tasya hetavah (XVIII.15.)

 

 

 

Artinya :

Apapun tindakan yang diambil seseorang melalui raganya, kata-kata dan pikirannya, baik yang benar maupun yang salah-kelima unsur inilah penyebabnya.

 

Tatraivam sati kartaram atmanam kevalam tu yah,

Pasyaty akrta-buddhitvam na sa pasyati durmatih (XVIII.16.)

Artinya :

Dengan begitu, seorang yang salah pengertiannya, yang karena tidak terlatih kesadarannya, memandang dirinya sebagai satu-satunya pelaku, sebenarnya orang-orang ini tidak melihat.

 

Niyatam sanga-rahitam araga-dvesatah krtam,

Aphala-prepsuna karma yat tat sattvikam ucyate (XVIII.23.)

Artinya :

Suatu tindakan yang berdasarkan moral, yang lepas dari keterikatan, yang dilakukan tanpa mengharapkan suatu pamrih dan yang dilakukan bukan karena cinta atau benci-tindakan tersebut adalah sattvik (bersih).

 

Yat tu kamepsuna karma sahankarena va punah,

Kriyate bahulayasam tad rajasam udahrtam (XVIII.24.)

Artinya :

Tindakan atau perbuatan rajasik selalu bercirikan kepentingan pribadi, dan tindakan ini sebenarnya tidak akan menghasilkan duka atau penderitaan.

 

Anubhandam ksayam himsam anapeksya ca paurusam,

Mohad arabhyate karma yat tat tamasam ucyate (XVIII.25.)

Artinya :

Tindakan yang dilakukan atas dasar moha (cinta dan keterikatan duniawi), tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya yang merugikan dan melukai orang lain, yang tak memikirkan kemampuan pribadinya disebut sebagai tindakan atau perbuatan yang tamasik.

 

Mukta-sango naham-vadi dhrty-utsaha-samanvitah,

Siddhy-asiddhyor nirvikarah karta sattvika ucyate (XVIII.26.)

Artinya :

Seseorang yang bertindak lepas dari keterikatan, yang pembicaraannya jauh dari rasa egois yang penuh dengan tekad yang teguh dan antusiasme yang tak tergoyahkan oleh sukses atau kegagalan, orang ini disebut sattvik karta (orang yang benar atau bersih perbuatannya).

 

Ragi karma-phala-prepsur lubdho himsatmako sucih,

Harsa-sokanvitah karta rajasah parikirtitah (XVIII.27.)

 

 

Artinya :

Seseorang yang terombang-ambing oleh kepentingan nafsunya, yang mencari imbalan dari perbuatannya, yang serakah, merugikan yang lainnya, yang tidak bersih, yang terombang-ambing oleh kesenangan dan penderitaan, orang ini disebut seorang rajasik karta.

C. Kesimpulan

Berdasarkan paparan terrsebut  diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Nilai-nilai anti korupsi yang terkandung dalam kitab Nitisataka dan Bhagawadgita  adalah : selalu melakukan kewajiban-kewajiban yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa didasarkan dengan sifat-sifat baik dengan selalu penuh pertimbangan sebelum melakukannya, jauhkanlah diri dari tindakan-tindakan yang membuat kerugian bagi orang lain karena semua akibat yang ditimbulkan meskipun pada awalnya hal itu akan memberikan kesenangan namun semua itu sebenarnya adalah awal dari suatu penderitaan. Sifat-sifat bijaksana terus ditebarkan sehingga akan memberikan kedamaian pada sang jiwa yang abadi. Jangan pernah memaandang segala yang terjadi adalah karena tindakan yang dilakukan semata namun, semua yang terjadi didunia ini adalah semata atas kehendak-Nya, untuk itu sebagai ciptaan Tuhan sudah merupakan suatu kewajiban bagi manusia untuk melakukan suatu pekerjaan, namun jangan terlalu banyak berharap akan hasilnya demi mendapatkan kepuasan duniawi. Manusia hanya bisa berbuat namun masalah hasilnya hanya Tuhan yang tahu untuk itu dalam susastra kuno Hindu selalu diisyaratkan untuk melakukan kewajiban sebagai manusia dengan tanpa pamrih.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  PUSTAKA

Ata Ujan.Andre. 2009. FilsapatHukum. Yogyakarta :Kanisius

Bansi pandit.2006. Pemikiran Hindu.Surabaya : Paramita.

Gulo, W..  2004.  Metodologi  Penelitian.  Jakarta  :  PT. GramediaWidiasarana Indonesia

Hadikusuma,Hilman.2003.Pengantar  HukumAdatIndonesia.Lampung :

                  MandarMaju.

Hartanti, Evi. 2009.TindakPidanaKorupsi.Jakarta : Sinargrafika

Maladi.Yanis. 2009.AntaraHukumAdat Dan PenciptaanHukumOlehHakim.Yogyakarta :Mahkota Kata.

Nasir,  Muhammad.  2005.  MetodePenelitian.Jakarta :Ghalia Indonesia.

Pateda.Mansoer. 2001.SemantikLeksikal.Jakarta : PT AsdiMahasatya

Redaksi Sinar Grafika.2006. Himpunan Peraturan Tentang Korupsi. Jakarta : Sinar Grafika.

Sudharta.Rai. 2010. Mutiara-Mutiara Kebijaksanaan Weda. Denpasar : Widya Dharma.

__________. 2007. Ajaran Moral Dalam Bhagawad Gita. Surabaya : Paramita.

SeretarisJendral MPR RI.2012. EmpatPilarKehidupanBeragamadanBermasyarakat.

 

Soekanto.Soerjono.2008. Faktor-Faktor Yang MempengaruhiPenegakanHukum.Jakarta : Raja GrafindoPersada

Sudibya.1994.Hindu MenjawabDinamikaJaman.Denpasar : BP.

Sivananda.2003.Intisari  AjaranHindu.Surabaya :Paramita.

Somvir. 2001. 1008 Mutiara Veda Untuk Kehidupan Sehari-Hari. Surabaya : Paramita.

 

Tahir, Muhammad.2004. Negara  Hukum. Jakarta :Kencana.

Vaswani.2007. Bhagawad Gita (Nyanyian tuhan ). Surabaya : Paramita

Wibisono.Iqbal.2007. HukumDalamBerbagaiKonteks Dan Isu.Sidoarjo :Laros.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                       

 

 

 

 

Read 4362 times