Sunday, 22 April 2018

PERAN PENDIDIKAN DALAM MEMBANGUN PERADABAN BANGSA SEBUAH KAJIAN PERSPEKTIF AGAMA HINDU

Written by  Published in Kegiatan Mahasiswa1 Monday, 02 February 2015 03:28
Rate this item
(0 votes)

PERAN PENDIDIKAN DALAM MEMBANGUN PERADABAN BANGSA

 

SEBUAH KAJIAN PERSPEKTIF AGAMA HINDU

oleh :

I Nyoman Wijana

 

I.   Pendahuluan

Kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh Sumber Daya Manusianya. Bangsa yang memiliki Sumber Daya Manusia yang besar dalam arti jumlah, dapat berimplikasi positif dan pada perspektif yang lain bisa berimplikasi negatif. Implikasi positifnya ialah Sumber Daya Manusia yang besar dan berkualitas, dapat dipastikan sebagai titik sumbu untuk menyalakan ambisi dan motivasi kemajuan peradaban sebuah bangsa. Sebaliknya implikasi negatif jika Sumber Daya Manusia yang besar dengan kualitas rendah, hanya diperlukan negara lain sebagai pasar dari hasil-hasil produksinya, sementara itu di negaranya sendiri akan menjadi beban bagi pembangunan.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut diperlukan peran pendidikan. Pendidikan dalam makalah ini dimaksudkan sebagai pendidikan dalam arti luas. Yaitu sebuah proses pemanusiaan, yang dapat terjadi dimana saja, dan sepanjang kehidupan. Tidak dimaksudkan sebagai pendidikan formal semata-mata, meskipun pendidikan formal melalui sistem sekolah itu penting. Tetapi dapat juga melalui sistem pendidikan yang bersifat non formal, informal, bahkan pendidikan bagi dan oleh dirinya sendiri (autodidak).

Dalam peradaban Hindu sudah diberikan contoh kepada kita, bagaimana pentingnya pendidikan itu, dalam upaya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Contoh pendidikan dalam peradaban Hindu yang dapat diperoleh secara autodidak ialah ketika Bambang Ekalaya ditolak oleh Maha Guru Drona sebagai murid dalam sistem perguruan. Namun pada akhirnya Bambang Ekalaya mempelajari sendiri ilmu yang ingin dikuasai, dan dia mampu menguasai dengan baik, bahkan lebih baik dari Arjuna, meskipun dengan membuat patung Maha Guru Drona sebagai simbol gurunya.

Tulisan ini ingin menegaskan bahwa pendidikan itu bermakna universal, dan mempunyai peranan penting dalam membangun sebuah peradaban. Esensinya ialah bahwa maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Manusianya. Kualitas Sumber Daya Manusia ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi ditentukan oleh proses pendidikan dengan segala aspeknya.

Salah satu tokoh pendidikan John Dewey, berpendapat bahwa sekolah adalah kepentingan utama dan cara paling efektif bagi kemajuan masyarakat.[1] Pendapat Dewey ini didukung oleh Harold Ordway Rugg sebagai salah satu tokoh pendidikan Amerika. Rugg merupakan pemimpin gerakan pendidikan progresif Amerika yang sangat menghargai kreativitas individu. Dalam pendidikan progresif, kreativitas individu dapat dimaknai sebagai implementasi pendidikan yang berpusat pada siswa. Siswalah yang harus dibangun kepekaan dan kehalusan budinya, jika menginginkan pendidikan menghasilkan orang-orang yang mampu membangun peradabannya dimasa mendatang.

Dalam perspektif Agama Hindu, penguasaan pengetahuan itu merupakan cara terpenting untuk membangun peradaban umat manusia. Pengetahuan dapat berfungsi sebagai sinar penerang dikala gelap. Begitu pentingnya pengetahuan menurut Hindu, sehingga dipertegas dalam sloka slokantara bahwa; tidak ada sahabat yang melebihi pengetahuan..., [2]  Kutipan sloka ini dapat dimaknai bahwa dalam kehidupan kita sebagai manusia sangat perlu memiliki pengetahuan. Jika individu-individu yang berpengetahuan berakumulasi dalam sebuah negara, maka dapat dikatakan sebagai indikator negara yang bersangkutan telah membangun peradabannya dengan berhasil.

 

II.Peradaban Masyarakat Modern

Dalam kaitannya dengan pergumulan umat manusia dalam menata kehidupannya, peradaban dapat memiliki banyak arti, para ahli sering mengartikan peradaban sebagai sebuah kemajuan dalam bidang kebudayaan. Secara etimologi peradaban berasal dari kata adab yang artinya kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti. Kemudian menjadi kata beradab yang berarti; mempunyai adab yaitu, sopan, baik budi bahasanya. Selanjutnya kata peradaban dapat diartikan sebagai kemajuan kecerdasan, kemajuan kebudayaan.[3]

Ada beberapa kata penting dalam pengertian peradaban yaitu; kemajuan, kecerdasan, dan kebudayaan. Kemajuan dapat diartikan sebagai sebuah proses peningkatan secara terus menerus dalam segala aspek kehidupan. Meskipun untuk mencapai kemajuan dalam segala aspek memerlukan pendidikan, bukan berarti pendidikan  sudah maju dengan sendirinya, melainkan pendidikan sebuah bangsa juga memerlukan kemajuan bagi dunianya sendiri.

Kecerdasan, dalam konteks pendidikan Hindu dapat dimaknai sebagai kemampuan menggunakan wiweka dalam menghadapi persoalan-persoalan kehidupan. Pencapaian kecerdasan seseorang, sampai pada suatu tahap kemampuan menggunakan wiweka dengan baik, juga memerlukan proses pendidikan.

Sedangkan kata kebudayaan, mempunyai arti yang cukup luas, dalam konteks makalah ini diartikan sebagai seluruh sistem tatanan kehidupan dalam masyarakat bangsa. Didalamnya ditekankan perihal pentingnya nilai-nilai kesopanan, pentingnya kehalusan budi bahasa, yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kemajuan kebudayaan sebuah bangsa memerlukan proses pendidikan.  

Berdasarkan kajian tentang makna yang terkandung dalam kata peradaban, maka esensinya adalah kecerdasan, dalam konteks agama Hindu adalah kecerdasan wiweka. Meningkatkan kecerdasan merupakan sebuah proses epistemologi dalam ilmu pengetahuan, untuk mampu memiliki, menguasai, dan mengembangkan, serta mengimplementasikan pengetahuan itu dalam kehidupan. Karena itulah maka peradaban masyarakat modern akan dicirikan oleh masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based Society). 

Ciri peradaban masyarakat modern yang bertumpu pada penguasaan pengetahuan (knowledge based society) berimplikasi pada seluruh sub sistem budaya yang melingkupinya. Dalam bidang ekonomi, masyarakat modern juga menyelenggarakan seluruh proses perekonomiannya berbasiskan pengetahuan (knowledge based economy). Hal itu dapat dimaknai bahwa proses produksi barang maupun jasa di era peradaban modern, tidak lagi berorientasi pada kuantitas produk, melainkan sangat bertumpu pada kualitas dan nilai tambah (value added).

Implikasi selanjutnya ialah, bahwa masyarakat bangsa yang ekonominya bertumpu pada pengetahuan (knowledge based economy), hanya mampu dikelola oleh Sumber Daya Manusia yang berkualitas, yang menguasai dan mampu mengimplementasikan pengetahuan secara baik. Manusia-manusia yang demikian tidak saja disebut sebagai sarjana, tetapi juga disebut sebagai sarjana yang sujana. Karena itu persaingan mendasar dibidang ketenagakerjaan dalam membangun peradaban ialah meningkatkan tenaga kerja yang berbasis pengetahuan (knowledge based worker).

Dalam perspektif Agama Hindu, memiliki pengetahuan dan mengimplementasikan dalam kehidupan, selain dapat bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, dan bangsa dalam konteks membangun peradaban, juga dimaknai sebagai persembahan kepada Sang pemilik sekaligus sumber dari pengetahuan itu. Jika dikaji menggunakan teori hermeneutika maka teks yang ada sejak peradaban Veda tersebut, telah menjelaskan kepada umat manusia bahwa jalan pengetahuan merupakan tahapan tertinggi, dari setiap tahapan kemajuan peradaban.

Dalam Bhagawad Gita ditegaskan bahwa persembahan berupa ilmu pengetahuan lebih mulia daripada persembahan materi. Dalam keseluruhannya semua kerja ini, akan mendapatkan apa yang diinginkan dalam ilmu pengetahuan.[4]

 

III.         Peran Pendidikan Dalam Membangun Peradaban

Kelemahan mendasar bagi negara-negara berkembang dalam memenangkan persaingan ialah pada aspek sumber daya manusia yang belum  mampu menguasai pengetahuan di segala bidang. Dengan kata lain tidak tersedianya tenaga kerja berbasis pengetahuan (knowledge based worker) disegala bidang atau sektor-sektor ekonomi. Sebagai sebuah ilustrasi negara kita merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Namun sumber daya alam yang penting dan strategis tidak mampu terkelola oleh SDM yang berkualitas. Karena itulah pada sektor-sektor tertentu masih sangat bergantung pada SDM dari negara-negara asing.

Pendidikan dalam arti luas menjadi isu strategis, dalam menjawab segala persoalan berkaitan dengan pembangunan peradaban yang lebih manusiawi, santun dan cerdas.

Peran utama pendidikan ialah sebagai instrumen sekaligus pelaku untuk perubahan mind set dalam istilah populer kekinian disebut revolusi mental. Jika arah kebijakan bertumpu pada mutu sebagai orientasi pendidikan, maka seluruh stake holder harus memiliki mind set yang sama, untuk mengubah orientasi pendidikannya ke arah mutu.

Selain itu pendidikan juga berperanan sebagai pusat pembudayaan nilai-nilai. Nilai-nilai penting yang perlu dibudayakan ialah nilai kejujuran, nilai disiplin, nilai sopan santun, nilai keadilan, nilai empati, dan nilai-nilai kearifan lainnya. Tulisan pada makalah ini hanya menegaskan bahwa peran pendidikan sangat penting dalam membangun peradaban melalui pembudayaan nilai.

Pendidikan juga harus berperanan sebagai pembebasan. Dalam konteks sosial ternyata manusia memerlukan instrumen pendidikan sebagai pembebasan. Pembebasan dari kebodohan menjadi konsep utamanya. Konsep utama ini yang berupa kebodohan umat manusia, mempunyai relasi yang sangat lekat dengan kemiskinan, kemiskinan bisa bermuara kembali kepada kebodohan, membentuk lingkaran yang oleh Bourdieu disebut sebagai pembenaran dari teori reproduksi kelas. Kelas anak-anak pinggiran yang bodoh dan miskin, senantiasa berada pada kelas marginal, dan pada konteks reproduksi maka kelas marginal dapat dipastikan akan mewariskan hak istimewanya kepada generasi berikutnya. [5]

Untuk memutus mata rantai reproduksi kelas marginal yang identik dengan kemiskinan dan kebodohan, maka diperlukan pendidikan. Oleh Pulo Preire disebut dengan pendidikan kaum tertindas.[6]

 

IV.Penutup

Secara teoretis tetap masih disepakati bahwa, pendidikan tetap mampu memainkan peranan utamanya dalam membangun peradaban umat manusia. Negara-negara dengan peradaban yang maju, cenderung memiliki pendidikan yang maju, demikian sebaliknya. Bahkan lebih luas dapat disimpulkan bahwa negara dengan pendidikan yang maju, meniscayakan masyakatnya terbebaskan dari kemiskinan, paling tidak dari kebodohan.

Melalui telaah sastra dalam Agama Hindu, meskipun disadari dalam makalah ini tidak mendalam, namun tetap dapat dimaknai bahwa peradaban Veda telah mewariskan konsep yang secara implisit dan eksplisit menjelaskan arti pentingnya pengetahuan untuk kemajuan peradaban. Perlu ketekunan kita untuk mengkaji kembali secara serius untuk membangun konsep-konsep penting dari peninggalan kearifan Veda, untuk direproduksi menjadi pengetahuan modern.

 

V.Daftar Bacaan

1.  Joy A. Palmer, 50 Pemikir Paling Berpengaruh Terhadap Dunia Pendidikan Modern, (Jakarta, Laksana: 2010), h. 25

2.  I Gusti Agung Oka, Slokantara (Jakarta, Hanuman Sakti: 1993), h. 120

3.  Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta,Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia: 1988), h.5

4.  Gde Pudja, Bhagawad Gita, (Surabaya, Paramita: 2004), h. 126

5.  Pierre Bourdieu, Habitus Modal dan Ranah (Bandung: Jalasutra, 2009).

6.  Paulo Preire, Pendidikan Kaum Tertindas (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2008).

 

 

m Tertindas (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2008).

Read 3773 times